REMBANG - Penyelesaian rush money atau pengambilan uang besar-besaran di BMT Harum membutuhkan proses.
Sebab, saat ini juga terjadi permasalahan kredit yang macet.
Diperkirakan ada sekitar 50 persen yang mengalami pembiayaan macet.
Diberitakan Jawa Pos Radar Kudus sebelumnya, para anggota BMT Harum kini tengah menarik tabungan mereka secara masif.
Sehingga membuat alur kas di lembaga keuangan itu terdampak.
Selain itu, juga ada permasalahan pembiayaan yang macet.
Akibatnya likuiditas juga tidak stabil.
Baca Juga: Soal Sulitnya Pencairan Dana Nasabah di BMT Harum dan BUS Rembang, Begini Kata Bupati
Meski demikian, BMT Harum tetap memberikan pelayanan pencairan meski secara bertahap.
Terkait dengan hal itu Kuasa Hukum BMT Harum Ahmad Nur Qodin menyampaikan, saat ini kondisi kas sedang terbatas karena penarikan masif dari para nasabah.
Kas tersebut, kata dia, disalurkan dalam bentuk pembiayaan atau pinjaman. Namun dalam praktiknya ditemui adanya kredit macet.
”Kabeh pembiayaan itu gunakno jaminan atau agunan,” katanya.
Dalam proses eksekusi terhadap agunan tersebut, kata Qodin, juga membutuhkan waktu.
Menurutnya tidak akan bisa diselesaikan dalam waktu satu bulan atau sampai tiga bulan.
Sebab, harus ada sejumlah tahapan yang perlu dilalui.
"Eksekusi terhadap agunan ini tentunya memakan waktu. Tidak bisa dapat diselesaikan satu, dua bulan bahkan tiga bulan tidak bisa," katanya.
Baca Juga: Soal Lonjakan Kasus Demam Berdarah di Rembang, Begini Kata Dinas
Dia menjelaskan, apabila agunan tersebut dalam bentuk sertifikat dan terpasang hak tanggungan harus diproses melalui lelang di Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) atau melalui pengadilan agama.
”Itu membutuhkan waktu. Tidak bisa dalam waktu seketika untuk mendapatkan uang tersebut. Kecuali BMT ini kondisi tidak mengalami rush, tentunya cash flow ini berjalan normal," jelasnya.
Baca Juga: Viral! Video Kades dan Perangkat Desa di Rembang Beri Dukungan kepada Jokowi, Begini Respon Bawaslu
Kondisi penarikan nasabah yang masif itu mengakibatkan alur kas tidak normal. Karena jumlah penarikan simpanan ini tidak sebanding dengan jumlah angsuran.
"Ini tidak sebanding, itu yang disebut likuiditas. Kami perlu adanya dana likuid, ini harus diselesaikan," jelasnya.
Saat ini, pihak BMT Harum sedang mempersiapkan berbagai opsi solusi.
Di antaranya dengan menjual aset, penanganan pembiayaan, hingga efisiensi.
Salah satu anggota BMT itu yang enggan disebutkan namanya mengaku memiliki simpanan sekitar Rp 20 juta.
Setiap sepekan sekali ia mendatangi kantor BMT Harum untuk mencairkan simpanannya.
Meskipun dalam sekali pencairan terkadang diberi Rp 150 ribu atau Rp 200 ribu. Dia memilih telaten ambil yang penting uangnya bisa cair.
"Setiap Selasa (mengambil simpanan), dulunya dapat Rp 200 ribu. Sekarang memang lebih butuh tenaga untuk mengambilnya," katanya. (vah/zen)
Editor : Abdul Rokhim