Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Mengapa Flu Mudah Menyerang? Ini Faktor Tubuh yang Jarang Disadari

Ali Mustofa • Kamis, 15 Januari 2026 | 09:30 WIB
Ilustrasi flu.
Ilustrasi flu.

RADAR KUDUS - Flu sering datang tanpa aba-aba dan kerap dianggap sekadar penyakit musiman yang akan sembuh dengan sendirinya.

Banyak orang memilih menyepelekannya, padahal di balik gejala yang tampak sederhana, flu menyimpan pesan penting tentang kondisi daya tahan tubuh dan keseimbangan sistem dalam manusia yang mulai terganggu.

Flu kerap dianggap sebagai penyakit musiman yang datang dan pergi tanpa perlu perhatian serius.

Padahal, di balik gejalanya yang terlihat sepele, flu menyimpan persoalan yang berkaitan erat dengan kondisi daya tahan tubuh dan keseimbangan sistem dalam manusia.

Ketika seseorang terlalu sering terserang flu, hal itu menjadi sinyal bahwa tubuh tidak cukup kuat beradaptasi terhadap perubahan cuaca maupun paparan radiasi listrik negatif dari lingkungan sekitar, termasuk dari orang lain yang sedang mengalami flu.

Dalam banyak kasus, flu tidak hanya berhenti pada rasa tidak enak badan.

Gejalanya dapat berkembang menjadi pilek berkepanjangan, batuk, demam, hingga rasa pegal yang menusuk tulang atau dikenal sebagai flu tulang.

Sebagian penderita bahkan mengalami gangguan pencernaan seperti diare yang kerap disebut flu perut.

Kondisi ini menegaskan bahwa flu bukan sekadar gangguan ringan yang bisa diabaikan.

Kesalahan penanganan flu justru dapat memicu dampak yang lebih serius.

Penggunaan obat-obatan kimia secara berlebihan, terutama yang mengandung kristal oxalat, berisiko menimbulkan keracunan dalam tubuh.

Akibatnya, sejumlah organ vital seperti liver, empedu, pankreas, hingga limpa dapat mengalami pembengkakan karena bekerja terlalu keras menetralisir zat-zat berbahaya tersebut.

Faktor Tubuh yang Membuat Flu Mudah Menyerang

Berdasarkan hasil pengamatan, terdapat beberapa faktor utama yang membuat seseorang mudah terserang flu.

Faktor pertama adalah tidak optimalnya sistem keringat dan pemanas tubuh.

Ketika mekanisme ini terganggu, tubuh kesulitan menjaga suhu dan daya tahan, sehingga virus lebih mudah menyerang.

Faktor kedua berkaitan dengan kondisi saraf, khususnya pada jalur saraf di pangkal lutut bagian dalam yang terhubung ke betis luar, mata kaki bagian luar, hingga jari kelingking.

Pada banyak orang, jalur saraf ini tertutup pengapuran.

Kondisi tersebut dapat dikenali dari telapak kaki, baik bagian atas maupun bawah, yang terasa dingin saat diraba.

Sementara itu, bagian betis luar dan paha samping akan terasa sangat linu ketika dipijat.

Selanjutnya, faktor ketiga adalah penumpukan protein dalam tubuh yang membeku, bahkan membusuk, dan mengendap di persendian.

Endapan ini menghambat aliran energi dan memperlemah daya tahan tubuh secara keseluruhan.

Faktor keempat, liver mengalami pembengkakan karena bekerja terlalu berat menyaring kolesterol serta kadar gula darah yang tinggi, sehingga fungsinya tidak lagi optimal.

Adapun faktor kelima berkaitan dengan kondisi paru-paru. Paparan karbon monoksida membuat sel-sel paru tercemar, menjadi lembab, bahkan ada yang terendam cairan.

Akibatnya, kadar oksigen dalam darah berkurang. Padahal, oksigen berperan penting sebagai penggerak energi elektronik dalam tubuh.

Ketika suplai oksigen menurun, sistem saraf melemah dan tubuh menjadi lebih rentan terhadap serangan penyakit.

Dalam kondisi saraf yang lemah tersebut, tubuh juga menjadi mudah terpengaruh radiasi listrik negatif, termasuk dari orang lain yang sedang menderita flu.

Inilah yang membuat penularan flu terasa begitu cepat dan sulit dihindari. Oleh karena itu, flu seharusnya tidak dipandang sebelah mata.

Kesadaran untuk menjaga keseimbangan tubuh dan penanganan yang tepat menjadi kunci agar flu tidak berkembang menjadi gangguan kesehatan yang lebih serius.

Pencegahan Dimulai dari Perawatan Sistem Saraf

Upaya pencegahan berbagai penyakit sejatinya tidak selalu harus dimulai dari pengobatan medis semata.

Ada perawatan mendasar yang kerap luput dari perhatian, yakni perawatan sistem saraf secara menyeluruh dan berkelanjutan.

Sistem saraf, sebagai pusat kendali tubuh, hanya dapat dirawat dengan baik, efisien, dan efektif melalui penerapan gerakan wudhu yang benar, teknik gerakan shalat yang tepat, serta pijatan yang dilakukan sesuai kaidahnya.

Dalam penjelasan yang berkembang, disebutkan bahwa endapan listrik negatif yang menumpuk di dalam tubuh manusia tidak bisa keluar dengan sendirinya.

Endapan tersebut justru hanya dapat dilepaskan melalui “tombol-tombol” alami yang terdapat dalam rangkaian gerakan shalat.

Setiap gerakan, mulai dari berdiri, rukuk, sujud, hingga duduk, memiliki peran tersendiri dalam menetralkan energi negatif yang membebani saraf dan organ tubuh.

Tak jarang muncul pertanyaan, mengapa seseorang tetap terserang penyakit meski telah rutin menjalankan shalat.

Jawabannya bukan pada ibadahnya semata, melainkan pada kualitas pelaksanaannya.

Gerakan shalat perlu ditelaah kembali, demikian pula wudhu yang dilakukan sebelum shalat.

Apakah sudah sesuai tuntunan, dilakukan dengan kesadaran penuh, dan tidak sekadar menggugurkan kewajiban?

Begitu pula bacaan shalat, apakah dibaca dengan penghayatan atau justru dikerjakan dalam keadaan lalai.

Teladan Rasulullah SAW dalam Menjaga Kesehatan

Teladan nyata dapat dilihat dari kehidupan Nabi Muhammad SAW.

Dalam riwayat kehidupannya, Rasulullah tidak pernah mengalami berbagai penyakit yang umum menyerang manusia.

Seperti flu, pilek, rematik, migrain, vertigo, stres, stroke, hingga gangguan berat seperti parkinson, alzheimer, diabetes, penyakit jantung, asma, maupun gangguan paru-paru.

Kondisi tersebut bukan semata-mata karena beliau seorang Nabi atau karena sifat maksum yang dimilikinya, melainkan karena konsistensi beliau dalam menegakkan shalat hingga akhir hayat.

Bahkan diceritakan, Rasulullah tetap melaksanakan shalat dalam waktu yang lama hingga kakinya tampak bengkak akibat berdiri terlalu lama. Pembengkakan tersebut bukan tanpa sebab.

Hal itu dipahami sebagai akibat dari penumpukan energi lemah jenuh atau endapan listrik negatif di sekitar lingkaran mata kaki.

Namun, kondisi tersebut akan berangsur hilang ketika dilakukan duduk di antara dua sujud, duduk pembebasan, serta tahiyat awal dengan gerakan yang benar dan durasi yang cukup.

Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (QS. Al-Ankabut: 45)

Hal ini menunjukkan bahwa shalat bukan hanya ibadah spiritual, tetapi juga sarana menjaga kesehatan jasmani dan mental.

Meski telah dijamin kebersihan jiwanya dan dianugerahi pemahaman Al-Qur’an secara sempurna, Rasulullah tetap menjaga shalatnya dengan penuh kesungguhan.

Tujuannya jelas, agar tubuh dan pikirannya senantiasa berada dalam kondisi sehat dan seimbang.

Oleh sebab itu, sangat disayangkan apabila seseorang lalai dalam shalatnya.

Kelalaian dalam wudhu, ketidaktepatan gerakan, serta pengabaian terhadap bacaan shalat dapat mengurangi manfaat besar yang terkandung di dalamnya.

Shalat yang dikerjakan tanpa kesadaran penuh bukan hanya kehilangan nilai spiritual, tetapi juga melemahkan fungsi pencegahan terhadap berbagai gangguan kesehatan.

Inilah peringatan bahwa menjaga kualitas shalat berarti menjaga kesehatan diri secara menyeluruh. (top)

 

Editor : Ali Mustofa
#kesehatan #wudhu #flu #nabi muhammad #Allah SWT #tubuh #manusia #shalat