Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Saat Berhenti Mencari Pengakuan, Hidup Jadi Lebih Tenang

Ali Mustofa • Selasa, 7 April 2026 | 08:36 WIB
Ilustrasi gila pengakuan. (alamy.com)
Ilustrasi gila pengakuan. (alamy.com)

RADAR KUDUS – Banyak orang menjalani hidup dengan beban yang sebenarnya tidak perlu.

Mereka bekerja keras, memeras tenaga, bahkan mengorbankan waktu dan kesehatan hanya demi satu hal: pengakuan manusia.

Padahal, tanpa disadari, hidup justru menjadi lebih ringan ketika seseorang berhenti mengejar pujian.

Sanjungan manusia sering terasa manis di awal, tetapi pada hakikatnya hanyalah kebahagiaan semu.

Ada atau tidaknya pujian, sejatinya tidak mengubah nilai seseorang di hadapan Allah.

Kesadaran inilah yang membuat hidup terasa “murah meriah”, sederhana, dan tidak penuh tekanan.

Beban Hidup Bernama Pengakuan

Banyak orang rela bekerja siang malam agar terlihat hebat di mata manusia.

Mereka ingin dipuji sebagai orang sukses, cerdas, kaya, atau berpengaruh. 

Tanpa sadar, seluruh energi hidup dihabiskan untuk memenuhi standar orang lain.

Padahal, kebutuhan akan pengakuan adalah beban yang sangat mahal. Ketika pujian tidak datang, hati merasa kecewa.

Ketika celaan muncul, jiwa mudah terluka. Hidup menjadi rapuh karena bergantung pada penilaian manusia yang berubah-ubah.

Allah SWT berfirman: “Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Al-Hadid: 20)

Ayat ini mengingatkan bahwa kebahagiaan yang bersumber dari dunia, termasuk pujian manusia, tidak memiliki keteguhan.

Melatih Mata Hati Melihat Peran Allah

Ketika seseorang sembuh dari sakit, sering kali yang dipuji adalah dokter, obat, dan rumah sakit.

Semua itu memang bagian dari ikhtiar, namun ada satu hal yang kerap terlupakan: siapa yang sebenarnya memberi kesembuhan?

Allah SWT berfirman: “Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku.” (QS. Asy-Syu’ara: 80)

Kesembuhan bukan semata hasil usaha manusia. Dokter hanyalah perantara, sedangkan keputusan akhir tetap berada di tangan Allah.

Melatih mata hati untuk menyadari peran-Nya dalam setiap peristiwa bukan perkara mudah, tetapi di situlah awal ketenangan batin tumbuh.

Rapuhnya Sandaran Selain Allah

Segala sesuatu yang disandarkan kepada makhluk memiliki sifat tidak pasti.

Kepercayaan kepada pasangan bisa berubah, harapan kepada anak belum tentu terwujud, dan ketergantungan kepada manusia sering berakhir dengan kekecewaan.

Allah SWT berfirman: “Dan bertawakallah kepada Allah; cukuplah Allah sebagai Pelindung.” (QS. Al-Ahzab: 3)

Ayat ini menegaskan bahwa hanya Allah tempat bersandar yang tidak pernah mengecewakan.

Ketika hati bergantung kepada selain-Nya, kegelisahan mudah muncul karena tidak ada makhluk yang mampu menjamin kebahagiaan manusia.

Materialisme yang Menjebak Cara Pandang

Di tengah kehidupan sosial, materi sering dijadikan ukuran utama kehormatan.

Orang yang datang dengan kendaraan mewah disambut penuh hormat, sementara yang sederhana kerap diabaikan.

Bahkan dalam memilih pasangan hidup, harta sering menjadi pertimbangan utama.

Padahal, kebahagiaan tidak selalu sejalan dengan kemewahan. Banyak orang terlihat bahagia dari luar, namun batinnya dipenuhi kegelisahan.

Ketenangan sejati tidak terletak pada harta, tetapi pada hati yang dekat dengan Allah.

Allah SWT berfirman: “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)

Ketika Pujian Tak Lagi Dicari

Ilmu, harta, kesehatan, dan kekuasaan bisa menjadi ujian ketika dibanggakan.

Memamerkan kelebihan sering kali menunjukkan kebutuhan akan pengakuan. 

Manusia rela bekerja keras demi sanjungan, padahal pujian tidak memberi dampak nyata pada kehidupan akhirat.

Hidup justru terasa ringan ketika seseorang berhenti mengejar penilaian manusia.

Ia tidak mudah tersinggung oleh celaan dan tidak melayang oleh pujian.

Pada titik ini, hati mulai menemukan ketenangan yang sebenarnya.

Sandaran yang Tidak Pernah Berubah

Pada akhirnya, manusia tidak boleh menggantungkan hidup pada kesehatan, kekayaan, ilmu, atau kekuasaan.

Semua itu hanyalah titipan yang dapat diambil kapan saja.

Satu-satunya sandaran yang tidak berubah adalah Allah.

Ketika hati bergantung kepada-Nya, manusia tidak mudah goyah oleh perubahan dunia.

Di situlah ketenangan sejati lahir, ketenangan yang tidak bergantung pada pujian, kondisi, maupun kepemilikan apa pun.

Karena yang menjadi sandaran adalah Yang Maha Tetap dan Maha Kekal. (top)

Editor : Ali Mustofa
#pujian #Kegelisahan #Allah SWT #manusia #pengakuan