Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Sholat Khusyu’: Antara Rutinitas dan Perubahan Akhlak

Ali Mustofa • Jumat, 9 Januari 2026 | 10:26 WIB
Ilustrasi orang sedang berdoa.
Ilustrasi orang sedang berdoa.

RADAR KUDUS - Sholat sejatinya bukan sekadar ritual yang dikerjakan lima waktu sehari, melainkan tiang agama yang menjadi penopang utama kualitas iman dan akhlak seorang muslim.

Dalam Al-Qur’an Surat Al-Ankabut ayat 45 ditegaskan dengan sangat jelas. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya sholat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.”

Ayat ini menjadi tolok ukur sekaligus cermin bagi umat Islam dalam menilai sejauh mana sholat yang dijalankan mampu menghadirkan perubahan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Namun realitas di tengah masyarakat sering kali menghadirkan pertanyaan besar.

Mengapa masih banyak orang yang telah puluhan tahun menunaikan sholat, bahkan bergelar haji, kiai, mubaligh, pemimpin, atau pendidik, tetapi perilakunya masih jauh dari nilai-nilai Islam?

Mengapa larangan Allah masih terasa ringan dilanggar, sementara perintah-Nya sering dihindari dengan berbagai alasan?

Tak jarang terdengar bisik-bisik di masyarakat, meski jarang disampaikan secara terbuka.

“Orang sudah haji kok masih enggan membayar zakat.”

“Kiai kok tidak mengamalkan ilmunya.” “Mubaligh kok hanya mau berdakwah kalau ada bayaran.”

“Pemimpin kok tidak memberi teladan.” Bahkan ada pula guru yang menjadikan profesinya sebagai ladang bisnis dengan membebani murid-muridnya.

Semua kritik itu muncul bukan tanpa sebab. Pertanyaannya sederhana namun menusuk: bukankah mereka semua juga menunaikan sholat setiap hari?

Jika sholat benar-benar mencegah dari perbuatan keji dan mungkar, mengapa perilaku itu masih terus berulang?

Sholat dan Sifat Dasar Manusia

Al-Qur’an Surat Al-Ma’arij ayat 19–24 memberi gambaran tentang tabiat dasar manusia.

Manusia diciptakan dalam keadaan mudah mengeluh ketika ditimpa kesusahan dan menjadi kikir ketika mendapat kelapangan rezeki, kecuali orang-orang yang mendirikan sholat dengan sungguh-sungguh.

Mereka yang menjaga sholatnya akan lebih tenang saat diuji dan lebih dermawan saat diberi nikmat, karena dalam hartanya ada hak orang lain yang telah disiapkan.

Ayat ini menegaskan bahwa sholat sejatinya melatih keberanian, keikhlasan, dan kelapangan jiwa dalam menghadapi perintah Allah, baik yang ringan maupun yang berat.

Namun faktanya, banyak orang yang telah sholat selama 30 hingga 40 tahun, tetapi masih licik, takut berkorban, dan enggan menjalankan perintah agama yang sebenarnya tidaklah berat, apalagi yang menuntut peningkatan iman, akhlak, dan pengendalian diri.

Dari sini kita bisa memahami bahwa sumber kesempurnaan beragama terletak pada sholat.

Lalu mengapa ada orang yang telah puluhan tahun sholat tetapi kualitas imannya seolah stagnan, bahkan tak jauh berbeda dengan mereka yang baru belajar sholat setahun?

Jawabannya terletak pada bobot sholat itu sendiri.

Sholat yang tidak mampu melahirkan peningkatan iman, ibadah, dan amal saleh menunjukkan bahwa sholat tersebut belum memiliki nilai yang kuat di sisi Allah SWT.

Pada usia anak-anak, hal ini mungkin masih bisa dimaklumi.

Namun bagi seseorang yang telah dewasa, bahkan lanjut usia, menjalankan sholat tanpa perubahan perilaku sejatinya menjadi tanda kurangnya rasa malu di hadapan Allah Yang Maha Agung.

Lebih berat lagi bila kondisi ini terjadi pada mereka yang berstatus sebagai kiai, pemimpin, atau guru, seorang figur yang seharusnya menjadi panutan umat.

Kehidupan beragama sejatinya mirip dengan proses pendidikan. Jika seorang anak sekolah tidak pernah naik kelas, orang tua tentu akan marah dan mencari cara agar anaknya berkembang.

Demikian pula dalam beragama. Bila seseorang telah puluhan tahun sholat tetapi tidak naik “kelas” dalam iman dan akhlak, seharusnya muncul rasa gelisah dan introspeksi diri.

Kalimat jujur yang seharusnya terucap adalah, “Saya sudah sholat 20 tahun, tapi kok masih begini. Saya malu kepada Allah SWT.” Rasa malu inilah yang justru menjadi pintu awal perbaikan.

Khusyuk, Kunci Berat atau Ringannya Sholat

Dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 45 disebutkan, “Mohonlah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan sholat. Sesungguhnya sholat itu berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.”

Sekilas ayat ini tampak bertentangan dengan realitas. Banyak orang yang sholat tanpa khusyuk justru merasa sholat itu ringan, bahkan bisa diselesaikan hanya dalam hitungan menit.

Fenomena sholat “balapan”, seperti tarawih yang 20 rakaat bisa selesai dalam seperempat jam, menjadi bukti bahwa sholat tanpa adab dan kesadaran memang terasa ringan.

Namun sholat yang benar-benar dimaksudkan untuk mendekatkan diri kepada Allah, menumbuhkan iman, dan memperbaiki akhlak, justru terasa berat bagi hati yang belum khusyuk.

Khusyuk bukan sekadar diam dan menunduk, melainkan rasa tunduk dan rendah hati yang mendalam karena menyadari kebesaran Allah.

Kesadaran bahwa Allah Maha Kuasa membolak-balikkan keadaan manusia: dari mulia menjadi hina, dari terhormat menjadi tercela, serta menjadikan hati gemetar dan penuh kehati-hatian.

Ucapan Allahu Akbar dalam sholat bukan hanya lafaz, tetapi pernyataan bahwa segala perintah dan larangan Allah lebih besar dan lebih penting daripada kepentingan dunia apa pun.

Menjalankan konsekuensi dari kalimat ini tentu tidak ringan, karena menuntut keberanian untuk mendahulukan kehendak Allah di atas segalanya.

Adab dan Tata Krama Sholat

Salah satu jalan untuk menumbuhkan khusyuk adalah memperpanjang rukuk dan sujud, serta menjaga adab dan tata krama sholat.

Orang yang sholat harus sadar bahwa kalimat yang diucapkannya adalah dialog dengan Allah SWT, Sang Pencipta yang telah melimpahkan nikmat dan rahmat tanpa batas.

Tanpa adab, sholat kehilangan ruhnya. Tanpa rasa malu, sholat kehilangan maknanya.

Terlebih bagi pemimpin dan tokoh masyarakat, menjaga adab sholat bukan hanya urusan pribadi, tetapi juga tanggung jawab moral sebagai teladan umat.

Sholat, dzikir, dan doa yang dilakukan dengan adab dan kekhusyukan akan memiliki bobot di sisi Allah SWT dan melahirkan pengabdian yang baik dalam diri seseorang.

Sebaliknya, sholat yang hanya menjadi rutinitas tanpa kesadaran dan perubahan perilaku patut dipertanyakan kembali.

Dengan demikian, sholat bukan sekadar tentang menggugurkan kewajiban, melainkan tentang membentuk manusia beriman, berakhlak, dan berani meninggalkan kemungkaran, baik yang tampak maupun yang tersembunyi. (top)

 

Editor : Ali Mustofa
#akhlak #sholat #tata krama #islam #khusyuk #adab #Allah SWT #rutinitas #manusia