RADAR KUDUS – Setiap memasuki bulan Suro dalam penanggalan Jawa, suasana malam di Desa Soneyan, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati, berubah menjadi lebih semarak.
Ratusan cahaya obor yang dibawa warga mengelilingi jalan-jalan desa menghadirkan pemandangan yang memikat sekaligus sarat makna.
Tradisi yang dikenal dengan nama Lamporan ini telah berlangsung turun-temurun dan hingga kini tetap menjadi salah satu warisan budaya yang dijaga oleh masyarakat setempat.
Baca Juga: Tradisi Lamporan Kembali Digelar di Soneyan, Pemkab Pati Tegaskan Komitmen Lestarikan Budaya Lokal
Bagi warga Desa Soneyan, Lamporan bukan hanya sebuah perayaan tahunan yang menghibur.
Tradisi tersebut merupakan simbol penghormatan terhadap peninggalan para leluhur yang telah diwariskan selama puluhan tahun.
Keberlangsungannya menjadi bukti kuat bahwa masyarakat masih memegang teguh nilai-nilai budaya sebagai bagian dari identitas desa.
Berdasarkan cerita yang berkembang di tengah masyarakat, Lamporan pada masa lalu dilaksanakan sebagai ikhtiar memohon perlindungan kepada Tuhan sekaligus simbol penolak bala.
Arak-arakan obor yang mengelilingi kampung dipercaya melambangkan doa agar desa dan seluruh warganya dijauhkan dari berbagai musibah, serta senantiasa diberikan keselamatan, kedamaian, dan keberkahan dalam menjalani kehidupan.
Tradisi ini juga mencerminkan kuatnya semangat gotong royong yang masih hidup di tengah masyarakat.
Jauh sebelum hari pelaksanaan, warga bersama-sama menyiapkan berbagai keperluan, mulai dari membuat obor, menghias lokasi kegiatan, hingga mengatur jalannya prosesi.
Seluruh elemen masyarakat tanpa memandang usia ikut berpartisipasi sehingga Lamporan benar-benar menjadi milik bersama.
Keterlibatan semua lapisan warga menunjukkan bahwa budaya mampu menjadi perekat hubungan sosial.
Di tengah perkembangan zaman yang cenderung membuat masyarakat semakin sibuk dengan aktivitas masing-masing, Lamporan menghadirkan ruang untuk berkumpul, saling membantu, dan mempererat rasa kekeluargaan.
Tidak mengherankan jika tradisi ini selalu dinantikan setiap kali bulan Suro tiba.
Selain memperkuat kebersamaan, Lamporan juga memiliki nilai edukatif bagi generasi muda.
Anak-anak dan remaja yang ikut dalam prosesi dapat mengenal sejarah desa sekaligus memahami pentingnya melestarikan tradisi yang diwariskan oleh para pendahulu.
Melalui keterlibatan langsung, mereka diharapkan mampu meneruskan tradisi tersebut agar tetap hidup di masa mendatang.
Obor yang menjadi ciri khas Lamporan pun menyimpan filosofi yang mendalam.
Nyala api di tengah gelapnya malam dimaknai sebagai lambang harapan, semangat, dan petunjuk dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
Cahaya tersebut seolah mengingatkan bahwa persatuan, kebersamaan, dan kerja sama merupakan kekuatan utama yang mampu membawa masyarakat melewati berbagai rintangan.
Dalam beberapa tahun terakhir, Tradisi Lamporan semakin dikenal di berbagai daerah.
Berkat perkembangan media sosial, foto dan video prosesi arak-arakan obor banyak dibagikan oleh masyarakat sehingga menarik perhatian wisatawan maupun pecinta budaya.
Tidak sedikit pengunjung yang datang langsung ke Desa Soneyan untuk menyaksikan kemeriahan tradisi yang unik tersebut.
Meski popularitasnya terus meningkat, warga berharap Lamporan tidak hanya dipandang sebagai tontonan semata.
Mereka ingin masyarakat juga memahami nilai filosofis yang terkandung di balik setiap prosesi.
Bagi masyarakat Soneyan, menjaga Lamporan berarti merawat sejarah desa, mempertahankan identitas budaya, sekaligus melestarikan nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh leluhur.
Melalui barisan obor yang menerangi jalan desa setiap bulan Suro, Lamporan terus mengajarkan arti penting kebersamaan, gotong royong, rasa syukur, dan kepedulian antarsesama.
Dengan dukungan seluruh masyarakat, terutama generasi muda, tradisi khas Kabupaten Pati ini diharapkan tetap lestari dan menjadi warisan budaya yang terus dikenal serta dibanggakan hingga masa mendatang. (Hilda)
Editor : Ali Mustofa