REMBANG – KH Baidlowi Lasem diusulkan sebagai pahlawan nasional oleh Karang Taruna Kabupaten Rembang.
Ini dikarenakan KH Baidlowi Lasem punya keteladanan. Baik bagi beserta kaum santri maupun masyarakat umum.
Juga karena jadi sesepuh Rembang. Di samping itu juga menjadi gurunya KH Ahmad Mustofa Bisri.
Baca Juga: Dilanda Kebingungan? Lakukanlah 10 Hukum Kebaikan Ini agar Hidup Anda Jadi Bahagia dan Bermakna
”Pertimbangan kami ajukan penganurgarahan gelar pahlawan nasional karena sesepuh Rembang yang juga gurunya KH Ahmad Mustofa Bisri. Sosok beliau (KH Baidlowi) layak untuk menjadi pahlawan nasional,” ujar Ketua Karang Taruna Kabupaten Rembang Ahmad Rif’an.
Menurut Rif’an, latar belakang kondisi saat ini daerah butuh sosok keteladanan.
Lanjut Rif'an, penganugerahan gelar pahlawan KH Baidlowi awalnya kepada bupati, sebagaimana aturan dari Kementerian Sosial pada awal tahun 2023.
"Proses selanjutnya jangan sampai terhenti. Kami kawal terus. Masalah prosesnya lama tiga sampai lima tahun nggak masalah. Yang penting proses sudah berjalan,” imbuhnya.
Baca Juga: Ke Mana Relokasi Warga Lima Desa di Blora Terdampak Proyek Bendung Gerak Karangnongko?
Saat ini Karang Taruna sedang menanyakan tindak lanjut tentang usulan gelar pahlawan nasional untuk KH Baidlowi Lasem. Terutama dalam pemenuhan peryaratan.
Sementara itu Perwakilan Karangtaruna Rembang Kurnia Anita mengatakan, mewakili organisasi sosial kemasyarakat menyatakan usulan telah disampaikan kepada Pemkab Rembang melalui Dinas Sosial, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinsos PPKB).
”Terutama dalam pemenuhan persyaratan, seperti penyelenggaran seminar dan semacamnya terkait beliau,” ujarnya.
Sedangkan Kepala Dinsos PPKB Rembang Prapto Raharjo membenarkan adanya usulan gelar pahlawan untuk KH Baidlowi Lasem dari Karang Taruna.
”Baru proses pengumpulan data-data pendukung secara pelengkap. Juga baru diusulkan ke gubernur. Kemudian ada kajian tim ahli. Artinya tidak stagnan,” ujarnya.
Lantas, seperti apa sosok KH Baidlowi Lasem?
Mengutip nuonline, Kiai Baidlowi lahir di Lasem, Rembang Jawa Tengah (Jateng) pada 12 Syawal 1297 H atau 17 September 1880.
Ia merupakan keturunan Sayyid Abdurrahman atau dikenal Mbah Syambu Lasem.
Nasab beliau yakni Kiai Baidlowi bin Kiai Abdul Aziz bin Kiai Baidlowi bin Kiai Abdul Latif bin Kiai Abdul Bar bin Kiai Abdul Alim bin Sayyid Abdurrahman (Mbah Syambu) bin Sultan Benowo bin Jaka Tingkir.
Semenjak sang ayah meninggal dunia ketika usia Kiai Baidlowi masih tergolong remaja, ia memutuskan melakukan pengembaraan ilmu ke berbagai pesantren di Nusantara.
Setelah belajar ke banyak pesantren, Kiai Baidlowi melanjutkan perjalanan intelektualnya ke Haramain.
Di Makkah ia berguru kepada ulama-ulama besar Haramain.
Selain itu beliau juga berguru kepada ulama Nusantara seperti Syekh Mahfudz al-Turmusi, Syekh Umar Syatha, Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, dan lain-lain.
Sejak di Haramain, Kiai Baidlowi Sudah dikenal kealimannya. Karena itu, ia dengan cepat diangkat sebagai ulama yang berwenang untuk mengajar di Masjidil Haram.
Salah satu santri didikannya adalah Syaikh Yasin bin Isa al-Fadani.
Bahkan karena kiprahnya yang menonjol di Tanah Haramain beliau masuk dalam kitab ‘Alamul al-Makkiyin karya Syaikh Abdallah Abdurrahman, sebuah kitab yang menghimpun ulama-ulama besar Makkah.
Tak banyak masyarakat Indonesia yang mengetahui tentang kiprah ulama-ulama Nusantara di Makkah atau Haramain.
Padahal begitu banyak ulama Nusantara yang mendunia karena keluasan ilmunya, bahkan menjadi guru utama di Masjidil Haram.
Salah satu di antara ulama-ulama itu adalah Kiai Baidlowi Lasem. Beliau dijuluki Alamu al-Makkiyin, ulama besar Tanah Haramain.
Namun demikian, sejak konflik Turki-Arab terjadi berkepanjangan di Haramain, Kiai Baidlowi harus kembali ke Tanah Air.
Kedatangannya disambut gembira oleh ulama dan masyarakat. Ia menjadi harapan perjuangan dakwah Islam, terutama melalui Pesantren al-Wahdah Lasem.
Sejak kedatangannya, banyak santri berdatangan menimba ilmu di pesantren al-Wahdah. Sosoknya yang alim menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat.
Selain kiprahnya dalam dakwah Islam, Kiai Baidlowi juga berperan dalam kemelut kenegeraan dan kebangsaan.
Bahkan beliau adalah sosok yang pertama kali melegitimasi kepemimpinan Bung Karno.
Ketika Bung Karno ditetapkan sebagai presiden pertama Republik Indonesia, sebagian kelompok Islam tidak setuju.
Tarik ulur silih berganti antarsesama ulama mengenai hujjah atas status Bung Karno.
Setelah perdebatan tak menemukan titik temu alias deadlock, Kiai Wahab Chasbullah meminta saran Kiai Baidlowi.
Di hadapan para ulama, Kiai Baidlowi mengatakan, “Soekarno Huwal Waliyyul Amri Al-Dioruri Bisy Syaukah" (Soekarno, dia adalah Presiden RI yang sah karena darurat).
Dari legitimasi hukum yang keluar dari pernyataan Kiai Baidlowi, ulama-ulama besar seperti Kiai Hasyim Asy’ari, Kiai Wahab Chasbullah, Kiai Bisyri Syansuri dan sederetan kia-kiai NU akhirnya sepakat dengan pendapat Kiai Baidlowi.
Di antara santri-santrinya yang menjadi ulama besar adalah Kiai Khudlori Tegalrejo Magelang, Kiai Maimoen Zubair Sarang, Kiai Asrori Magelang, Kiai Sahlan Temanggung, Kiai Dahlan, Kiai Hafidz Rembang, Kiai Hasyim Purworejo, Kiai Wahib Wahab Hasbullah Jombang, dan Kiai Dimyati Banten (Abuya Dimyathi). (noe)
Editor : Ali Mustofa