RADAR KUDUS - Upaya pelestarian budaya tumbuh di Desa Mojomulyo, Kecamatan Tambakromo, Kabupaten Pati. Adalah Batik Pesantenan, karya tangan-tangan perempuan desa yang tak hanya mempertahankan tradisi, tetapi juga mengangkat sejarah dan kebanggaan daerah lewat selembar kain.
Usaha batik ini digagas oleh Sri Puji Astuti, yang sejak 2013 bertekad menghidupkan kembali tradisi membatik di desanya. Nama Pesantenan sendiri diambil dari sebutan lama Kadipaten Pati pada masa Majapahit, sebagai wujud penghormatan pada akar sejarah daerah.
Motif-motif yang dihadirkan bukan sekadar hiasan. Ada motif Pintu Gerbang Majapahit, Genuk Kemiri, Genting Ki Ageng Ngerang, Semanggi Vaksin, dan berbagai simbol budaya khas Pati lainnya. Setiap helai batik menggambarkan potongan sejarah dan nilai-nilai luhur masyarakat pesisir utara Jawa.
Tak hanya berorientasi pada estetika, produksi batik ini juga menjadi sarana pemberdayaan perempuan desa. Lebih dari puluhan warga sekitar kini ikut bekerja sebagai pembatik.
“Kami ingin perempuan di sini punya penghasilan sendiri, tapi juga tetap bisa melestarikan budaya bangsa,” ujar Ririn Unfairi, salah satu karyawan Batik Pesantenan.
Proses pembuatan batik tulis ini masih dilakukan secara tradisional. Mulai dari menggambar pola, mencolet warna, memberi dasar, hingga menyetrika kain, semua dilakukan manual dengan ketelitian tinggi. Satu lembar batik bisa memakan waktu hingga satu bulan untuk diselesaikan.
Batik Pesantenan Mojomulyo kini tak hanya dikenal di pasar lokal. Produk mereka telah menembus pasar internasional seperti Malaysia, Singapura, dan Australia. Inovasi terus dilakukan agar batik khas Pati mampu bersaing dengan produk nasional lainnya tanpa kehilangan jati diri budaya.
“Harapan kami, Batik Pesantenan bisa semakin maju dan diterima oleh semua kalangan. Semoga generasi muda ikut bangga memakai batik daerah sendiri,” harap Ririn.
Melalui kerja keras dan semangat pelestarian budaya, Batik Pesantenan Mojomulyo menjadi bukti bahwa UMKM lokal mampu tumbuh dengan karakter kuat: menjaga tradisi, memberdayakan masyarakat, dan membawa nama Pati ke panggung dunia. (Fad)
Editor : Mahendra Aditya