GROBOGAN – SDN 3 Genengadal, Desa Genengadal, Kecamatan Toroh, Kabupaten Grobogan, hanya mendapat empat siswa pada tahun ajaran baru 2024/2025.
Hal ini terlihat pada hari pertama masuk sekolah, tak berbeda dengan sekolah lain.
Siswa yang datang turut diantar orangtua untuk masuk ke ruangan kelas.
Namun, tak banyak siswa yang masuk kelas satu, hanya berjumlah empat orang.
Murid yang semuanya lelaki ini mengikuti hari pertama dengan perkenalan.
Serta mas pengenalan lingkungan sekolah (MPLS) yang diikuti 63 siswa di halaman sekolah.
Keempat anak tersebut tampak senang karena memiliki banyak teman dari kelas 2 hingga 6.
Namun, sesampainya di kelas mereka kembali sepi karena hanya berisikan empat orang. Mereka semuanya berasal dari Dusun Kurukan di desa tersebut.
Kepala SDN 3 Genengadal Wahyu Tri Ratnasari mengeluhkan sulitnya mendapatkan siswa di tahun ajaran baru ini.
Berbagai cara telah dilakukan agar menarik minat orangtua siswa. Namun, upaya tersebut belum membuahkan hasil.
“Banyak kendala yang didapat. Karena sekolah ini jaraknya berdekatan dengan MI dengan iming-iming seragam gratis. Sedangkan kita negeri tidak ada seragam gratis, tapi kemarin kami punya ide untuk menggratiskan kaus olahraga,” ujarnya.
Upaya tersebut ternyata belum mampu menarik perhatian orangtua siswa.
“Mungkin mereka cenderung ingin anaknya memiliki background Islami. Padahal kita juga ada pembiasaan keagamaan. Mulai dari pembiasaan membaca Asmaul Husna sebelum memulai pembelajaran, kemudian salat dhuha yang didampingi guru. Ke depan juga ada salat duhur bersama,” ujarnya.
Tak hanya upaya tersebut, pihaknya juga tengah mengusulkan perbaikan sekolah agar kembali dilirik warga sekitar.
“Ini baru usul di anggaran Aspirasi, jika dapat nantinya untuk pembangunan gapura dan papan nama sekolah. Karena belum ada, padahal itu identitas sekolah," ujarnya.
"Kemudian juga gedung perpustakaan yang belum ada. Kami tengah usulkan ke Dinarpusda untuk sering didatangi pusling dulu, baru nanti minta hibah buku,” jelasnya.
Pihaknya juga berharap agar Disdik tak melakukan regruping dengan sekolah lainnya. “Kasihan warga dekat sini kalau di regruping.
Sebenarnya jumlah siswa sedikit juga karena saat itu jumlah siswa TK-nya sedikit.
Imbasnya naik ke kelas satunya juga sedikit, semua siswa ini yang dulunya dari TK sini,” ujarnya. (int)
Editor : Ali Mustofa