RADAR KUDUS – Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menemukan sosok yang pandai memberi perintah, namun menutup telinga rapat-rapat saat dirinya diberi arahan.
Fenomena klasik ini dikenal dengan ungkapan populer “orang suka memerintah tapi tak mau diperintah.”
Sekilas terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya kalimat ini menyimpan makna mendalam tentang watak manusia.
Ia menggambarkan tabiat egois: ingin selalu berada di atas, merasa lebih tinggi, dan menolak ketika harus tunduk pada orang lain.
Fenomena ini begitu nyata. Di rumah, orang tua kerap merasa mutlak berkuasa atas anak, sehingga menyuruh tanpa memberi ruang diskusi. Anak dipaksa patuh, tanpa diberi kesempatan bicara.
Dalam pergaulan, ada teman yang dominan, selalu ingin mengatur, tetapi langsung tersinggung ketika dirinya diarahkan.
Di tempat kerja, banyak atasan yang hanya bisa menuntut hasil, namun alergi kritik. Bahkan di dunia politik, para pemimpin yang dulu vokal mengkritik justru berubah jadi antikritik ketika berkuasa.
Sikap suka memerintah tapi enggan diperintah tidak hanya merusak hubungan personal, tetapi juga bisa menghancurkan sebuah sistem.
Dalam keluarga, anak bisa kehilangan kedekatan dengan orang tua yang otoriter. Dalam organisasi, pemimpin bisa kehilangan wibawa dan dijauhi bawahan.
Dalam politik, sejarah membuktikan bahwa penguasa yang menutup telinga pada rakyat akhirnya tumbang oleh rakyatnya sendiri.
Lebih jauh, sifat ini mengikis rasa hormat. Siapa pun yang hanya ingin dipatuhi tanpa mau menaati, lambat laun akan dijauhi.
Mereka kehilangan kepercayaan, kehilangan dukungan, bahkan kehilangan tempat di hati orang lain.
Sebagai contoh. Di sebuah desa, hiduplah seorang pria berjulukan ”Si Raja Perintah”.
Ia dikenal cerdas dan pandai berbicara. Setiap ada kegiatan, ia selalu mengambil alih. Semua orang diberi tugas olehnya. Awalnya, warga menuruti karena menganggapnya penuh semangat.
Namun lama-kelamaan, sifat aslinya tampak. Ia hanya piawai menyuruh, tapi menolak mentah-mentah ketika diberi arahan.
“Siapa kamu berani-beraninya memberi saya perintah?” begitu katanya suatu kali.
Puncaknya terjadi ketika desa dilanda banjir besar. Semua warga bergotong royong menyelamatkan barang dan memperbaiki tanggul.
Ia bukannya ikut bekerja, malah menyuruh orang lain bekerja lebih keras. Warga pun muak.
Mereka sepakat tak lagi mendengarkannya. Sejak hari itu, ia kehilangan wibawa, hidup terasing, dan akhirnya menyesal.
Kisah ini jadi cermin bahwa memimpin bukan soal menyuruh, melainkan soal kerendahan hati dan kesiapan dipimpin.
Pemimpin Sejati Justru Siap Dipimpin
Fenomena serupa pun marak di dunia politik. Politisi yang gemar memberi janji, membuat aturan, dan memberi instruksi sering kali menutup telinga ketika rakyat bersuara.
Tidak sedikit pemimpin yang dahulu vokal mengkritik, namun ketika berkuasa berubah menjadi sosok yang antikritik. Mereka ingin rakyat taat, tetapi menolak ketika diminta pertanggungjawaban.
Sejarah menunjukkan, pemimpin yang hanya ingin memerintah tanpa mau diperintah akhirnya jatuh oleh rakyatnya sendiri.
Kekuasaan bisa membuat seseorang mabuk kuasa, merasa kebal dari kritik, tetapi sejatinya rakyatlah yang menentukan apakah ia tetap berdiri atau terguling.
Islam menegaskan bahwa kepemimpinan adalah amanah, bukan alat untuk berkuasa. Kepemimpinan sejati lahir dari rendah hati, bukan dari kesombongan.
Rasulullah SAW adalah teladan yang nyata. Beliau adalah sosok pemimpin agung, tetapi tetap tunduk sepenuhnya pada perintah Allah SWT.
Bahkan dalam perkara duniawi, beliau bermusyawarah dengan sahabat. Saat ada masukan yang lebih baik, beliau menerimanya dengan lapang dada.
Ini mengajarkan bahwa kepemimpinan bukan berarti bebas dari perintah. Seorang pemimpin sejati justru harus siap dipimpin—oleh aturan, oleh nilai moral, oleh suara rakyat, bahkan oleh nurani sendiri.
Hadis riwayat Bukhari dan Muslim menyebutkan: “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”
Hadis ini mengingatkan bahwa setiap orang, sekecil apa pun perannya, adalah pemimpin. Namun pada saat yang sama, ia juga bisa menjadi orang yang dipimpin.
Artinya, dalam hidup ini ada saat kita memberi arahan, ada saat kita menerima arahan.
Karena itu, janganlah menjadi pribadi yang hanya ingin memerintah tetapi menolak diperintah. Sebab, sikap seperti itu hanya akan membuat kita kehilangan rasa hormat dari orang lain.
Lebih baik kita belajar menyeimbangkan: kapan harus memimpin, kapan harus mengikuti. Dari situlah tercipta kebijaksanaan sejati—bahwa setiap orang memiliki perannya masing-masing, dan kita semua saling membutuhkan.
Ayat Al-Qur’an juga menegaskan kewajiban untuk taat kepada Allah, Rasul-Nya, dan pemimpin yang adil.
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah, taatilah Rasul, dan ulil amri (pemimpin) di antara kamu.” (QS. An-Nisa: 59).
Dengan demikian, setiap manusia bukan hanya pemimpin, tetapi juga pengikut. Ada saatnya memimpin, ada saatnya dipimpin.
Dengan begitu, kita akan menjadi manusia yang rendah hati, bijaksana, dan selalu dirahmati Allah SWT.
Mengapa Banyak yang Suka Memerintah?
Terdapat sejumlah alasan mengapa seseorang sering lebih suka memberi perintah, tetapi enggan menerima arahan.
Pertama, dorongan haus akan kekuasaan. Ia merasa harga dirinya hanya muncul ketika berada di posisi yang lebih tinggi.
Kedua, kekhawatiran kehilangan wibawa. Ada anggapan keliru bahwa menerima instruksi dari orang lain sama artinya dengan merendahkan diri.
Ketiga, faktor pola asuh dan kebiasaan sejak kecil. Individu yang tumbuh dalam lingkungan serba dilayani biasanya terbiasa membawa sikap itu hingga dewasa.
Keempat, minimnya pengalaman berada di posisi bawahan. Orang yang tak pernah merasakan dipimpin cenderung kesulitan memberi penghargaan kepada pemimpin lain ketika dirinya menduduki posisi atas.
Kita tahu bahwa hidup ini ibarat roda. Hidup adalah giliran. Ada kalanya kita berada di puncak, ada kalanya kita di bawah. Tidak ada satu pun manusia yang selalu berada di posisi atas sepanjang hidupnya.
Karena itu, penting bagi setiap orang untuk memahami bahwa menjadi pemimpin sekaligus pengikut adalah keniscayaan.
Jika kita ingin dihormati, belajarlah menghormati. Jika kita ingin ditaati, belajarlah menaati.
Kepemimpinan sejati bukan diukur dari kerasnya suara perintah, melainkan dari keteladanan yang ditunjukkan.
Ungkapan “orang suka memerintah tapi tak mau diperintah” sejatinya adalah cermin. Ia mengingatkan agar kita tidak terjebak dalam kesombongan dan ego yang menolak diarahkan.
Siapa pun yang hanya ingin berkuasa tanpa mau tunduk pada aturan, cepat atau lambat akan kehilangan wibawa.
Sebaliknya, orang yang rendah hati—mau memimpin sekaligus dipimpin—akan selalu dihormati, baik di mata manusia maupun di sisi Allah SWT.
Karena pada akhirnya, kepemimpinan bukanlah soal kekuasaan, melainkan soal amanah, keseimbangan, dan kerendahan hati.
Editor : Ali Mustofa