Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Rahasia Gerakan Shalat: Bangun dari Sujud, Transisi Tenang untuk Menjaga Keseimbangan Raga

Ali Mustofa • Senin, 19 Januari 2026 | 09:22 WIB
Ilustrasi gerakan shalat bagun dari sujud
Ilustrasi gerakan shalat bagun dari sujud

RADAR KUDUS - Dalam susunan gerak shalat yang runtut, momen bangun dari sujud menuju duduk menjadi salah satu tahapan penting yang menuntut ketenangan dan penghayatan.

Dari posisi sujud, kepala diangkat secara perlahan dari permukaan lantai, lalu badan ditegakkan sedikit demi sedikit hingga mencapai posisi duduk yang mantap dengan punggung lurus.

Gerakan ini tidak dilakukan secara tergesa, melainkan mengalir dengan irama yang tenang dan terukur.

Pada saat duduk, paha kiri berada di atas tulang kering kaki kiri, sementara kaki kanan ditegakkan dengan bertumpu pada ujung jari-jari yang mengarah ke kiblat.

Kedua telapak tangan diletakkan secara wajar di atas paha, menambah kesan rapi dan seimbang pada keseluruhan postur tubuh.

Dalam istilah fikih Islam, posisi duduk seperti ini dikenal dengan sebutan duduk iftirasy, yang menjadi bagian dari tata cara shalat sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW.

Lebih dari sekadar perpindahan posisi, gerakan bangun dari sujud mengandung makna mendalam.

Postur duduk yang tegak mencerminkan kesiapan jasmani sekaligus ketundukan batin seorang hamba.

Di saat inilah seorang muslim seakan berhenti sejenak, menata kembali napas dan kesadaran, sebelum melanjutkan dialognya dengan Allah SWT.

Perpaduan antara gerak tubuh yang tertib dan hati yang khusyuk menjadikan fase ini sebagai titik keseimbangan antara raga dan jiwa dalam rangkaian ibadah shalat.

Peran Napas dan Dinamika Peredaran Darah

Dalam rangkaian gerak shalat, bangun dari sujud sebaiknya diiringi dengan tarikan napas yang dalam, teratur, dan penuh kesadaran.

Pola pernapasan seperti ini membantu mengaktifkan kembali kerja rongga dada, sebagaimana mekanisme yang terjadi saat tubuh bangkit dari posisi ruku’.

Tarikan napas yang tepat membuat paru-paru mengembang sempurna, sementara jantung terdorong bekerja lebih efektif dalam memompa darah dan menyalurkan oksigen ke seluruh jaringan tubuh.

Ketika berada pada posisi duduk iftirasy, kedua kaki terlipat secara alami. Postur ini menjadikan otot-otot kaki seolah mendapatkan pijatan lembut.

Otot yang berada dalam kondisi rileks memberi kesempatan bagi darah yang sebelumnya tertahan di lapisan permukaan untuk kembali masuk ke aliran pembuluh yang lebih dalam.

Proses ini membantu menjaga kelancaran sirkulasi darah, terutama setelah tubuh berada pada posisi rendah saat sujud.

Di saat yang sama, otot paha memberikan tekanan halus pada area betis yang dilapisi jaringan otot pelindung.

Tekanan tersebut berfungsi layaknya pompa alami yang membantu mendorong darah balik menuju jantung.

Rangkaian proses ini menunjukkan bahwa setiap gerakan shalat, termasuk duduk di antara dua sujud, tidak hanya sarat nilai ibadah, tetapi juga selaras dengan prinsip kerja tubuh manusia dalam menjaga kesehatan dan keseimbangan peredaran darah.

Sirkulasi Darah yang Berjalan Berkesinambungan

Pada saat duduk iftirasy, tekanan lembut namun mantap yang terjadi pada kedua telapak kaki memiliki peran penting dalam membantu mendorong aliran darah kembali ke jalur peredaran utama.

Tekanan ini bekerja seperti pompa alami yang mengaktifkan mekanisme sirkulasi darah, terutama pada bagian tubuh yang berada jauh dari jantung.

Dengan cara inilah tubuh menjaga kelancaran aliran darah agar tidak terjadi penumpukan di area tertentu.

Ketika gerakan dilanjutkan menuju sujud kedua, pola peredaran darah yang telah terbentuk sebelumnya kembali terulang.

Aliran darah ke jantung, lalu dipompa ke seluruh tubuh, termasuk ke bagian kepala, berjalan dengan ritme yang sama seperti pada sujud pertama.

Siklus ini menciptakan kerja tubuh yang teratur, seimbang, dan harmonis, sejalan dengan ritme shalat yang sarat ketenangan.

Dari sini tampak jelas bahwa setiap rangkaian gerakan dalam shalat disusun dengan keteraturan yang penuh hikmah.

Tidak ada satu pun gerakan yang berdiri sendiri tanpa makna.

Termasuk saat bangun dari sujud menuju duduk, semuanya saling terhubung dan saling melengkapi, menghadirkan manfaat spiritual sekaligus jasmani bagi siapa pun yang melaksanakannya dengan khusyuk dan thuma’ninah.

Ibadah yang Menyentuh Ruh dan Raga

Rasulullah SAW sejak awal telah memberikan penekanan kuat agar shalat dilaksanakan dengan penuh ketenangan dan kesempurnaan pada setiap rangkaiannya.

Setiap perpindahan gerakan bukan sekadar perubahan posisi tubuh, melainkan bagian dari ibadah yang menuntut kehadiran hati dan ketundukan jiwa.

Dalam sebuah hadis sahih, Rasulullah SAW bersabda: “Kemudian bangkitlah hingga engkau duduk dengan tenang.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menjadi landasan tegas bahwa duduk setelah sujud tidak boleh dilakukan secara tergesa-gesa.

Ada tuntunan thuma’ninah yang harus dipenuhi, yakni diam sejenak dengan posisi yang mantap, sehingga tubuh dan hati benar-benar berada dalam keadaan tenang.

Tanpa ketenangan tersebut, rangkaian shalat dinilai belum sempurna sebagaimana tuntunan Nabi.

Penegasan serupa juga datang langsung dari Allah SWT dalam Al-Qur’an. Dalam firman-Nya disebutkan: “Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, yaitu mereka yang khusyuk dalam shalatnya.” (QS. Al-Mu’minun: 1–2)

Ayat ini menempatkan kekhusyukan sebagai kunci keberuntungan bagi orang beriman.

Kekhusyukan bukan hanya terletak pada bacaan, tetapi juga tercermin dari sikap tenang dalam setiap gerakan shalat.

Termasuk ketika bangun dari sujud menuju duduk, ketenangan menjadi cermin kesadaran seorang hamba yang tengah berdiri di hadapan Rabb-nya, menjaga adab, serta menunaikan ibadah dengan penuh penghayatan.

Dari rangkaian penjelasan tersebut, dapat dipahami bahwa gerakan bangun dari sujud bukan sekadar perpindahan posisi dalam shalat.

Ia merupakan bagian penting dari rukun ibadah yang sarat makna dan manfaat.

Setiap tarikan tubuh yang dilakukan dengan tenang mengajarkan manusia untuk tidak tergesa-gesa, melatih kesadaran diri, sekaligus menumbuhkan sikap tunduk dan patuh di hadapan Allah SWT.

Gerakan ini juga menghadirkan dampak nyata bagi tubuh.

Posisi duduk yang dilakukan dengan benar membantu mengatur pola pernapasan, menenangkan denyut jantung, serta melancarkan sirkulasi darah setelah tubuh berada pada posisi rendah saat sujud.

Dengan ritme yang teratur, tubuh bekerja secara alami tanpa paksaan, seolah mengikuti alur keseimbangan yang telah ditetapkan Sang Pencipta.

Di titik inilah shalat kembali menegaskan kesempurnaannya.

Ia tidak hanya menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah secara spiritual, tetapi juga menjadi media pemeliharaan jasmani.

Kepatuhan berpadu dengan ketenangan, ibadah berjalan seiring dengan kesehatan, menjadikan shalat sebagai amalan yang menyentuh ruh dan raga manusia secara utuh. (top)

Editor : Ali Mustofa
#darah #oksigen #raga #duduk #Allah SWT #tubuh #keseimbangan #manusia #shalat #napas #Gerakan