Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Dihantam Rob, Benteng Alam Hutan Mangrove di Tunggulsari Pati Rusak, Begini Penampakannya

Redaksi Radar Kudus • Selasa, 24 Juni 2025 | 21:06 WIB

 

LIBURAN: Masyarakat berdiri di mangrove pesisir pantai Pati belum lama ini, rob yang menghantam wilayah pantai mengakibatkan hutan mangrove rusak.
LIBURAN: Masyarakat berdiri di mangrove pesisir pantai Pati belum lama ini, rob yang menghantam wilayah pantai mengakibatkan hutan mangrove rusak.

PATI - Gelombang rob yang terus menghantam pesisir utara Kabupaten Pati telah memperparah kerusakan benteng alam hutan mangrove di Desa Tunggulsari, Tayu.

Luas hutan benteng alami yang dulunya mencapai 15 hektare sebelum tahun 2020, kini hanya tersisa sekitar 7,5 hektare akibat abrasi yang terus berlangsung.

Ketua Kelompok Mangrove Desa Tunggulsari Karnawi menjelaskan, kerusakan mulai terlihat sejak enam tahun terakhir.

Tingginya gelombang pasang yang datang silih berganti menyebabkan pohon-pohon mangrove mati dan lahan pesisir terkikis.

“Dulu luasnya mencapai 15 hektare, tapi sejak tahun 2020 mulai rusak karena rob yang terus-menerus. Sekarang tersisa sekitar 7 hektare,” ungkap Karnawi.

Berbagai upaya telah dilakukan warga untuk menyelamatkan kawasan tersebut.

Di antaranya dengan memasang patok pemecah gelombang dan menanam lebih dari 50 ribu bibit mangrove setiap tahunnya.

Namun, semua usaha tersebut belum mampu mengatasi keganasan gelombang laut dan cuaca ekstrem.

“Kita sudah pasang pemecah gelombang dan tanam puluhan ribu bibit tiap tahun, tapi kalau gelombang tinggi datang, banyak yang mati,” tambahnya.

Tak hanya warga, kalangan akademisi juga turut membantu.

Universitas Negeri Semarang (Unnes) bersama Dinas Pendidikan pernah menjalankan program mitigasi dengan membuat pemecah gelombang.

Namun, proyek itu pun gagal bertahan karena terjangan gelombang yang semakin besar.

“Kemarin ada program dari Dinas Pendidikan dan Unnes, tapi pemecah gelombangnya rusak lagi karena gelombang tinggi,” ujar Karnawi.

Melihat kondisi yang semakin mengkhawatirkan, Kepala Desa Tunggulsari, Setyo Wahyudi, menyatakan bahwa rob bukan lagi persoalan musiman, melainkan bencana yang mengancam masa depan warganya.

“Ini bukan sekadar musibah biasa. Abrasi sudah nyata terjadi, tak hanya di Tunggulsari tapi juga desa-desa lain di Kecamatan Tayu,” katanya.

Setyo pun berharap adanya lang kah konkret dari pemerintah, baik di tingkat daerah maupun pusat.

Ia mengusulkan pembangunan pemecah ombak permanen dan normalisasi sungai sebagai bagian dari solusi jangka panjang untuk menanggulangi dampak rob yang semakin parah. (Andre Faidhil Falah)

Editor : Ali Mustofa
#pemecah gelombang #pati #rob #abrasi #mangrove