Salah satunya Hariyo Nugroho, pedagang hiasan dinding dari kerang. Ia mengaku jualan sejak Sabtu (22/4). Ia mengambil momen. Kebiasan hari pertama taman sudah mulai ramai dikunjungi masyarakat. ”Ambil kesempatan saat Lebaran,” kata warga kelurahan Magersari Rembang.
Hariyo menjual aneka produk asbak dari kulit kerang asli. Lalu cermin, tempat tisu sama-sama ditempeli kerang. Ada juga mainan anak-anak, merak, dan kalkun. Selain hiasan dinding untuk pajangan di rumah.
Barang-barang dagangan dijual paling sekitar Rp 150 ribu, ukuran tanggung Rp 80 ribu untuk jenis asbak. Paling murah mainan anak-anak. Seperti landak dan kura-kura di banderol hanya Rp 10 ribu.
”Lumayan. Tidak seperti tahun-tahun sebelunya sebelum korona. Saya buka pukul 08.00 sampai 17.00,” pengakuanya.
Berang-barang yang dibawa pedagang musiman itu sudah mulai laku. Selama dua hari, sampai siang sudah laku 30 item. Pembelinya warga lokal dan wisatawan. Dirinya berharap hingga syawalan tetap ramai dan cuaca mendukung. Biasanya ramai saat syawalan.
Petugas THL bagian pos penjagaan Taman Kartini, Markamat melaporkan hari pertama yang berkunjung masih hitungan orang. 1-2 orang. Banyak gratis. Digunakan pedagang yang mulai kemas-kemas jualan dalam rangka syawalan.
”Kami tidak bisa menarik retribusi. Banyak pedagang. Hanya dapat sebagian. Kami masih toleransi, sebab pedagang. Untuk pengunjung tetap kita tarik sesuai perintah pimpinan,” katanya kepada Jawa Pos Radar Kudus.
Untuk harga karcis naik. Biasanya biasa Rp 3 ribu, weekend Rp 3,5 ribu, khusus syawalan Rp 4 ribu per kepala. Itupun ada toleransi untuk anak kecil masih digendong tidak ditarik. Di hari pertama baru dua bandel, satu bandel isinya 100. Jika diuangkan Rp 400 ribu.
Hari pertama perolehan retribusi masuk Rp 760 ribu. Dimungkinkan hari kedua angka terus bertambah signifikan. Diprediksi puncaknya saat kupatan Sabtu (29/4). Setelah itu pengunjung akan mulai berkurang.
”Kita hari yang sama langsung setor. Tidak ada yang namanya di petugas. Antisipasi. Kami juga takut pegang uang. Khawatir dirampok. Demi keamanan,” imbuhnya. (noe/war) Editor : Abdul Rokhim