Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Ngaji Sejarah ke Ponpes Darurrohman Desa Jondang, Kedung, Jepara: Simpan Manaqib Syeikh Abdul Aziz

Nibros Hassani • Selasa, 2 April 2024 | 23:25 WIB
MENGAJAR: Pengurus Yayasan Darurrohman, Kiai Abdul Jalil mengajar murid yang juga santri Darurrohman.
MENGAJAR: Pengurus Yayasan Darurrohman, Kiai Abdul Jalil mengajar murid yang juga santri Darurrohman.

JEPARA - Tidak semua desa memiliki bukti tertulis perihal sejarah asal-usul desa itu.

Namun, sebuah pondok pesantren di Desa Jondang, Kecamatan Kedung, Kabupaten Jepara memiliki bukti itu.

Kisah dan asal-usul sejarah itu tertulis dalam bentuk manaqib Syeikh Abdul Aziz atai Syeikh Jondang.

Baca Juga: KH Baidlowi Lasem Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional

Di dalam kisahnya, terdapat cerita Kerajaan Bodrolangu yang usianya lebih lampau dari Era Ratu Kalinyamat.

Kisah yang kemudian menjadi sejarah Desa Telukawur dan Jondang.

Kini cerita tersebut dapat didapatkan dari pengurus Pondok Pesantren Darurrohman, Desa Jondang, Kecamatan Kedung, Kabupaten Jepara yakni Kiai Abdul Jalil.

Ia adalah anak dari penulis naskah sejarah tersebut.

Yang dulunya sumber kisahnya didapat dari informasi lisan melalui wawancara pribadi tokoh-tokoh di masa lalu.

Informasi-informasi itu kemudian dikumpulkan dan ditulis oleh ayahandanya -Romo KH Abdurrohman- dan disusun dalam bentuk manaqib.

Kini usia manaqib itu sudah puluhan tahun karena konon ditulis tak lama setelah Indonesia merdeka.

Manaqib “Syeikh Jondang atau Syeikh Abdul Aziz” itu memuat sejarah dua desa yakni Desa Telukawur dan Desa Jondang.

Latar waktu kisah itu adalah era Kerajaan Bodrolangu yang diduga sudah ada sebelum era Kerajaan Ratu Kalinyamat. Kisahnya juga disusun dengan bahasa Arab Pegon.

Abdul Jalil menceritakan, manaqib itu memuat perjalanan Syeikh Abdul Aziz saat menemukan Desa Jondang.

Syeikh Abdul Aziz ketika itu diceritakan datang dari Baghdad dan sempat berguru (ngaji) pada Sunan Muria Kudus.

Baca Juga: Polres Rembang Tangkap Sopir dan Kernet Asal Pati ”Kuras” Solar SPBU Lalu Dijual ke Nelayan, Begini Modusnya!

“Setelah ngaji itu, Ia dijodohkan dan kawin dengan Raden Ayu Roro Kuning, dan keduanya pindah ke Desa Jondang ini, ketika itu kendaraannya adalah Harimau Putih” jelas Abdul Jalil.

Raden Ayu Roro Kuning adalah perempuan yang sangat cantik.

Karena sangat cantik, Syeikh Abdul Aziz membuat lukisan yang sangat mirip dengan wajah istrinya dan dibawa setiap Ia pergi bekerja di sawah untuk ditatap setiap waktu.

Namun, suatu kali lukisan itu hilang dan ternyata ditemukan oleh Raja Bodrolangu, bernama Joko Wongso—yang kerajaannya di sekitar Telukawur.

Raja itu tertarik dan meminta kepada prajuritnya untuk  mencari perempuan yang sangat cantik itu.

Hingga akhirnya ketemu di rumahnya, Raden Ayu Roro Kuning yang sendirian di rumah dibawa oleh prajurit kerajaan.

Baca Juga: Dipastikan Semarak, Festival Tong-tonglek di Rembang Datangkan Penyanyi Viral Difarina Indra dari Tuban dan Fallden

Syeikh Abdul Aziz yang tidak tahu menahu kaget istrinya tidak ada di rumah. Menghilang.

“Raja Joko Wongso ingin memperistri Raden Ayu Roro Kuning. Raden Ayu Roro Kuning tidak mau. Akhirnya Raden Ayu Roro menyampaikan satu syarat kepada raja. Ia harus mencari bukur yang menari di atas piring. Tapi tidak ketemu. Sampai akhirnya Raja sendiri yang terjun ke sungai cari bukur itu, pakai pakaian compang-camping sampai tidak kelihatan kalau dia itu raja,” jelas Abdul Jalil.

Sementara itu, Syeikh Abdul Aziz masih mencari istrinya menggunakan kesenian tradisional kentrung sejak dari rumahnya Jondang sampai akhirnya tiba di dekat Telukawur yakni Semat.

Raden Ayu yang mendengar suara kentrung itu meminta kepada prajurit untuk mengundang orang yang memainkan kentrung itu selagi tak ada raja.

Suami Istri itu akhirnya bertemu dan Raden Ayu meminta suaminya untuk langsung mengenakan mahkota dan pakaian yang sedang tidak dikenakan raja untuk mengelabuhi prajurit.

Setelah itu Syeikh Abdul Aziz meminta agar prajurit yang berhasil ia kelabuhi bisa mencari seorang pencuri di Pantai Telukawur—yakni Raja Joko Wongso.  

Orang kerajaan terbelah menjadi dua kubu. Yakni yang percaya Raja Joko Wongso dan yang tidak.

Hingga akhirnya terjadi perang antar dua kubu itu (perang Awur-awuran) dan Joko Wongso, sang raja dari Kerajaan Bodrolangu meninggal dunia. 

 

Dipelajari Santri sampai Hafal

KISAH sejarah itu kini masih dirawat diberlakukan sebagai warisan intelektual Pondok Pesantren Darurrohman.

Kisahnya diajarkan turun-temurun kepada puluhan murid SMP Darurrohman di sana dan dihafalkan.

“Mayoritas murid-murid sudah hafal sejarahnya. Karena ada dalam manaqib, masing-masing mereka hafal dengan nada (dilagukan),” jelas Abdul Jalil.

Abdul mengaku, pondoknya memang tidak megah dan besar seperti pondok lain. Namun banyak muridnya semangat untuk mencari ilmu.

“Di pondok sini ada 60-an santri putra dan putri, tingkatnya SMP. Pengajaran kami ada pelajaran umum dan agama. Pondok kami sistemnya seperti asrama. Berangkat Isya, pulang setelah subuh untuk mandi di rumah lalu ke sekolah lagi,” jelasnya.  

Baca Juga: Bikin Bangga, Siswa Safin Sport School Pati Kembali Dapat Panggilan Timnas Putri U-17

Selain diajarkan kepada murid-murid, manaqib Syeikh Jondang itu juga dibacakan setiap saat haul desa, 13 suro penanggalan Jawa.

Sudah menjadi tradisi turun temurun untuk mengenalkan masyarakat kepada sejarahnya.

Sehingga harapannya, pengetahuan sejarah itu masih diingat oleh generasi muda di masa depan.

Sebagai pemicu semangat, terlebih di zaman itu belum semua orang mampu menulis kisah sejarah dalam bahasa Arab dan pegon. (nib/war)

Editor : Ali Mustofa
#Ratu Kalinyamat #jepara #Syeikh Jondang #pondok pesantren #kesenian tradisional