Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Kenapa Tauhid Disebut Ajaran Pertama dalam Islam? Ini Jawabannya

Ali Mustofa • Sabtu, 11 April 2026 | 09:01 WIB
Ilustrasi wanita sedang membaca al-Quran (freepik)
Ilustrasi wanita sedang membaca al-Quran (freepik)

RADAR KUDUS – Dalam ajaran Islam, fondasi paling mendasar adalah tauhid. Yaitu keyakinan bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan yang berhak disembah.

Prinsip ini bukan sekadar konsep teologis, tetapi menjadi inti seluruh ajaran agama.

Karena itulah Islam dikenal sebagai agama tauhid, agama yang menempatkan keesaan Allah sebagai pusat kehidupan seorang Muslim.

Para ulama menegaskan bahwa tauhid merupakan pelajaran pertama yang harus ditanamkan sebelum ajaran agama lainnya.

Keyakinan ini menuntun manusia untuk mengenal Tuhannya, memahami tujuan hidup, dan menata ibadah dengan benar.

Allah menegaskan keesaan-Nya dalam Al-Qur’an: “Sesungguhnya Aku adalah Allah, tidak ada Tuhan selain Aku. Maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku.” (QS. Thaha: 14)

Ayat ini menegaskan bahwa seluruh ibadah bermuara pada pengakuan akan keesaan Allah.

Makna Allah Maha Esa (Al-Ahad)

Dalam Asmaul Husna, Allah dikenal dengan nama Al-Ahad, yang berarti Yang Maha Esa. Keesaan ini mencakup tiga aspek penting: keesaan dalam Dzat, sifat, dan perbuatan.

Secara bahasa, kata “Esa” berarti tunggal atau satu. Maka Allah Maha Esa bermakna bahwa Dia satu-satunya Tuhan tanpa sekutu, tanpa tandingan, dan tanpa yang setara.

Keesaan dalam Dzat berarti tidak ada sesuatu pun yang menyerupai Allah.

Dzat Allah tidak tersusun dari bagian-bagian sebagaimana makhluk, karena sifat tersusun adalah ciri ciptaan, bukan Sang Pencipta.

Allah menegaskan hal ini dalam Al-Qur’an: “Katakanlah: Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah tempat meminta segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan-Nya.” (QS. Al-Ikhlas: 1–4)

Surat Al-Ikhlas menjadi penegasan paling jelas tentang kemurnian tauhid dalam Islam.

Allah memiliki sifat-sifat kesempurnaan yang tidak dimiliki makhluk. Kekuasaan, kehendak, ilmu, dan kehidupan-Nya bersifat mutlak dan tidak terbatas.

Tidak ada makhluk yang memiliki sifat seperti Allah. Semua kekuatan manusia hanyalah bagian kecil dari kehendak-Nya.

Segala yang terjadi di alam semesta berlangsung atas izin Allah.

Dialah yang memberi pahala, menurunkan ujian, dan mengatur seluruh kehidupan dengan keadilan sempurna.

Hal ini ditegaskan dalam Ayat Kursi: “Allah, tidak ada Tuhan selain Dia. Yang Maha Hidup, Yang terus menerus mengurus makhluk-Nya…” (QS. Al-Baqarah: 255)

Ayat ini menggambarkan betapa luas kekuasaan Allah yang meliputi langit dan bumi.

Iman kepada Allah: Pondasi Rukun Iman

Keyakinan bahwa Allah Maha Esa merupakan rukun iman pertama.

Sejak kecil, seorang Muslim diajarkan untuk meyakini bahwa tidak ada Tuhan selain Allah.

Iman kepada Allah bukan hanya keyakinan dalam hati, tetapi juga harus tercermin dalam ibadah, akhlak, dan cara hidup sehari-hari.

Memahami keesaan Allah bukan sekadar pengetahuan, melainkan jalan hidup.

Tauhid menuntun manusia untuk bersandar hanya kepada Allah, berharap hanya kepada-Nya, dan menyandarkan seluruh urusan kepada-Nya.

Ketika tauhid tertanam kuat, kehidupan menjadi lebih terarah.

 Hati menjadi tenang, ibadah menjadi bermakna, dan tujuan hidup menjadi jelas, yaitu beribadah hanya kepada Allah Yang Maha Esa. (top)

Editor : Ali Mustofa
#agama #teologis #Tauhid #Iman #Allah SWT