RADAR KUDUS - Perguruan tinggi mengagungkan Tri Dharma: Penelitian, Pendidikan, Pengabdian.
Seolah hanya yang belajar atau lulusan perguruan tinggi yang bisa melakukannya.
Apakah iya memang demikian?
Lantas, apa gunanya pendidikan sejak TK, SD, SMP, SMA yang membutuhkan waktu belasan tahun?
Apakah siswa SMA/sederajat di Indonesia yang telah sekolah belasan tahun memang tak memiliki kemampuan untuk sampai pada level melakukan Tri Dharma itu?
Atau malah sistem pendidikan kita yang mengkerdilkan dan membentuk mereka sehingga hanya jago di ruang kelas?
Sehingga tak bisa menjadi bagian dari problem solving di lingkungan sekitarnya?
Berkaca dari apa yang dilakukan Suhadi, pertanyaan dan pernyataan di atas gugur.
Sebab, ia menerapkan sistem pembelajaran bernama learning tour yang membuat siswa SMA bisa melakukan penelitian, pengabdian, hingga ikut memetakan masalah di sekitarnya, sampai berkontribusi pada pemerintah untuk memperoleh data dan menjadi bekal penentu kebijakan.
Bahkan, juga turut membantu suatu wilayah mempromosikan potensi wisatanya.
Sungguh membanggakan.
Berikut ini beberapa testimoni dari pemerintah desa dan komunitas atas apa yang telah dilakukan Suhadi dengan siswa-siswa SMA tempat ia mengajar.
"Kegiatan learning tour yang menerjunkan siswa ke masyarakat, bisa menjadi aspirasi bagi desa untuk menyusun perencanaan. Karena ada data dan kajian yang diperoleh. Juga menjadi dasar kami membuat kebijakan dan program. Termasuk mengisi website desa. Karena jarang diisi," ucap Sekretaris Desa Dasun, Kecamatan Lasem, Rembang, Exsan Ali Setyonugroho.
"Hadirnya learning tour sangat membantu promosi wisata di desa kami. Dengan itu kearifan lokal bisa terangkat. Kami harapkan learning tour ini bisa ditingkatkan. Dijadikan kurikulum dunia pendidikan. Sehingga siswa bisa tahu kearifan lokal masing-masing daerah. Saya sangat berterimakasih karena siswa-siswi membantu mempromosikan potensi wisata di desa kami," jelas pengelola Desa Wisata Balongmulyo, Kecamatan Kragan, Rembang.
"Dua kali learning tour di desa kami. Dengan learning tour siswa bisa dekat dengan masyarakat. Tahu bagaimana mereka beraktivitas. Jadi bisa menjadi bekal mereka kelak saat kembali dan mengabdi ke masyarakat," ujar Sujarwo Kepala Desa Dasun, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang.
Saat acara bersama MGMP Sosiologi di Jawa Tengah pada 14 Juni di Semarang, Suhadi yang menjadi pembicara menjelaskan tentang bagaimana ia melakukan dan apa yang mereka hasilkan dari learning tour.
Selama menjadi guru SMA N 1 Pamotan di Rembang, ia telah beberapa kali menerapkan sistem itu.
Ia ajak siswanya ke pasar, kampung nelayan, vihara, tempat wisata, UMKM, kelompok masyarakat, hingga ke petani.
"Saat ke Vihara anak-anak tahu bahwa meski beda kepercayaan, orang-orang di sana baik. Kaget mereka. Sehingga ini bisa jadi pembelajaran soal integrasi sosial," jelasnya.
Kemudian saat mengajak siswa-siswinya ke kampung dan pasar nelayan, para pelajar menemukan bagaimana keseharian nelayan. Seperti pola interaksi, struktur masyarakat, hingga masalah sosial.
"Ada temuan bagus bahwa anak-anak akhirnya mengetahui di sana ada sistem jaringan sosial. Ada pola berbagi. Para janda, anak yatim boleh mengambil ikan di setiap pedagang. Temuan ini hanya mungkin didapatkan kalau berkunjung," jelasnya.
Menurutnya, cara itu bisa memberikan pemahaman yang holistik untuk mempelajari nelayan.
Daripada sekadar menjelaskan nelayan adalah masyarakat yang tinggal di pinggir laut.
"Mereka bisa tahu bahwa tata lingkungan di kampung nelayan semrawut, akses air bersih susah, orang punya kapal lebih cepat kaya, dan realitas lain," imbuhnya.
Pihaknya juga pernah mengajak siswanya learning tour ke Sedulur Sikep Samin di Blora.
Dengan itu, siswanya belajar tentang nilai-nilai yang dipegang teguh kelompok masyarakat tersebut. Seperti tidak mau merusak alam, jujur, dan hidup sederhana.
Selain itu learning tour pernah juga berlangsung di masyarakat pinggir pantai.
Siswanya diajak untuk melihat perubahan ekologi dan kebencanaan.
"Hasilnya dari situ ada respon menanam. Ada ide wisata pantai. Mengembangkan dan melakukan perubahan wisata Karang Jahe," tuturnya.
Suhadi menambahkan pernah juga learning tour dilangsungkan di suatu desa wisata.
Kemudian siswanya ia minta membuat video, mengambil foto yang kemudian diunggah di semua sosial media masing-masing siswa.
Dari situ akhirnya tempat wisata tersebut makin dikenal masyarakat.
"Saya pikir ke depan anak-anak ini harus punya visi. Kalau ditunjukkan bagaimana masyarakat sekitarnya, kondisinya, masalahnya, maka itulah setidaknya yang kita titipkan. Kalau anak dititipkan begitu, kelak ke depan mereka bisa jadi punya visi menyelesaikan masalah itu. Bisa jadi mereka jadi pejabat, akademisi, dan lainnya. Kalau tidak memahami kondisi masyarakat, kecil kemungkinan mereka punya gerakan ke depan mau apa," terangnya.
Hal positif lain yang diperoleh dari learning tour adalah terbentuknya kolaborasi dan sinergi antara sekolah dan pemerintah untuk memetakan problem sosial secara bersama.
Suhadi telah meninggalkan jejak positif yang berkesan di dunia pendidikan di Rembang. Suhadi sejak awal 2024 pindah mengajar ke SMAN 1 Jakenan Pati. Dan berencana mengkampanyekan sistem learning tour di sekolah tersebut.(tos/khim).
Editor : Abdul Rokhim