Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Hari Tasyrik Setelah Iduladha: Ini Makna, Larangan, dan Amalan yang Sering Terlewat

Mahendra Aditya Restiawan • Rabu, 6 Mei 2026 | 17:29 WIB
Ilustrasi hari Tasyrik
Ilustrasi hari Tasyrik

RADAR KUDUS - Hari Tasyrik merupakan tiga hari istimewa dalam kalender Islam yang datang tepat setelah Hari Raya Iduladha. Momen ini berlangsung pada tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah, dan menjadi bagian penting dari rangkaian ibadah kurban yang sering kali belum sepenuhnya dipahami oleh banyak umat Muslim.

Secara sederhana, Hari Tasyrik adalah waktu untuk melanjutkan ibadah kurban, memperbanyak zikir, serta menikmati nikmat yang telah Allah berikan. Di sisi lain, terdapat aturan khusus yang membedakannya dari hari-hari biasa, salah satunya adalah larangan berpuasa.


Asal-Usul Istilah Hari Tasyrik

Kata “Tasyrik” berasal dari bahasa Arab syarraqa, yang memiliki arti “menjemur” atau “menghadap matahari”. Penamaan ini tidak lepas dari kebiasaan masyarakat Arab di masa lalu yang menjemur daging kurban agar tahan lama.

Menurut penjelasan ulama dalam kitab Lisan al-Arab, ada dua alasan utama mengapa hari ini disebut Tasyrik. Pertama, karena tradisi menjemur daging kurban menjadi dendeng untuk pengawetan. Kedua, karena pelaksanaan penyembelihan hewan kurban dilakukan setelah matahari terbit.

Makna ini menunjukkan bahwa Hari Tasyrik bukan hanya soal waktu, tetapi juga berkaitan erat dengan praktik ibadah dan tradisi umat Islam sejak dahulu.


Larangan Puasa di Hari Tasyrik

Salah satu ketentuan penting pada Hari Tasyrik adalah larangan berpuasa. Hal ini didasarkan pada hadis Rasulullah SAW yang menyebutkan bahwa hari-hari tersebut merupakan waktu untuk makan dan minum.

Larangan ini menegaskan bahwa Islam tidak hanya mengatur ibadah spiritual, tetapi juga memberikan ruang bagi umatnya untuk menikmati rezeki, khususnya dari hasil kurban.

Namun, terdapat pengecualian bagi jamaah haji yang tidak mampu menyembelih hewan kurban. Mereka diperbolehkan berpuasa sebagai pengganti.


Hari Raya yang Sarat Makna

Hari Tasyrik juga termasuk bagian dari hari raya umat Islam, bersama Hari Arafah dan Iduladha. Dalam hadis disebutkan bahwa hari-hari ini adalah momen untuk merayakan kebahagiaan, baik secara jasmani maupun rohani.

Karena itu, suasana kebersamaan, berbagi makanan, dan rasa syukur menjadi ciri khas yang sangat kental dalam perayaan ini.


Amalan Utama di Hari Tasyrik

Meski tidak diperbolehkan berpuasa, bukan berarti Hari Tasyrik kehilangan nilai ibadah. Justru, ada beberapa amalan penting yang sangat dianjurkan:

1. Menyembelih Hewan Kurban
Bagi yang belum melaksanakan kurban pada 10 Dzulhijjah, Hari Tasyrik masih menjadi waktu yang sah untuk melakukannya. Ini merupakan bentuk ketaatan kepada Allah sebagaimana diperintahkan dalam Al-Qur’an.

2. Memperbanyak Zikir dan Doa
Umat Islam dianjurkan untuk terus mengingat Allah dengan zikir serta memanjatkan doa. Momen ini menjadi kesempatan untuk mendekatkan diri secara spiritual.


Makna yang Perlu Diresapi

Hari Tasyrik mengajarkan keseimbangan antara ibadah dan rasa syukur. Di satu sisi, umat Islam tetap didorong untuk beramal dan berzikir. Di sisi lain, mereka juga diajak menikmati nikmat makanan sebagai bentuk syukur atas rezeki yang diberikan.

Memahami makna Hari Tasyrik membantu umat Islam menjalani hari-hari setelah Iduladha dengan lebih sadar, tidak hanya sebagai tradisi, tetapi juga sebagai bagian dari ibadah yang penuh nilai.

Editor : Mahendra Aditya
#hari tasyrik #apa itu hari tasyrik #larangan puasa tasyrik #makna hari tasyrik #amalan hari tasyrik