RADAR KUDUS - Di zaman di mana bunyi notifikasi lebih mendominasi daripada suara hati, manusia menghadapi tantangan baru: bagaimana menjaga keseimbangan mental agar tetap waras di tengah hiruk-piruk dunia digital.
Media sosial sudah bukan hanya sebatan tempat untuk bercerita, melainkan juga ruang persaingan keberadaan yang menggugah ego untuk menunjukkan diri, membandingkan, dan mendapatkan pengakuan.
Pada saat inilah ide tentang fakr dalam tasawuf menemukan arti baru yang relevan.
Apa itu Fakr?
Dalam tasawuf, fakr bukan bearti miskin harta, melainkan kesadaran spiritual bahwa manusia bergantung kepada Allah.
Ibn ‘Arabi menjelaskan bahwa fakr mengikis kesombongan ego dan membebaskan manusia dari ilusi bahwa dirinya pusat segalanya.
Dalam konteks digital, fakr mengingatkan bahwa nilai diri tidak ditentukan likes, views, atau komentar.
Fakr Sebagai Obat untuk Ego di Media Sosial
Dengan memahami fakr, kita bisa lebih bijak untuk mengunakan media sosial. Orang yang menerapkan fakr biasanya:
1. Tidak mudah tersinggung oleh komentar negative
2. Tidak mengunggah sesuatu hanya demi pencitraan
3. Tidak iri atau membandingkan diri dengan orang lain
4. Menggunakan media sosial untuk hal yang bermanfaat.
Sikap ini membuat media sosial tidak lagi menjadi sumber stress, tetapi hanyaalat biasa yang tida mengganggu ketenangan batin.
Mengatasi Kecanduan Media Sosial
Terlalu sering bermain media sosial dapat mengganggu kesehatan mental dan membuat kita sulit fokus. Cara mengatasinya antara lain:
1. Mengatur diri sendiri, yaitu batasi waktu dalam menggunakan media sosial.
2. Terapi, yaitu seperti CBT atau DBT untuk membantu cara berpikir dan mengubah kebiasaan.
3. Teknologi pendukung, yaitu gunakan aplikasi yang bisa membatasi waktu penggunaan media sosial.
Dampak Psikologis Media Sosial
Jika digunakan secara berlebihan, media sosial dapat mengakibatkan:
1. Perasaan cemas, sedih, atau merasa tidak berharga
2. Penurunan kepercayaan diri akibat membandingkan diri dengan norma yang ada di media sosial
3. Ancaman untuk menjadi sasaran serangan atau penghinaan di dunia maya (cyberbulliying) yang mempengaruhi pikiran dan emosi
Fakr mengajarkan kita untuk tetap tenang meskipun hidup dalam era digital yang sering kali berat. Fakr bukan hanya sebuah ajaran agama, melainkan juga sebuah cara hidup yang memperkuat mental kita.
Dengan fakr, kita menyadari bahwa nilai diri berasal dari hubungan kita dengan Allah dan ketenangan batin yang kita miliki.
Oleh: Faisal Ilham Al Mufidh & Tsania Tahlia Khosyiya Lillah
Editor : Mahendra Aditya