PATI – Dampak pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sejumlah sekolah sebelumnya sempat dirasakan langsung oleh para pedagang kantin.
Sejumlah pemilik kantin mengaku mengalami penurunan omzet karena sebagian kebutuhan makan siswa telah ditanggung oleh program tersebut.
Namun setelah adanya penghentian sementara program MBG di beberapa sekolah, kondisi mulai berubah.
Para pedagang kantin di SMKN 4 Pati, misalnya, kini kembali merasakan peningkatan jumlah pembeli yang datang ke kantin sekolah.
Wati, salah satu pemilik kantin, menyebut bahwa saat program MBG masih berjalan, jumlah pembeli di kantinnya turun cukup signifikan.
Siswa yang biasanya membeli makanan kini lebih banyak mengurangi belanja di kantin.
“Waktu MBG jalan, pembeli memang turun. Biasanya anak-anak makan di sini, tapi jadi berkurang,” ujarnya.
Ia menambahkan, saat program tersebut aktif, sebagian besar siswa hanya membeli minuman ringan seperti es, bahkan ada yang sekadar meminjam sendok untuk menyantap makanan dari program MBG.
“Yang ramai paling cuma beli es. Ada juga yang pinjam sendok saja,” katanya.
Sebelum adanya program MBG, kantin sekolah tersebut dikenal cukup ramai pada setiap jam istirahat.
Siswa biasanya membeli makanan berat pada istirahat pertama, lalu kembali membeli jajanan pada istirahat berikutnya.
Namun pola tersebut berubah ketika program MBG mulai diterapkan, karena kebutuhan makan siang siswa sudah terpenuhi dari program pemerintah.
Kini, setelah program dihentikan sementara, aktivitas kantin kembali menggeliat.
Penjualan makanan kembali meningkat dan siswa mulai kembali berbelanja seperti sebelumnya.
“Sekarang sudah mulai normal lagi, anak-anak beli nasi lagi. Lumayan, sehari masih bisa dapat pemasukan,” ujar Wati.
Ia juga berharap adanya keterlibatan kantin sekolah dalam pelaksanaan program MBG ke depan agar tidak saling merugikan antara program dan pelaku usaha kecil.
“Kalau bisa kantin juga dilibatkan, supaya kami tetap bisa jalan,” tambahnya.
Pendapat serupa disampaikan Puput, pemilik kantin lainnya.
Ia menilai perlu adanya pengaturan yang lebih seimbang agar program MBG tidak mematikan usaha kantin sekolah.
Menurutnya, pemerintah bisa mengatur waktu distribusi makanan agar siswa masih tetap memiliki kesempatan jajan di kantin.
“Kalau dibagi pagi mungkin masih bisa jajan lagi di istirahat berikutnya,” ujarnya.
Para pedagang berharap ke depan ada solusi yang lebih adil, sehingga program MBG tetap berjalan tanpa mengganggu keberlangsungan usaha kecil di lingkungan sekolah. (adr)