Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Tak Banyak Orang Tahu, Ternyata Ini Cara Menguji Sahabat Sejati dan Teman Palsu

Ali Mustofa • Senin, 22 April 2024 | 00:36 WIB
Ilustrasi wanita dengan sahabatnya terlihat bahagia.
Ilustrasi wanita dengan sahabatnya terlihat bahagia.

KUDUS - Manusia sebagai makhluk sosial selalu tergantung kepada orang lain.

Untuk menjalin hubungan, manusia membutuhkan teman dalam melakukan aktivitasnya.

Dengan berteman pula, manusia akhirnya saling mengenal, membantu, mengingatkan, serta berbagi kebaikan dan kebahagiaan.

Pertemanan yang baik akan memunculkan dukungan bagi satu sama lainnya.

Dikatakan teman yang baik manakala selalu hadir dan tidak pernah meninggalkanmu dalam kondisi apapun, suka maupun duka.

Kita bisa tahu kemana harus pergi saat membutuhkan bantuan. Kita juga membutuhkannya dalam setiap perjalanan hidup.

Ternyata dalam hidup ini, hubungan pertemanan tak selamanya diisi dengan orang-orang yang baik. Ada juga yang seperti awan lewat.

Coba Anda hitung dari orang yang selama ini kenal, ternyata hanya segelintir saja yang benar-benar menjadi teman sejati.

Ada juga teman yang hanya pura-pura menjadi teman tapi palsu. Mereka hanya ada saat Anda sedang bahagia atau saat dia lagi butuh bantuan.

Dengan kata lain, mereka hanya memanfaatkan Anda dan hampir tidak pernah ada untuk Anda.

Pada awalnya, dia tampak menyenangkan berada di dekat Anda.

Tapi di belakang ternyata dia malah bergosip soal Anda. Lebih kejam lagi tiba-tiba menusuk dari belakang.

Maka disinilah letak pentingnya mempertimbangkan kualitas lingkungan pertemanan.

Bukan hanya pada persoalan memperbanyak pertemanan, melainkan ukuran kebaikan seseorang.

Berurusan dengan teman palsu memang melelahkan dan menjengkelkan.

Mereka melakukan hanya dekat saat ada maunya, dan suka berpura-pura karena ada motif terselubung.

Tapi sayangnya, kita jarang bisa mengenali apakah pertemanan yang dibangun itu tulus atau palsu.

Teman yang palsu memang tidak layak dibuat akrab karena hanya akan menjadi masalah.

Padahal yang kita inginkan adalah bisa berteman dengan seseorang yang jujur dan benar-benar tulus.

Oleh karena itu, memilih dan memilah teman bahkan sahabat adalah sebuah keharusan dilakukan. Supaya kita tidak salah dalam bergaul.

Jika salah pertemanan, membuat Anda merasa lelah dan tersiksa bahkan tertekan.

Sebab hubungan pertemanan bisa mempengaruhi kesehatan mental.

Di dalam Alquran digambarkan, sebuah kekecewaan dari seseorang akibat karena salah pilih teman.

Maka dalam menjalani hidup memilih teman jangan asal comot, perlu selektif.

Karena bagaimanapun kecelakaan kita banyak disebabkan karena pertemanan.

Nabi Muhammad SAW sering menganjurkan para sahabatnya untuk senantiasa bergaul dengan orang-orang saleh, tidak dengan orang-orang buruk.

Bagaimanapun juga perilaku buruk itu menular, sebagaimana juga perilaku baik.

"Perumpamaan kawan yang baik dan kawan yang buruk seperti seorang penjual minyak wangi dan seorang peniup alat untuk menyalakan api (pandai besi). Adapun penjual minyak wangi, mungkin dia akan memberikan hadiah kepadamu, atau engkau membeli darinya, atau engkau mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, mungkin dia akan membakar pakaianmu, atau engkau mendapatkan bau yang buruk." (HR. Bukhari, Muslim).

Dengan demikian lingkungan hidup sangat berpengaruh pada karakter seseorang.

Bahwasanya berteman atau bersahabat jangan sekali-kali memilih seseorang yang tamak keduniaan.

Sebab bersahabat dengannya itu adalah bagaikan bermain dengan racun yang dapat membunuh diri yang tidak mustahil akan ditelannya juga.

Diketahui, watak manusia suka meniru dan menyesuaikan dirinya pada sesuatu yang senantiasa dilihatnya.

Bahkan tabiat manusia itu dapat mencuri tabiat yang lainnya tanpa disadari oleh pemiliknya sendiri.

Oleh sebab itu mengeratkan persahabatan dengan orang yang tamak keduniaan dapat menyebabkan hati sendiri menjadi tamak pula.

Begitu pula jika kita berteman dan hidup dalam lingkungan yang baik, maka akhlak kita pun kurang lebih akan seperti mereka.

Di dalam Alquran dijelaskan, di hari akhirat nanti ada orang yang menyatakan penyesalannya karena salah memilih teman.

Yaitu setelah berteman bukannya mengingatkan kepada Tuhan, malah menyebabkan menjadi lupa kepada Tuhan, menjauhkan diri dari Tuhan.

Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam Surat Al Furqon: 27-29.

Artinya: “Dan (ingatlah) pada hari (ketika) orang-orang zhalim menggigit dua jarinya, (menyesali perbuatannya) seraya berkata, "Wahai! Sekiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama Rasul. Wahai, celaka aku! Sekiranya (dulu) aku tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku), sungguh, dia telah menyesatkan aku dari peringatan (Al-Qur'an) ketika (Al-Qur'an) itu telah datang kepadaku. Dan setan memang pengkhianat manusia."

Itulah sebabnya carilah teman yang bisa kira-kira bisa mendekatkan dirimu kepada Tuhanmu.

Serta yang bisa menyimpan rahasiamu.

Juga yang bisa mengabaikan keburukanmu dan banyak bercerita tentang kebaikan-kebaikanmu.

Kalau kriteria teman ini kamu dapatkan, berbahagialah Anda berteman dengan orang tersebut.

Orang bijaksana juga memberi saran bagaimana cara menguji sahabat kita itu sejati ataukah palsu.

Pertama, coba perlakukan dia dengan buruk, lalu lihat sikapnya apakah dia marah atau tidak.

Kedua, coba berhutang dengan dia, apakah diberi tahu atau tidak.

Ketiga, ketika kamu berjalan dengan dia dalam satu perjalanan, itu kamu akan tahu sifat aslinya. (top)

Editor : Ali Mustofa
#berteman #persahabatan #Allah SWT #manusia #teman