RADAR KUDUS - Rebo Wekasan, juga dikenal sebagai Rabu Pungkasan atau Rebo Kasan, merupakan tradisi yang dilaksanakan pada hari Rabu terakhir di bulan Safar dalam kalender Hijriah.
Kata "Rebo" berarti Rabu, sementara "Wekasan" atau "Pungkasan" berarti akhir.
Tradisi ini dilakukan sebagai bentuk wasilah untuk memohon perlindungan dari Allah SWT agar terhindar dari berbagai bencana yang diyakini diturunkan pada hari tersebut.
Baca Juga: Menelusuri Amalan-Amalan dan Tradisi Rebo Wekasan dalam Perspektif Islam
Pandangan Islam tentang Rebo Wekasan
Meskipun tradisi ini telah menyebar luas di kalangan masyarakat, Nabi Muhammad SAW melalui salah satu hadisnya menegaskan bahwa tidak ada kesialan atau bencana yang khusus diturunkan pada bulan Safar.
Hadis tersebut berbunyi, “Tidak ada penyakit menular (yang terjadi tanpa izin Allah), tidak ada sangka buruk pada sesuatu kejadian, tidak ada malang pada burung hantu, dan tidak ada bala (bencana) pada bulan Safar (seperti yang dipercayai),” ( HR.Abu Hurairah ra).
Namun sebagian masyarakat masih mempertahankan tradisi ini sebagai bentuk ikhtiar dan doa.
Ritual dan Amalan Rebo Wekasan Dalam praktik Rebo Wekasan, terdapat beberapa amalan yang sering dilakukan, antara lain:
-
Penulisan Ayat-Ayat Al-Qur'an: Ayat-ayat tertentu dari Al-Qur'an ditulis di atas piring porselen putih, kemudian piring tersebut dicelupkan ke dalam air.
Air tersebut diminum sebagai bentuk jimat yang diyakini dapat mencegah bencana.
Ayat-ayat yang ditulis meliputi surah Yasin ayat 58, surah Al-Shaffat ayat 79-80, 109-110, 130-131, surah Az-Zumar ayat 73, surah Al-Ra'd ayat 24, dan surah Al-Qadr ayat 5.
-
Salat Sunnah Empat Rakaat: Disarankan untuk melaksanakan salat sunnah empat rakaat pada hari tersebut.
Setiap rakaat membaca surah Al-Fatihah, dilanjutkan dengan surah Al-Kausar 17 kali, Al-Ikhlas 5 kali, Al-Falaq 1 kali, dan An-Nas 1 kali.
Setelah shalat, dianjurkan membaca doa khusus untuk perlindungan dari malapetaka.
Ilustrasi Rebo Wekasan
Kitab Rujukan dan Wafaq Rebo Wekasan
Ritual Rebo Wekasan sering dirujuk dalam kitab Tajwid Madura dan Kanzun Najah , yang menyebutkan bahwa pada hari Rabu terakhir di bulan Safar, Allah SWT menurunkan 320.000 jenis malapetaka dari langit.
Sebagai bagian dari ritual, rajah atau wafaq Rebo Wekasan ditulis pada kertas polos dan dibacakan doa khusus yang berisi ayat-ayat perlindungan.
Doa tersebut dibaca sebanyak 100 kali dan ditujukan untuk menjauhkan diri dari segala bencana.
Baca Juga: Simak, Amalan Doa di Hari Rebo Wekasan Terlengkap
Kontroversi dan Keyakinan Masyarakat
Meskipun Nabi Muhammad SAW telah menyatakan bahwa tidak ada kesialan pada bulan Safar, sebagian masyarakat, khususnya di kalangan suku Jawa, masih mempercayai Rebo Wekasan sebagai hari yang keramat.
Bagi mereka, tradisi ini merupakan bentuk ikhtiar spiritual dan doa untuk menolak bala.
Keyakinan ini ditopang oleh praktik-praktik yang dilakukan turun-temurun, yang dianggap sebagai bagian dari warisan budaya dan keagamaan.
Kesimpulan
Rebo Wekasan, meskipun dipandang kontroversial dalam pandangan beberapa ulama, tetap menjadi bagian penting dari tradisi dan budaya masyarakat Muslim di Indonesia.
Dengan keyakinan yang tulus dan niat yang benar, tradisi ini dijalankan sebagai bentuk doa dan harapan agar selalu diberi perlindungan oleh Allah SWT dari segala mara bahaya.
Editor : Noor Syafaatul Udhma