Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Jarang Orang Tahu! Inilah Empat Langkah Mengenal Diri Sendiri yang Perlu Diamalkan

Ali Mustofa • Rabu, 3 April 2024 | 22:39 WIB
Photo
Photo

KUDUS - Mengenali diri sendiri merupakan salah satu jalan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Mengenal diri sendiri salah satu kegiatan yang sangat dianjurkan dalam agama Islam.

Meski begitu mengenal diri sendiri tak semudah yang dibayangkan.

Sejatinya, yang paling mengenal diri manusia adalah Allah SWT.

Ketika seseorang tidak mengenal dirinya, bagaimana mungkin ia bisa mengenal Tuhannya.

Begitu sebaliknya, ketika seseorang tidak mengenal Allah SWT, dia sendiri juga tidak akan tahu tentang dirinya.

Seperti ungkapan "Man 'arafa nafsahu, faqad arafa Rabbahu." Artinya: siapa yang mengenal dirinya, ia mengenal Tuhannya.

Logikanya sederhana. Diri sendiri adalah hal yang paling dekat dengan kita.

Bila kita tidak mengenal diri sendiri, lantas bagaimana mungkin kita bisa mengenali Allah?

Akan tetapi untuk mengenal Allah SWT, seseorang harus mencarinya terlebih lagi mencari siapa dirinya.

Oleh karena itu, sebagai seorang hamba diharuskan untuk memohon kepada Allah SWT agar dimudahkan dalam proses pengenalan diri sendiri terlebih dahulu.

Sebagaimana Allah berfirman dalam Surah Al-fatehah: 5-7.

“Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus. (Yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.”

Lantas, bagaimana cara mengenali diri sendiri sebelum mengenal Allah SWT? Berikut ini empat cara yang perlu kita diketahui.

1. Muhasabah/Introspeksi

Cara mengenali diri sendiri sebelum mengenal Allah SWT adalah dengan introspeksi. Sudah menjadi suatu kewajiban bagi manusia untuk selalu mengintrospeksi diri.

Muhasabah diri termasuk salah satu kebiasaan yang mulia dalam Islam. Apa itu muhasabah diri?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), muhasabah diri artinya introspeksi. 

Muhasabah diri artinya peninjauan atau koreksi terhadap perbuatan, sikap, kelemahan, kesalahan, dari diri sendiri.

Muhasabah adalah salah satu cara membersihkan diri dari kesalahan-kesalahan yang pernah dibuat, yaitu sebuah proses mengevaluasi diri untuk sesuatu yang lebih baik.

Jika kita mau merenung, sebenarnya ketika manusia diciptakan, Tuhan pasti tidak akan membiarkan hamba-Nya hidup dalam kesengsaraan dan penderitaan.

Maka dari itulah Tuhan membekali manusia dengan segenap potensi yang ada dalam dirinya.

Potensi itu meliputi: Potensi Fisik (Jasmani), Potensi Mental Intelektual (Intelectual Quotient/IQ), Potensi Sosial Emosional (Emotional Quotient/EQ), Potensi Ruhani/Mental Spiritual (Spiritual Quotient/SQ), dan Potensi Mental Ketangguhan/Daya Juang (Adversity Quotient/AQ).

Lalu pertanyaannya, kenapa manusia diciptakan Tuhan di muka bumi ini? Untuk menjawab pertanyaan tersebut perlu analogi (perumpamaan).

Sebagaimana kita ketahui, sendok dan garpu diciptakan untuk memudahkan kita makan.

Sepatu diciptakan untuk alas kaki untuk melindungi kaki kita saat kita berjalan.

Sepeda, mobil, motor, dan kapal pesawat terbang, semuanya diciptakan sebagai alat transportasi.

Alat-alat itu diciptakan oleh manusia karena memiliki sebuah tujuan.

Demikian juga Tuhan menciptakan kita manusia. Tidak mungkin kita diciptakan hanya untuk sekedar minum kopi di dunia ini.

Oleh karena itu kita harus tahu kenapa kita itu ada dan diadakan.

Saat kita tidak tahu tujuan hidup, kita akan mengalami Kebingungan.

Hal ini sama seperti kalau kita mau pergi untuk makan tetapi tidak memiliki tujuan, mau makan apa dan di mana?

Maka kita akan hanya mengendarai mobil atau motor dan hanya berputar-putar menghabiskan waktu, tenaga, bahan bakar dan akhirnya tidak jadi makan.

Sebenarnya kita bisa lahir di dunia ini karena sebuah tujuan dari Tuhan.

Sebagaimana Allah telah berfirman di dalam Al-Qur’an surat Al-Haysr: 18.

"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan."

2. Kenali Diri secara Lahir Batin

Ada suatu pertanyaan, manusia itu sebenarnya siapa?

Para ahli dari berbagai disiplin ilmu pengetahuan telah mengemukakan jawaban yang berbeda tentang makna atau hakekat manusia. 

Ada yang mengatakan bahwa manusia adalah hewan yang berfikir, makhluk sosial (zoon politicon), makhluk budaya (homo sapiens), ada juga yang mengatakan bahwa manusia itu makhluk biologis dan ekonomis.

Sebagaimana kita tahu, bahwa manusia adalah makhluk pilihan yang dimuliakan oleh Allah dari makhluk ciptaan-Nya yang lainnya.

Islam menjelaskan bahwa Allah SWT menciptakan manusia berasal dari tanah, kemudian menjadi nutfah, alaqah, dan mudgah sehingga akhirnya menjadi makhluk Allah SWT yang paling sempurna dan memiliki berbagai kemampuan.

“Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari saripati tanah. Kemudian Kami menjadikannya air mani (yang tersimpan) dalam tempat yang kukuh (rahim). Kemudian, air mani itu Kami jadikan sesuatu yang melekat, lalu dari yang melekat itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang-belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian, Kami menjadikannya makhluk yang berbentuk lain. Maha Suci Allah, Pencipta yang paling baik.” (QS. Al-Mu’minun: 12 -14).

Sementara itu ada beberapa penyebutan manusia di dalam Al-Qur’an.

Yaitu: Basyar (manusia sebagai makhluk biologis), Al-Nas (manusia sebagai makhluk sosial), Al-Insan (manusia sebagai khalifah atau pemikul amanah), dan Bani Adam (manusia adalah keturunan Nabi Adam).

Pilihan kalimat Al-Qur’an dalam menyebut manusia dengan beragam istilah di atas, tentu memiliki maksud dan tujuan dari Allah Dzat Yang Maha Pencipta.

Oleh karena itu ada cara atau langkah untuk mengenali diri sendiri sebelum mengenal Allah SWT, yaitu dengan mengenali diri secara lahir (zahir) dan batin.

Gampangnya begini. Struktur manusia bisa diibaratkan sebuah komputer. Struktur manusia terdiri atas badan (wadah), jiwa, dan ruh.

Dalam istilah komputer, badan dibaratkan hardware alias perangkat keras. Manusia juga demikian.

Bahan dasar tubuhnya dipilihkan Allah dari berbagai unsur yang ada di dalam tanah bumi, kemudian disusun menjadi tubuh manusia. 

Ada tulangnya, ada ototnya, ada daging, darah, saraf, jantung dan berbagai organ dalam, serta otak dan susunan saraf.

Kemudian Jiwa diibaratkan software alias perangkat lunak dalam istilah komputer.

Kalau mother-board dan berbagai komponennya sudah memadai, maka software yang dimasukan ke dalamnya pun bisa bagus.

Sebaliknya jika ’terlalu bagus’ software-nya, komputer itu pun bakalan hang. Mogok.

Lalu, bagaimana dengan ruh?

Ruh adalah aktor yang berada di balik hidup-tidaknya seorang manusia. Mirip dengan listrik yang menghidupi komputer.

Dimana pun kita colokkan kabel listrik komputer, maka komputer itu bisa hidup. Tentu saja asal spec listriknya sesuai.

Kemudian pertanyaan berikutnya, dimanakah ruh ilahiah itu bersemayam di dalam diri kita? Tentu saja bersemayam di seluruh penjuru tubuh kita.

Mulai dari rambut sampai ujung kuku jari kaki. Mulai dari sel-sel sebagai unit terkecil kehidupan sampai pada jaringan sel, organ dan tubuh secara keseluruhan.

Karena itu, rambut kita hidup, mata kita hidup, mulut kita hidup, seluruh organ, jaringan dan sel-sel, semuanya hidup.

Itu karena dilingkupi oleh sifat Maha Hidup Allah yang telah ditularkan lewat sebagian ruh-Nya yang telah ditiupkan ke dalam diri kita.

Dan akan mati, ketika sudah ditinggal oleh ruh yang menghidupinya.

Ini mirip dengan komputer yang kehabisan listrik karena colokannya dicabut, atau baterainya telah drop.

Sementara itu, menurut pandangan tasawuf, jasad manusia hanyalah alat, perkakas atau kendaraan bagi rohani dalam melakukan aktivitasnya.

Manusia pada hakikatnya bukanlah jasad lahir yang diciptakan dari unsur-unsur materi, akan tetapi rohani yang berada dalam dirinya yang selalu mempergunakan tugasnya.

Dalam ilmu tasawuf, telah diajarkan bahwa sebelum mengenal Allah SWT kita harus mengenali diri kita sendiri terlebih dahulu.

Salah satu caranya adalah melihat ke dalam kalbu. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Az-Zariat ayat 21.

“Dan di dalam diri kamu apakah kamu tidak memperhatikannya."

Qolbu menurut ahli tasawuf atau dalam dunia sufi diartikan sebagai sebuah latifah, kelembutan, titik sensor, dimensi ketuhanan yang tidak mempunyai bentuk fisik. 

Lathifah artinya adalah kehalusan. Maksudnya adalah titik sensitivitas di dalam diri (ruh) kita. Titik inilah yang menyerap nur dzikrullah secara optimal di dalam diri kita.

Latifah adalah tempat bersarangnya hawa nafsu pada tubuh manusia yang harus dibersihkan dengan Asma Allah.

Lathifah ini termasuk juga titik-titik yang menjadi tempat “godaan setan” sesuai firman Allah dalam Surat Al-A’raf: 17.

“Kemudian pasti aku akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.”

Ada tujuh lathifah dalam dalam tasawuf. Yaitu Lathifah Khalab/kullu jasad, yaitu halusnya seluruh badan, letaknya di ubun-ubun.

Lathifah Nafs, yaitu halusnya utek, letaknya di kening. Lathifah Qolb, yaitu halusnya hati, letaknya di susu kiri bawah.

Lathifah Ruh, yaitu halusnya ruh, letaknya di susu kanan bawah. Lathifah Sirr, yaitu halusnya rasa, letaknya di susu kiri atas.

Lathifah Khofi, yaitu halusnya barang yang samar, letaknya di susu kanan atas.

Kemudian Lathifah Akhfa, yaitu halusnya barang yang lebih samar, letaknya di tengah dada.

Rasulullah SAW juga menegaskan tentang sesuatu dalam batin manusia yang harus dilihat dengan baik untuk mengenal diri sendiri.

Rasulullah SAW bersabda bahwa Allah berfirman:

"Aku jadikan dalam rongga anak Adam itu mahligai dan dalam mahligai itu ada dada dan dalam dada itu ada hati (qalbu) namanya dan dalam hati (qalbu) ada mata hati (fuad) dan dalam mata hati (fuad) itu ada penutup mata hati (saghaf) dan dibalik penutup mata hati (saghaf) itu ada nur/cahaya (labban), dan di dalam nur/cahaya (labban) ada rahasia (sirr) dan di dalam rahasia (sirr) itulah Aku kata Allah." (Hadis Qudsi).

3. Ingat Tujuan Manusia Diciptakan

Setiap manusia harus mempunyai tujuan hidup dan bisa mengenal dirinya sendiri sebelum mengenal Allah SWT.

Sebagaimana kita tahu bahwa tujuan Allah menciptakan manusia pastinya bukan sebuah kesia-siaan (bukan main-main).

Allah selalu menciptakan makhluknya dengan tujuan yang mulia.

Manusia merupakan makhluk Allah yang diciptakan dalam bentuk yang sebaik-baiknya.

Karena manusia diberi akal dan pikiran untuk berkehendak sendiri.

Jika tujuan Allah menciptakan manusia sudah sangat mulia, bagaimana bisa manusia tidak mau beriman kepada-Nya?

"Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya". (QS. At-Tin: 4).

Oleh karena itu manusia yang tidak punya tujuan hidup bagaikan bepergian tanpa arah dan tujuan. Ia berjalan hanya mengikuti kemauan kaki, tanpa tujuan, target, dan juga arah.

Sederhanya begini: “Ingin menjadi apa” diri kita ini?...  Apa arti hidup itu? Untuk apa kita hidup? Mengapa kita hidup? Bagaimana cara mengisi hidup? Dan bagaimana mempertanggungjawabkan hidup ini untuk kehidupan setelahnya?

Manusia hidup pasti punya impian hidup, yaitu mencari ridho Allah untuk mendapatkan kebahagiaan di dunia dan kebahagiaan di akhirat.

Sudah dijelaskan dalam Al Quran: “Allah tidak menciptakan Jin dan Manusia kecuali beribadah kepada Tuhan".

Untuk itulah, perintah di dalam Al Quran sudah sangat tegas, yakni beribadah kepada Allah SWT.

Cara lain untuk mengenal diri sendiri adalah dengan mengingat kembali bahwa tujuan dari manusia diciptakan adalah untuk beriman kepada Allah Swt.

Manusia diciptakan untuk menjadi khalifah di muka bumi untuk beribadah kepada Allah, sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Baqarah: 30-33.

“Allah berfirman: Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di muka bumi." Mereka berkata: "Apakah Engkau hendak menjadikan di bumi itu siapa yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Allah berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak Engkau ketahui." 

Dia mengajar kepada Adam nama-nama seluruhnya, kemudian memaparkannya kepada para malaikat, lalu berfirman: "Sebutkanlah kepadaKu nama-nama benda itu, jika kamu ‘orang-orang’ yang benar."

Mereka berkata: "Maha suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang Engkau ajarkan kepada kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana."

Allah berfirman: "Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini!" Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman: "Bukankah sudah Aku katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan kamu sembunyikan?" (Al-Baqarah/2: 30-33).

4. Bersyukur

Rasa syukur membantu kita menyadari kekinian dengan memikirkan apa yang membuat kita bersyukur dan bagaimana pengaruhnya terhadap kehidupan kita sekarang ini.

Bersyukur juga mengingatkan kita pada kebaikan atau keberkahan yang kita terima selama ini.

Orang yang selalu bersyukur artinya mereka memahami bahwa segala sesuatu yang dimilikinya berasal dari Allah SWT.

Sebab, bersyukur merupakan tindakan berterima kasih kepada Allah SWT atas nikmat yang diberikan kepadanya.

“Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia.” (QS. An-Naml: 40). (top)

 

Editor : Ali Mustofa
#Introspeksi #jiwa #Ruh #potensi #jasad #islam #bersyukur #komputer #Kenali Diri #allah #muhasabah #Kudus #manusia #tasawuf #mengenal diri