PATI - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pati terus memberikan perhatian lebih terhadap komoditas unggulannya untuk dikembangkan.
Hal ini seperti yang dilakukan pada kelapa kopyor. Kelapa kopyor merupakan buah kelapa yang mengalami kelainan genetik.
Daging buah kelapa kopyor tidak melekat pada cangkang buah kelapa. Kelapa kopyor memiliki kandungan air yang lebih sedikit.
Memiliki daging yang lebih lembut dibandingkan dengan kelapa biasa dengan bentuk gumpalan-gumpalan yang tidak teratur. Kelapa kopyor memiliki aroma yang khas.
Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Pati Nikentri Meiningrum mengungkapkan, saat ini pemerintah daerah tengah mengembangkan kultur embrio kelapa kopyor untuk hasil yang lebih produktif.
Penggunaan metode kultur embrio memungkinkan untuk menghasilkan bibit kelapa kopyor dalam jumlah yang lebih banyak dan berkualitas seragam.
“Kita baru mengembangkan kultur embrio. Kita sudah launching lahan UPTD Tlogowungu seluas 2 hektare nanti bertahap, dengan kultur embrio ini kelapa kopyor yang biasanya satu janjang cuma tiga butir harapannya bisa semua 90 - 100 persen kelapa kopyor, jelas Niken.
Dengan kultur embrio ini menjadi sebuah terobosan untuk menghasilkan produksi buah kepala kopyor yang lebih banyak.
Sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan petani pembudidaya kelapa kopyor ini.
Kalau satu janjang bisa kopyor semua isinya kan lumayan, kelapa kopyor harganya kan mahal, satu butir bisa Rp 40 ribu.
Ini tentu akan memberi nilai tambah bagi petani, lanjutnya.
Saat ini sebagian besar kelapa kopyor dibudidayakan di Kecamatan Tayu dan Dukuhseti. Kelapa kopyor banyak ditanam di pekarangan rumah warga.
Saat ini, lanjut Niken, pihaknya juga sedang gencar memperluas area tanam kelapa kopyor ke kecamatan lainnya.
Kita pengembangan tidak hanya di Kecamatan Dukuhseti yang selama ini dikenal luas, tapi sudah mulai pengembangan sampai Cluwak, Gunungwungkal.
Kalau Cluwak bagus juga. Gunungwungkal belum banyak tapi sudah mulai untuk pengembangan. Gembong juga ada.
Harapan kami semua kecamatan bisa dikembangkan. Yang jelas kopyor ini punya nilai ekonomi tinggi yang harus dikembangkan, papar Niken. (aua/war)
Editor : Ali Mustofa