RADAR KUDUS – Setiap orang tentu mendambakan kesuksesan. Namun tidak semua sepakat tentang makna sukses itu sendiri.
Ada yang menilai keberhasilan dari harta, jabatan, pendidikan tinggi, popularitas, hingga pencapaian karier.
Sebagian lainnya memaknai sukses sebagai tercapainya cita-cita hidup.
Semua pandangan itu sah, tetapi Al-Qur’an memberikan ukuran yang jauh lebih dalam tentang hakikat kesuksesan manusia.
Surat Al Ashr hadir sebagai pengingat tegas bahwa manusia pada dasarnya berada dalam kerugian, kecuali mereka yang memenuhi syarat-syarat tertentu.
Surat Al Ashr: Standar Kesuksesan Sejati
Allah SWT berfirman: “Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati dalam kesabaran.” (QS. Al Ashr: 1–3)
Ayat singkat ini merangkum konsep kesuksesan hakiki menurut Islam.
Kesuksesan bukan sekadar prestasi duniawi, tetapi keberhasilan yang mengantarkan manusia kepada ketaatan kepada Allah SWT.
Kesuksesan dunia yang tidak membawa manusia kepada ketaatan justru berpotensi menjadi kerugian besar.
Dalam Surat Al Ashr, Allah bersumpah dengan waktu. Ini menunjukkan betapa berharganya waktu dalam kehidupan manusia.
Orang Barat mengibaratkan waktu sebagai emas.
Orang Arab bahkan menyebut waktu seperti pedang: jika tidak dimanfaatkan, justru akan melukai pemiliknya.
Pesan ini jelas: waktu adalah aset paling mahal yang dimiliki manusia.
Karena itu, waktu harus diisi dengan aktivitas yang bernilai, produktif, dan bermanfaat.
Iman dan Amal: Dua Hal yang Tak Terpisahkan
Kesuksesan menurut Islam tidak cukup dengan iman saja. Iman harus diwujudkan dalam amal saleh.
Allah berfirman dalam Surah Al Baqarah ayat 82: “Orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka adalah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya.”
Begitu pula dalam Surah Al Mu’min ayat 40: “Barang siapa mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka mereka akan masuk surga dan diberi rezeki tanpa hisab.”
Iman tanpa amal ibarat pohon tanpa buah. Sebaliknya, amal tanpa iman tidak memiliki nilai di sisi Allah. Keduanya harus berjalan bersama.
Memahami Makna Amal Saleh
Amal saleh berasal dari kata “saleh” yang berarti baik dan benar. Amal saleh adalah setiap perbuatan baik yang sesuai dengan ajaran Islam dan membawa manfaat.
Amal saleh memiliki dua dimensi besar: Pertama, amal ibadah (hablumminallah).
Amal yang berkaitan dengan hubungan manusia dengan Allah, seperti salat, puasa, zakat, haji, dan menjauhi larangan-Nya.
Kedua, amal jariyah (habluminannas). Amal yang berkaitan dengan hubungan manusia dengan sesama.
Seperti sedekah, menolong orang lain, menghormati sesama, membangun fasilitas umum, hingga menyebarkan ilmu.
Kedua dimensi ini saling melengkapi dalam kehidupan seorang muslim.
Amal Saleh Membawa Kehidupan yang Baik
Allah berjanji bahwa amal saleh akan menghadirkan kehidupan yang baik.
Dalam Surah An-Nahl ayat 97 disebutkan: “Barang siapa mengerjakan kebajikan dalam keadaan beriman, maka pasti Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.”
Ayat ini menegaskan bahwa amal saleh tidak hanya berdampak di akhirat, tetapi juga menghadirkan keberkahan hidup di dunia.
Allah menegaskan dalam Surah Al Isra ayat 7: “Jika kamu berbuat baik, berarti kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri.”
Kebaikan tidak pernah sia-sia. Setiap perbuatan baik akan kembali kepada pelakunya, cepat atau lambat.
Karena itu, berbuat baik bukan hanya kewajiban, tetapi kebutuhan bagi manusia itu sendiri.
Seluruh Hidup adalah Ibadah
Agar amal bernilai di sisi Allah, ada dua syarat utama: Ikhlas karena Allah, dan dilakukan sesuai tuntunan Rasulullah SAW.
Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya setiap amal bergantung pada niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Niat menjadi tolok ukur diterima atau tidaknya amal. Seseorang bisa mendapatkan pahala atau dosa dari niatnya.
Allah berfirman dalam Surah Al-An’am ayat 162: “Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah Tuhan semesta alam.”
Ayat ini mengajarkan bahwa seluruh aspek kehidupan seharusnya bernilai ibadah. Bekerja, belajar, menolong orang lain, semuanya bisa menjadi amal saleh jika diniatkan karena Allah.
Berlomba-Lomba dalam Kebaikan
Manusia hidup dengan waktu yang terbatas. Karena itu, Islam mengajarkan agar manusia berlomba-lomba dalam kebaikan.
Berbuat baik bukan sekadar pilihan, tetapi kewajiban. Kebaikan adalah bukti nyata dari keimanan.
Dengan demikian, makna sukses dalam Surat Al Ashr adalah keberhasilan memanfaatkan waktu untuk beriman, beramal saleh, menegakkan kebenaran, dan bersabar.
Inilah jalan agar manusia tidak termasuk golongan yang merugi, tetapi menjadi hamba yang hidupnya bermakna, berkah, dan diridhai Allah SWT. (top)
Editor : Ali Mustofa