Globalisasi adalah terbentuknya sistem organisasi dan komunikasi antarmasyarakat diseluruh dunia untuk mengikuti sistem dan kaidah-kaidah yang sama (Selo Soemarjan,1980). Menurut (Albrow, 1998) bahwa globalisasi adalah keseluruhan proses dimana manusia dibumi ini dimasukkan kedalam masyarakat dunia tunggal, atau masyarakat global.
Pengaruh globalisasi terhadap remaja begitu kuat. Pengaruh globalisasi tersebut telah membuat banyak remaja kehilangan kepribadian diri sebagai bangsa Indonesia. Hal ini ditunjukkan dengan gejala-gejala yang muncul dalam kehidupan sehari-hari. Dari cara berpakaian, gaya rambut yang banyak mengikuti budaya barat. Selain itu di dunia remaja akhir-akhir ini juga banyak di beritakan oleh fenomena dan masalah yang terjadi pada remaja sekarang, seperti banyaknya tawuran antar pelajar, kebiasaan bolos sekolah, meminum-minuman keras, kecanduan rokok, dan tidak jarang remaja mengkonsumsi Narkoba.
Dengan berbagai pengaruh lingkungan yang berbeda-beda ini, membuka peluang yang sangat besar bagi seorang remaja untuk memiliki kepribadian ganda (split personality) karena gangguan pada masa remaja (childhood disorder) yang kalau dibiarkan terus-menerus dapat berakibat pada kejahatan remaja (juve-nile delinquency).
Disinilah peran pentingnya pendidikan karakter agama dalam mengantisipasi degradasi moral bagi remaja. Dalam pendidikan karakter diartikan sebagai sebuah usaha untuk mendidik anak-anak agar dapat mengambil keputusan dengan bijak dan mempraktikkan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga mereka dapat mendapatkan kontribusi yang positif kepada lingkunganya.
Para remaja di Desa Karangwage dibawah asuhan Kiai diarahkan menjadi remaja yang memiliki karakter religius dan dekat dengan Musholla. Karena adanya kegiatan yang digagas oleh Kiai tersebut dapat membentuk karakter yang religius dan remaja dapat memiliki kemampuan untuk memahami dan mengenal ilmu agama lebih dalam, saling peduli kepada sesama. Para remaja melaksanakan kegiatan tersebut tanpa adanya paksaan, dan sudah berlangsung selama 3 tahun terakhir. Manfaat lain dari pembentukan karakter religius ini dapat mendekatkan remaja dengan musholla, belajar tentang agama dan melaksanakan ibadah kepada Allah.
Berdasarkan pemaparan di atas alasan peneliti melakukan penelitian tersebut karena rasa ingin tahu yang tinggi dan ingin meneliti lebih lanjut tentang “Peran Kiai dalam penguatan karakter religius remaja (Jama’ah Musholla Ar-rohman Karangwage-Trangkil-Pati).
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk kegiatan penguatan karakter religius remaja, untuk menganalisis hasil dari kegiatan penguatan karakter religius remaja, untuk menganalisis model kepemimpinan yang diterapkan dalam penguatan karakter religius remaja di desa Karangwage, Trangkil, Pati.
Pada penelitian ini peneliti menggunakan metode kualitatif yang didasarkan pada studi kasus. Studi kasus berasal dari terjemahan dalam bahasa Inggris “ A Case Study’’ atau “ Case Studies’’. Kata “ Kasus ” diambil dari kata case yang menurut Kamus Oxford Advanced Learner’s Dictionary Of Current English (1989:173).
Dari hasil penelitian peran kiai dalam penguatan karakter religius remaja (Jama’ah Musholla Ar-Rohman Desa Karangwage-Trangkil-Pati) dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1. Bentuk Kegiatan Penguatan Karakter Religius Remaja:
a. Nilai Ilahiyah berupa shalat subuh dimusholla, tadarusan ketika selesai shalat subuh, tadarus ketika selesai shalat maghrib + setoran hafalan, tadarusan setelah shalat ashar (Bulan Ramadhan),yasinan pada hari Rabu malam Kamis, rutinan berjanjen pada hari kamis, dan Puasa sunah senin kamis dan hari besar.
b. Nilai Insaniyah
Belajar wajib sehabis magrib sampai isya dirumah kiayi, santunan anak yatim, dan bakti sosial.
2. Hasil dari Kegiatan Pembentukan Karakter Religius Remaja:
a. Secara Ilahiyah dapat meningkatkan ketaqwaan kepada Allah SWT.
b. Secara insaniyah hasil penguatan karakter religius remaja dapat meningkatkan kepedulian remaja di lingkungan sosial.
3. Model Kepemimpinan yang di terapkan Dalam Penguatan Karakter Religius Remaja
Berdasarkan tipe kepemimpinan, dalam penguatan karakter religius remaja kiai menggunakan tipe kepemimpinan paternalistic. Dalam berkomunikasi dan mengajar para remaja kiai tersebut memiliki gaya kebapakan dan sekaligus menggurui.
Berdasarkan gaya kepemimpinan, dalam penguatan karakter religius remaja kiai menggunakan gaya kepemimpinan gaya motivatif. Hal tersebut dapat di ketahui dari wawancara dengan kiai. Pertama kiai menyampaikan informasi mengenai ide-idenya kepada santri berupa kegiatan yang di rancang di musholla. Kemudian program atau kegiatan-kegiatan tersebut dilaksanakan oleh para santri. Agar kegiatan tersebut berjalan dengan baik, kiai perlu memberikan dorongan dan semangat kepada para santri. Dengan adanya pendampingan dan pemberian nasehat kegiatan tersebut dapat berjalan dengan lancar.
Penelitian ini dapat disimpulkan bahwa kegiatan penguatan karakter religius remaja belum sepenuhnya berjalan sesuai aturan yang telah disepakati bersama. Hal tersebut karena kurang adanya dukungan dari orang tua santri laki-laki. (adv) Editor : Ali Mustofa