JEPARA – Di tengah perkampungan Desa Kriyan, Kecamatan Kalinyamatan, Kabupaten Jepara, berdiri sebuah masjid yang tak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga menyimpan sejarah panjang dan keunikan arsitektur.
Masjid Al-Makmur Kriyan, yang diperkirakan telah ada sejak abad ke-15 hingga ke-16 Masehi, menjadi saksi bisu perjalanan budaya dan agama di Jawa.
Masjid ini memadukan gaya arsitektur Eropa, Timur Tengah, dan Jawa, menjadikannya salah satu bangunan bersejarah yang menarik untuk dikunjungi.
Perpaduan Tiga Gaya Arsitektur
Masjid Al-Makmur Kriyan menawarkan keunikan visual yang memukau. Dari depan, masjid ini terlihat seperti bangunan khas Eropa dengan dinding dan fasad yang kokoh.
Namun, ketika dilihat lebih dekat, terdapat sentuhan gaya Timur Tengah yang terlihat dari keberadaan kubah-kubah kecil di beberapa bagian menara.
Tak ketinggalan, atap limasan khas Jawa menjadi mahkota yang melengkapi perpaduan arsitektur tersebut.
Muhammad, salah satu pengurus masjid sekaligus tokoh ulama setempat, menjelaskan bahwa perpaduan gaya arsitektur ini bukan tanpa makna. "Masjid ini merupakan simbol persatuan.
Gaya Eropa, Arab, dan Jawa yang menyatu menunjukkan bahwa masjid ini tidak hanya kaya akan budaya, tetapi juga menjadi pusat kegiatan masyarakat," ujarnya.
Renovasi yang Tetap Jaga Keaslian
Meski telah mengalami beberapa kali renovasi, Masjid Al-Makmur Kriyan tetap mempertahankan beberapa elemen asli yang menjadi saksi sejarah.
Salah satunya adalah mustaka atau mahkota masjid yang diperkirakan telah ada sejak era Ratu Kalinyamat.
Mustaka ini masih terpasang di puncak atap limasan masjid, meski telah mengalami sedikit perbaikan karena faktor usia.
"Puncak masjid itu masih ori, hanya dipermak sedikit karena usianya yang sudah sangat tua," jelas Muhammad.
Selain mustaka, di kompleks masjid juga terdapat batu gilang yang memiliki aksara Tiongkok.
Batu ini diperkirakan merupakan bagian dari bangunan masjid terdahulu dan kini disimpan di sisi selatan masjid.
Pusat Kegiatan Masyarakat
Masjid Al-Makmur Kriyan tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi pusat kegiatan masyarakat.
Setiap tahun, masjid ini menjadi lokasi penyelenggaraan Festival Baratan yang digelar untuk menyambut malam Nisfu Sya'ban.
Selain itu, masjid ini juga kerap menjadi tempat pertunjukan tari sufi yang digelar saat menyambut bulan Ramadan.
"Harapannya, masjid ini bisa menampung semua golongan, tidak hanya warga NU. Kami ingin masjid ini menjadi tempat persatuan bagi semua umat," harap Muhammad.
Tirta Kahuripan: Mata Air yang Dipercaya Berkhasiat
Tak jauh dari masjid, terdapat sebuah pertirtaan yang dikenal sebagai Tirta Kahuripan.
Mata air ini dipercaya oleh sebagian masyarakat memiliki khasiat untuk menyembuhkan penyakit.
"Banyak warga yang datang ke sini untuk mengambil airnya, terutama mereka yang percaya akan khasiatnya," ujar Muhammad.
Lokasi Strategis dan Ramah Pengunjung
Lokasi Masjid Al-Makmur Kriyan yang tak jauh dari jalan raya Jepara-Demak membuatnya mudah diakses oleh pengunjung.
Banyak pengendara yang menjadikan masjid ini sebagai tempat transit untuk beribadah atau sekadar beristirahat.
"Masjid ini selalu terbuka untuk siapa pun. Jamaah bisa beribadah atau sekadar bersantai di teras masjid," tambah Muhammad.
Kesimpulan
Masjid Al-Makmur Kriyan bukan sekadar bangunan tempat ibadah, tetapi juga simbol persatuan budaya dan sejarah yang kaya.
Dengan perpaduan arsitektur Eropa, Timur Tengah, dan Jawa, masjid ini menjadi bukti nyata akulturasi budaya yang harmonis.
Keberadaan mustaka dan batu gilang yang masih terjaga hingga kini menambah nilai historis masjid ini.
Semoga Masjid Al-Makmur Kriyan terus menjadi pusat kegiatan dan persatuan bagi masyarakat, sekaligus menjaga warisan budaya dan sejarah yang tak ternilai harganya. (rom)
Editor : Mahendra Aditya