PATI - Sudah lebih dari sebulan, Desa Tunggulsari di Kecamatan Tayu dilanda banjir rob.
Kini desa itu menghadapi ancaman serius, tenggelam perlahan, seperti yang telah terjadi di beberapa desa di Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak.
Sebanyak 38 rumah warga di RT 05 RW 01 kini terendam rob. Bahkan, satu musala di wilayah itu juga ikut terendam air.
Genangan yang terus-menerus ini tidak hanya menghambat aktivitas harian masyarakat, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran besar terhadap masa depan desa tersebut.
“Kalau tidak segera ditanggulangi, nasibnya bisa seperti Sayung. Beberapa desa bisa hilang,” kata Karnawi, seorang aktivis pelestari mangrove asal Tunggulsari, memperingatkan.
Peringatan Karnawi bukan tanpa dasar.
Abrasi yang semakin parah dan rob yang datang silih berganti telah menggerus tanah, menghancurkan tambak, dan mengancam kehidupan warga setiap hari.
Ancaman ini juga diakui oleh Kepala Desa Tunggulsari, Setyo Wahyudi, yang menyebut bahwa pihaknya sudah melakukan berbagai upaya penanggulangan.
Namun, menurutnya, tanpa keterlibatan nyata dari pemerintah yang lebih tinggi, semua usaha itu akan sia-sia.
“Kami khawatir jika tidak ada penanganan secara serius, Tunggulsari akan mengalami nasib yang sama seperti Sayung.
Sekarang saja warga sudah mulai menggunakan warung dan bangunan seadanya untuk menjaga tambak-tambak mereka,” ujar Setyo.
Salah satu langkah yang pernah diambil adalah peninggian jalan. Sayangnya, hal itu belum mampu mengatasi genangan air.
Tinggi permukaan air rob kerap melebihi permukaan jalan yang sudah ditinggikan, dan dalam kondisi tertentu, genangan bisa mencapai 40 sentimeter.
“Kami memang melakukan peninggian jalan, tapi rob terus datang. Jadi meskipun jalan lebih tinggi, tetap tergenang, bahkan bisa sampai 40 sentimeter,” terang Setyo. (Andre Faifhil Falah)
Editor : Ali Mustofa