REMBANG - Isu rush money diklaim tidak memberikan dampak kepada koperasi maupun Baitul Mal wa Tamwil (BMT) lain.
Meski demikian, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Rembang tetap terus melakukan pengawasan.
Di Rembang, saat ini mencuat adanya dua BMT yang terhantam gelombang rush money atau penarikan simpanan anggota secara masif.
Yakni pada BMT Bina Ummat Sejahtera (BUS) dan BMT Harum.
Baca Juga: Update Polemik BMT Harum Rembang dengan Nasabah : Masalah Hukum Diupayakan Restorative Justice
Informasi yang diterima Jawa Pos Radar Kudus, di BMT BUS total kebutuhan untuk menutup rush mencapai sekitar Rp 100 miliar.
Sementara, di BMT Harum masih melakukan perhitungan sebab angkanya masih bersifat dinamis.
Pihak BMT Harum mengklaim, kondisi rush ini dipengaruhi oleh kejadian-kejadian sebelumnya yang juga menimpa koperasi lain.
Sementara, terkait kondisi koperasi di Kabupaten Rembang setelah adanya kabar rush ini, Kepala Bidang (Kabid) Koperasi Dinas Perdagangan Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Dindagkop UKM) Rembang Setyo Budi Utomo menilai saat ini tidak berpengaruh di koperasi lain non BMT.
Ia berharap situasi ini tetap kondusif. Meski demikian pihaknya akan terus melakukan pengawasan.
Baca Juga: Petani Sumringah! Nilai Jual Tembakau di Rembang Tembus Setengah Trilyun, Bisa Nabung Hingga Rp 100 Juta
Berdasarkan data, total koperasi di Rembang ada 198 koperasi aktif. Beberapa waktu lalu pihaknya juga menemukan adanya 34 koperasi yang diduga "fiktif".
Artinya lembaga-lembaga keuangan tersebut terdaftar di database Kemenkop namun setelah diverifikasi di lapangan, tidak ditemukan kantor dan aktivitas.
Sementara, untuk kondisi BMT, menurutnya untuk BMT berbadan hukum kabupaten saat ini juga terkendali.
Pihaknya mengedepankan pengawasan BMT yang berbadan hukum kabupaten.
Untuk yang berbadan hukum provinsi seperti BMT Harum dan Nasional seperti BMT BUS pihaknya hanya bersifat membantu.
Menurutnya ,saat ini kedua BMT yang terkena gelombang rush money itu sudah menempuh beberapa solusi.
Untuk BMT BUS, saat ini sudah mulai melakukan penjualan aset.
"Dan kerja sama dengan pihak ketiga," katanya.
Baca Juga: 18 Desa di Rembang Siap Ramaikan Event “Kenduren”, Ini Jadwalnya
Sementara untuk BMT Harum, sejauh ini selalu berkoordinasi dengan dinas.
Lembaga keuangan yang berkantor pusat di Rembang Kota itu juga sudah berencana menjual aset untuk menangani rush.
Pihaknya optimistis masalah ini bisa terselesaikan.
Setiap progresnya, kata Budi, BMT Harum selalu berkomunikasi dengan dinas.
"Ini mereka melaksanakan pendataan aset-aset. Kami optimistis untuk membantu," jelasnya. (vah/ali)
Editor : Abdul Rokhim