Ya, selama ini di Rembang memang terkenal dengan kopi lelet. Namun, keberadaannya merupakan olahan. Belum ada produk biji kopi asli yang tumbuh dari perkebunan yang ada di Rembang.
Wakil Bupati Rembang Muhammad Hanies Cholil Barro menyampaikan, selain kopi lelet, di Woro, Kecamatan Kragan saat ini sudah ada produk kopi robusta. Yang tumbuh di area perkebunan desa tersebut. Namun menurut Hanies, saat ini Rembang masih memerlukan lebih banyak kebun yang dijadikan ladang kopi.
"Memang yang paling memungkinkan jenis robusta. Yang tumbuh ditanam di Rembang," katanya. Sebab, di cuaca yang panas dinilai sulit untuk ditanami jenis arabika.
Kepala Dinindagkop UMKM Rembang Akhsanudin menyampaikan, terkait sebaran petani kopi di Rembang sudah menyebar di beberapa kecamatan. Seperti di Kragan, Sedan, Gunem, dan Sale. "Bersama dinas pertanian nanti kami dorong terus," ujarnya.
Di sisi lain, berkaitan Hak Kekayaan Intelektual (HaKI) atas Kopi Lelet yang diklaim merupakan khas Rembang, Akhsanudin menjelaskan, untuk mendapatkan Hak Kekayaan Intelektual, perlu menyiapkan banyak hal.
"Kami berjuang untuk batik saja ada 21 yang dipatenkan," katanya. Saat ini, lanjut dia, di Rembang sudah ada paguyuban kopi. Selanjutnya pihaknyabqkqn melakukan pembinaan klaster.
Hanies sendiri berkomitmen akan mengawal upaya untuk memperoleh hak kekayaan intelektual. "Ini kopi asli racikan orang Rembang," katanya. (ali) Editor : Ali Mustofa