Sekitar pukul 09.00 sejumlah warga sudah berkumpul di dermaga. Sejumlah kapal juga sudah bersiap untuk pergi ke tengah laut. Larung sesaji sendiri merupakan tradisi tahunan yang rutin dilaksankan setiap Suro. Warga membawa makanan, seperti nasi, ayam, dan buah-buahan.
Untuk sesajinya diletakkan di perahu mini berukuran sekitar satu meter. Beberapa saat kemudian, perahu-perahu sungguhan pun mulai berjalan. Ada sekitar seratusan perahu nelayan yang ikut mengarak prosesi larung sesaji.
Para nelayan memacu perahu mereka. Sekitar 20 menit sampailah di sekitar Pulau Masaran. Di situ sesaji yang berada di kapal mini dilepas.
Urip, salah satu warga yang mengikuti larung sesaji menjelaskan, Pulau Masaran memiliki cerita bahwa dulunya di sekitarnya ada jangkar emas. ”Terus dinamakan karang Masaran,” ujarnya.
Ia menunjukkan lokasi karang tersebut. Hanya, tak terlihat karena di bawah permukaan laut. ”Tiap tahun (dilaksanakan larung sesaji), khususnya saat Suro di Desa Gegunung Wetan,” ujarnya.
Kartono, ketua panitia kegiatan menjelaskan, larung sesaji ini sudah menjadi warisan leluhur. Sekaligus untuk menunjukkan rasa syukur nelayan. Mengingat mayoritas warga di sini setiap hari mencari nafkah di laut. Yang dilarung ada kepala kambing juga.
”Perkiraan perahu (yang ikut larung sesaji) ada seratusan. Kalau jumlah perahu yang ada di Desa Gegunung Wetan sekitar 170 perahu,” ujarnya.
Selain larung sesaji, juga ada kegiatan lain yang digelar di desa. Seperti karnaval budaya, turnamen futsal, dan pergelaran wayang kulit. Acara sedekah laut tahun ini, diperkirakan menelan biaya sekitar Rp 140 juta. Dana bersumber dari swadaya masyarakat dan dari donatur. (vah/lin) Editor : Ali Mustofa