Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Kesehatan, Kekayaan, dan Jabatan: Ujian yang Sering Menjebak Manusia

Ali Mustofa • Selasa, 7 April 2026 | 08:46 WIB
Ilustrasi harta melimpah (freepik)
Ilustrasi harta melimpah (freepik)

RADAR KUDUS – Kehidupan sering kali membuat manusia lupa diri.

Ketika tubuh terasa sehat, harta melimpah, dan jabatan berada di puncak, muncul keyakinan seolah semua itu hasil jerih payah pribadi semata.

Padahal, waktu berulang kali menunjukkan bahwa apa yang dimiliki manusia hanyalah titipan yang dapat diambil kembali kapan saja.

Banyak orang merasa aman karena rajin berolahraga, menjaga pola makan, dan menjalani hidup disiplin.

Namun realitas berkata lain: kesehatan bukan sesuatu yang bisa dipastikan abadi.

Hari ini seseorang masih mampu beraktivitas dengan penuh tenaga, esok hari bisa saja jatuh sakit tanpa diduga.

Melihat teman sebaya yang satu per satu berpulang semestinya menjadi pengingat bahwa umur bukanlah sesuatu yang bisa diprediksi.

Penyakit dan kematian tidak menunggu kesiapan manusia. Ia datang tanpa pemberitahuan.

Allah SWT berfirman: “Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati.” (QS. Ali Imran: 185)

Ayat ini menegaskan bahwa kesehatan hanyalah anugerah sementara.

Kesadaran inilah yang seharusnya menumbuhkan kerendahan hati dalam diri manusia.

Harta dan Jabatan Bisa Hilang Seketika

Sejarah kehidupan manusia dipenuhi kisah tentang orang kaya yang tiba-tiba jatuh miskin, pemimpin yang kehilangan kekuasaan, hingga keluarga yang kehilangan segalanya karena musibah.

Apa yang tampak kokoh hari ini bisa runtuh dalam sekejap.

Merasa aman hanya karena harta atau jabatan merupakan sikap yang berisiko menjerumuskan pada kesombongan.

Sebab pada hakikatnya, semua itu hanyalah amanah yang sewaktu-waktu bisa diambil kembali.

Allah SWT berfirman: “Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya).” (QS. An-Nahl: 53)

Ayat ini mengingatkan bahwa segala kenikmatan bukan milik mutlak manusia, melainkan pemberian yang harus disyukuri.

Bahaya Pamer dan Mencari Pengakuan

Fenomena memamerkan kekayaan, keilmuan, atau kekuasaan sering muncul dalam kehidupan sosial.

Namun ironisnya, orang yang gemar menonjolkan diri justru terlihat kehilangan wibawa.

Orang berilmu yang gemar menyalahkan orang lain dengan bahasa intelektualnya akan tampak tidak etis.

Orang kaya yang mempertontonkan kemewahan justru terlihat rendah. Pada akhirnya, semua itu hanyalah upaya untuk mendapatkan pengakuan manusia.

Padahal, hidup akan terasa ringan ketika seseorang tidak menggantungkan harga dirinya pada pujian orang lain.

Allah SWT berfirman: “Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia (karena sombong) dan jangan berjalan di bumi dengan angkuh.” (QS. Luqman: 18)

Kemandirian yang Tidak Berujung Kesombongan

Selama masih mampu, melakukan sesuatu sendiri adalah sikap terpuji.

Tidak memanjakan diri dengan selalu dilayani orang lain merupakan bentuk kesadaran bahwa manusia pada akhirnya akan saling membutuhkan.

Namun kemandirian tidak boleh berubah menjadi kesombongan. Kekayaan tidak membuat seseorang bebas dari kebutuhan terhadap sesama.

Pada titik tertentu, setiap manusia pasti membutuhkan pertolongan orang lain.

Kesadaran inilah yang menumbuhkan sikap rendah hati dan mengikis perasaan paling mampu.

Menggantungkan Hati Hanya kepada Allah

Kebahagiaan yang bersandar pada selain Allah bersifat rapuh.

Harta bisa hilang, kesehatan bisa menurun, jabatan bisa lepas, bahkan manusia yang dicintai pun bisa berubah.

Karena itu, hati tidak boleh bergantung pada sesuatu yang tidak pasti.

Allah SWT berfirman: “Dan bertawakallah kepada Allah; cukuplah Allah sebagai Pelindung.” (QS. Al-Ahzab: 3)

Kesadaran bahwa kesehatan, kekayaan, dan jabatan hanyalah titipan akan melahirkan kerendahan hati.

Manusia tidak lagi merasa paling hebat, tidak pula sibuk mencari pengakuan.

Sebab pada akhirnya, yang benar-benar abadi hanyalah pertolongan dan kasih sayang Allah. (top)

Editor : Ali Mustofa
#kesehatan #ujian #jabatan #manusia #kekayaan