PATI - Warga Kecamatan Batangan menginginkan mengolah limbah non-B3 PT HWI.
Mereka mempermasalahkan pengelolaan limbah non-B3 pabrik tersebut yang dipercayakan vendor Jepara.
DPRD Pati kemarin menampung aspirasi itu.
"Tadi audiensi dengan HWI. Memang itu terkait dengan pengolahan limbah. Memang dengar kabar, limbah ditangani vendor dari Jepara. Warga sekitar pabrik ingin yang menangani," terang Ketua Komisi C DPRD Pati Joni Kurnianto.
Dari PT HWI, pengolahan limbah non B3 itu dikeluarkan pabrik ada syaratnya. Jadi tak boleh sembarangan.
"Dari PT HWI dijelaskan pengolahan limbah memang dikeluarkan pabrik ada syarat khusus yang diminta customers dari PT HWI," ujarnya.
Karena itu ia meminta PT HWI memikirkan masyarakat setempat. Biar tak ada persoalan seperti itu lagi.
"Kami minta PT HWI minta membimbing. Misalkan pemdes atau bumdes itu membuat pengolahan sampah atau limbah itu ya memang harus membimbing," katanya.
Menurutnya, masyarakat ini jangan dibiarkan. Setidaknya ada peran dari pabrik untuk warga.
"Jadi perusahan harus membimbing bumdes sekitar. Ini untuk bisa membimbing sesuai syarat," paparnya.
Baginya, orang di desa ini tidak paham bagaimana standar perusahaan. Sehingga harus ada bimbingan.
"Jadi kan kita orang desa membuat sesuai standar perusahaan kan tidak bisa. Jadi harus disesuaikan permintaan perusahaan. Syaratnya apa sih. A,b,c,d (perumpamaan syarat limbah). Nah itu harus dibimbing. Kita minta begitu," tandasnya.
Joni pun mendengar kalau warga sempat mengolah limbah selama beberapa bulan. Karena ini ada persoalan, sehingga ia menerima aduan.
"Dari pihak desa ternyata tak bisa memenuhi. Nah, hal-hal ini jangan dibiarkan. Tapi harus dibimbing. Kalau tidak nanti tidak akan ketemu. Investasi ditolak terus," tandasnya.
Lanjut Joni, jangan sampai ada mis komunikasi antara desa dengan pabrik. Jika terjadi gesekan akan terjadi persoalan yang berlarut-larut.
"Kita tidak ingin seperti itu. Kita ingin semuanya buka masalahnya ini harus diselesaikan bersama. Sehingga desa dengan pabrik itu saling mengayomi. Saling mendukung. Saling support bersama. Itu lho. Kami arahkan ke sana," paparnya.
Di samping itu, pihaknya mengerahkan anggotanya untuk menjadi mediator antara pabrik dan desa. Sehingga permasalahan bisa segera teratasi.
"Kami sampaikan dewan sekitar pabrik siap menjadi mediator. Jadi jangan sampai meruncing. Eman-eman. Pabrik itu kita ingin kejar investasi kok. Ini banyak pabrik pada tutup. Ini pabrik berjalan kan alhamdulilah. Kita tadi sudah sepakat," katanya.
Adanya hal itu, ia khawatir akan mengganggu iklim investasi di Bumi Mina Tani. Padahal, bagi dia, pabrik itu bisa bermanfaat untuk masyarakat.
"Karena kami dari Pati pro investasi. Kami ingin punya HWI-HWI yang lain. Pabrik banyak kita pengen," tegasnya. (Andre Faidhil Falah)
Editor : Ali Mustofa