Saat ini bangsa Indonesia sedang menghadapi berbagai tantangan yang berat di bidang pendidikan, terutama dalam konteks pembangunan masyarakat yang berkarakter, terutama karakter religius. Guru Pendidikan Agama Islam merupakan ujung tombak dalam pembentukan karakter religius siswa, meskipun dalam pembelajarannya memiliki kapasitas waktu yang lebih sedikit dibandingkan dengan guru kelas namun memiliki tanggung jawab yang begitu besar untuk dapat membentuk karakter religius siswa.
Kini disadari bahwa begitu pentingnya pendidikan karakter (dalam agama Islam dikenal dengan pendidikan akhlaq karimah/akhlaq mulia). Kecerdasan intelektual tanpa diimbangi karakter atau akhlaq mulia maka tidak akan ada gunanya. Karakter atau akhlaqul karimah adalah sesuatu yang sangat mendasar dan saling melengkapi (Sajadi, 2019).
Pendidikan karakter religius dimasa sekarang ini mengalami penurunan, seperti yang bisa kita lihat banyak sekali terjadinya kekerasan, pornografi, tawuran dan kejahatan lainnya. Sehingga dalam dunia pendidikan peran guru PAI sangat penting dalam pembentukan karakter religius peserta didik. Dengan adanya pendidikan karakter religius ini maka diharapkan dapat membentuk karakter religius peserta didik sehingga bisa menjadi manusia yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, kreatif cakap (Jannah, 2019).
Dari penjelasan di atas dapat penulis tarik kesimpulan bahwa pembentukan karakter religius peserta didik sangatlah penting. Setelah lingkungan keluarga maka yang kedua yang dapat mempengaruhi karakter religius peserta didik adalah lingkungan sekolah yaitu melalui Pendidikan Agama Islam baik di dalam Kegiatan Belajar Mengajar maupun diluar KBM.
Kebijakan pembatasan sosial akibat wabah Covid-19, sistem pendidikan online dinilai kurang efektif karena banyak kendala dalam proses pelaksanaannya. Salah satu penyebabnya adalah keterbatasan jaringan koneksi internet di sejumlah daerah di Indonesia serta kurangnya intensitas interaksi secara langsung antara guru dengan siswa. Hal ini juga berdampak pada proses pemantauan karakter religius siswa, karena kurangnya bertatap muka antara guru dan siswa, hingga seorang guru sulit untuk memantau kegiatan siswanya ditambah lagi dengan kesibukan orang tua yang harus bekerja di luar rumah. Sistem pendidikan yang menekan pada pendidikan akhlak perlu mendapatkan perhatian khusus, ketika dunia pendidikan sedang menghadapi kemerosotan moral.
Setelah kurang lebih selama 2 tahun kita dalam kondisi pandemi, sehingga pembelajaran dilaksanakan secara daring, maka hal tersebut jelas sangat mempengaruhi pola hidup anak-anak, kemalasan, ketidak disiplinan akan secara otomatis menghinggapi pola hidup mereka. Maka dari itu sebagai seorang guru kita perlu memiliki kreatifitas bagaimana membangun semangat siswa untuk bisa melaksanakan pembelajaran daring dengan tetap menanamkan niliai-nilai religius dan kedisiplinan kepada siswa kita. (*) Editor : Saiful Anwar