Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Naluri Terakhir Hewan Sebelum Mati yang Jarang Diketahui Manusia

Ali Mustofa • Sabtu, 18 April 2026 | 10:38 WIB
Ilustrasi insting hewan saat menjelang kematian. (gemini ai)
Ilustrasi insting hewan saat menjelang kematian. (gemini ai)

RADAR KUDUS – Alam kerap menyimpan misteri yang tidak selalu mudah dijelaskan dengan logika manusia.

Salah satunya adalah bagaimana hewan memiliki naluri yang seolah menuntun mereka menjalani fase hidup hingga kematian tanpa pendidikan, sekolah, ataupun pengajaran.

Semua berjalan secara alami, teratur, dan penuh hikmah.

Allah menegaskan bahwa setiap makhluk mendapat petunjuk sesuai kebutuhannya dalam Al-Qur'an.

Allah SWT berfirman: “Tuhan kami ialah (Tuhan) yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk.” (QS. Thaha: 50)

Ayat lain menyebutkan: “Dan tidak ada seekor binatang pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya.” (QS. Hud: 6)

Naluri Menepi Menjelang Kematian

Coba perhatikan fenomena yang jarang disadari: kita hampir tidak pernah melihat bangkai hewan buas di alam bebas.

Harimau, serigala, atau hewan liar lain jumlahnya banyak, namun jasad mereka jarang ditemukan manusia.

Banyak pengamat alam menyebutkan bahwa hewan cenderung menjauh dan bersembunyi ketika merasakan ajalnya mendekat.

Mereka mencari tempat sunyi, mulai semak, lubang, atau area tersembunyi, lalu berdiam di sana hingga mati.

Naluri ini seakan mengajarkan mereka untuk tidak meninggalkan bangkai di ruang terbuka.

Jika kebiasaan ini tidak ada, niscaya hutan dan padang savana akan dipenuhi jasad hewan. Namun kenyataannya tidak demikian.

Alam tetap bersih, siklus kehidupan berjalan, dan keseimbangan tetap terjaga.

Padang pasir, hutan, pegunungan, hingga lautan dipenuhi makhluk hidup.

Singa, serigala, dubuk, unta, burung unta, kambing gunung, dan ribuan spesies lain hidup dan mati setiap hari.

Jumlah mereka bahkan diyakini jauh melampaui manusia. Setiap hari terjadi kelahiran dan kematian di alam liar, namun bangkai jarang terlihat.

Ini menjadi tanda bahwa alam memiliki mekanisme tersendiri yang menjaga kebersihan dan keseimbangan ekosistem.

Naluri bersembunyi menjelang kematian menjadi bagian dari sistem tersebut.

Tanpa akal seperti manusia, hewan tetap mampu menjalani proses hidup dan mati secara tertib.

Insting Menghindari Bahaya

Naluri keselamatan juga tampak pada perilaku hewan ternak.

Perhatikan bagaimana sapi, kambing, atau kuda berjalan dengan pandangan lurus ke depan.

Mereka mampu menghindari dinding, jurang, dan lubang tanpa perlu diberi pelajaran fisika atau logika.

Ketika mendekati bahaya, hewan langsung menjauh.

Mereka tidak memahami konsekuensi secara intelektual, tetapi naluri mendorong mereka untuk memilih keselamatan. 

Insting ini membuat hewan tetap bisa dimanfaatkan manusia dalam berbagai aktivitas tanpa mudah celaka.

Fenomena ini mengingatkan bahwa tidak semua kemampuan harus berasal dari akal. Hewan hidup dengan naluri, sementara manusia diberi akal dan tanggung jawab.

Jika hewan tanpa akal saja diberi ilham untuk menjaga keselamatan diri dan menjaga keseimbangan alam.

Maka manusia seharusnya lebih mampu menjaga kehidupan dan lingkungan dengan kesadaran penuh.

Melalui naluri menyembunyikan diri saat ajal mendekat dan kemampuan menghindari bahaya, alam mengajarkan bahwa setiap makhluk hidup berjalan dalam sistem yang rapi.

Semua bergerak dalam ketentuan yang telah diatur, menjadi tanda kebesaran dan kasih sayang Sang Pencipta bagi seluruh alam semesta. (top)

 

Editor : Ali Mustofa
#naluri #alam #hewan #Kematian #manusia