RADAR KUDUS – Banyak orang mencari resep hidup bahagia melalui harta, jabatan, atau relasi sosial. Namun, Al-Qur’an sejak lama sudah memberi jawaban: keadilan.
Adil kepada diri sendiri, orang lain, hingga kepada alam semesta.
Islam sejak awal telah menegaskan pentingnya konsistensi dalam menegakkan keadilan, baik kepada penguasa, masyarakat, hingga kepada musuh.
Baca Juga: Quraish Shihab Berikan Penjelasan Terkait Keadilan atau Kesejahteraan, Mana yang Lebih Utama?
Al-Qur’an secara jelas menyebutkan, kebencian tidak boleh menjadi alasan untuk berbuat tidak adil. Sebab, sikap adil adalah jalan yang mendekatkan seseorang pada ketakwaan.
Jika prinsip ini diterapkan dalam kehidupan sosial hingga hukum internasional, niscaya peperangan tidak akan pernah terjadi.
Keadilan menjadi ciri khas Islam, sebagaimana tauhid yang menjadi pondasinya.
Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, keadilan merupakan syarat mutlak.
Tanpa keadilan, tatanan masyarakat akan goyah, berujung pada kesemrawutan dan kesengsaraan.
Karena itu, Islam mengharamkan segala bentuk kezaliman, baik terhadap diri sendiri maupun orang lain.
Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan dalam QS. An-Nahl ayat 90: “Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kerabat, dan melarang perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan...” Ayat ini menegaskan bahwa adil bukan hanya kewajiban sosial, tapi juga tanggung jawab personal seorang Muslim.
Empat Pilar Keadilan Menurut Islam
-
Adil kepada Allah
Menempatkan Allah sebagai satu-satunya Tuhan dengan menaati perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. -
Adil kepada diri sendiri
Tidak menzalimi diri dengan dosa atau kebiasaan buruk. Menjaga kesehatan, akhlak, dan kebersihan hati termasuk bentuknya. -
Adil kepada sesama manusia
Memperlakukan orang lain sesuai haknya, termasuk kepada musuh sekalipun. -
Adil kepada makhluk lain
Menjaga kelestarian alam, memperlakukan hewan dengan baik, dan tidak merusak lingkungan.
Oleh karena itu, orang yang mampu bersikap adil pada dirinya akan merasakan ketenangan, kebahagiaan, dan keberkahan hidup.
Ia akan lebih dekat dengan takwa, terbiasa jujur, disiplin dalam bekerja, berani mengakui kesalahan, dan mampu memperbaikinya.
Contoh sederhana, seorang ayah tidak mungkin menyamakan uang saku anak yang kuliah dengan adik kecilnya yang masih SD.
Begitu pula dalam pekerjaan, setiap orang harus ditempatkan sesuai dengan bakat dan potensi yang dimilikinya.
Bahkan di tengah dunia yang dipenuhi konflik dan perbedaan pendapat, ajaran tentang keadilan sangat relevan.
Islam mengingatkan, kebencian tidak boleh mengaburkan keputusan, prasangka tidak boleh menutup kebenaran.
Baik dalam urusan pribadi, sosial, maupun profesional, keadilan harus selalu menjadi prioritas utama.
Dengan memegang teguh keadilan, seorang Muslim akan mampu menjalani hidup dengan hati yang tenang, pikiran yang jernih, serta jiwa yang penuh keberkahan.
Editor : Ali Mustofa