GROBOGAN – Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) luncurkan program "Sastra Masuk Kurikulum".
Ratusan judul buku sastra direkomendasikan untuk dibaca para pelajar di setiap jenjang pendidikan.
Penambahan referensi pustaka itu yang dibutuhkan sekolah. Teknisnya menunggu instruksi pusat.
Program tersebut diketahui sebagai turunan dari episode Merdeka Belajar ke-15 tentang kurikulum merdeka dan platform merdeka belajar.
Hal itu didasarkan Peraturan Mendikbud Ristek nomor 12 tahun 2023 untuk menguatkan kompetensi dan budaya literasi membaca.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Grobogan Purnyomo melalui Sekretaris Disdik Grobogan, Wahono menyampaikan sejak dulu sastra memang telah masuk dalam sebuah pembelajaran bahasa.
"Bukan sesuatu yang baru, tapi ini sebuah peningkatan menjadi co-kulikuler. Sebelumnya gerakan 15 menit membaca sebelum pembelajaran dimulai sudah ada," ujarnya.
"Adanya pojok baca maupun siswa diminta untuk membuat resume atau semacam pohon literasi," tanggapnya saat ditemui di ruangannya Senin (27/5).
Akan tetapi yang sebelumnya gerakan literasi sekolah tersebut buku yang dibaca masih umum.
Kini dengan adanya program sastra masuk kurikulum pihaknya masih menunggu instruksi dari pusat.
"Dasar kita sebelum hal itu disosialisasikan ke sekolah-sekolah ya dengan adanya regulasi atau surat. Sampai saat ini kami belum menerimanya," katanya.
Apabila ke depan program tersebut terealisasi hingga ke kabupaten kota, menurut Wahono masih perlu dipikirkan skema pengadaan mengenai pustaka atau buku yang termasuk ke dalam 177 judul yang telah ditetapkan.
"Pengadaan buku nantinya akan disuplai dari pusat atau dana bantuan operasional sekolah (BOS) masih belum tahu," pungkasnya. (fik/war)
Editor : Ali Mustofa