PATI – Pedagang durian di Kabupaten Pati mengeluhkan kondisi produksi durian musim ini yang terbilang anjlok.
Hal ini akibat dari kondisi cuaca ekstrem di kawasan Pegunungan Muria.
“Tahun ini cuacanya ekstrem di daerah Muria. Sejak Januari – Februari. Produksi durian turun sampai 50 persen. Tahun lalu saya bisa dapat 200 buah setiap hari sekarang tinggal separonya,” keluh Karyono, salah seorang pedagang buah durian di daerah Gunungwungkal ini.
Persoalan cuaca, lanjut Karyono, karena beberapa bulan ini sering terjadi hujan disertai angin kencang. Karena itu menjadikan produksi buah durian turun.
“Ya kondisi ini membuat pasokan durian di sekitar Gunungwungkal ini jadi ikut turun, padahal lagi puncak musimnya tapi stok tidak seperti tahun lalu,” lanjut Karyono.
Selain itu penjualan juga diakui Karyono agak menurun dibandingkan tahun lalu.
Lebih lanjut Karyono mengaku, cuaca ekstrem dan curah hujan yang tinggi membuat kualitas buah durian menurun. Rasanya tak semanis dan seenak bila curah hujan tak setinggi sekarang ini.
“Ketika buah durian agak tua tapi musimnya tidak menentu. Banyak yang tidak berbuah. Kalau berbuah itu gagal, kualitasnya tidak baik,” papar Karyono.
Selain rasanya yang tak seenak biasanya, cuaca ekstrem juga memicu serangan berbagai hama. Mulai dari lalat buah, ulat hingga jamur.
“Biasanya karena musim hujan, rasanya anyep (hambar) keserang ulat atau hama lainnya,” imbuhnya.
Meskipun produksi buah durian terjun bebas, dirinya tetap bersyukur. Dirinya masih bisa mendapatkan pasokan dan bisa mengeruk keuntungan dari raja buah ini.
Dirinya menyediakan buah durian lokal hingga buah premium. Seperti bawor, musang king hingga duri hitam.
“Harga durian bervariasi tergantung jenisnya, kalau durian jenis lokalan dibanderol sekitar Rp 30 ribu sampai Rp 100 ribu. Kalau yang jenis premium seperti Duri Hitam Rp 200 ribu per kilogramnya, Musang King 180-190 ribu, Rp 70-80 ribu untuk jenis Bawor,” pungkasnya. (aua/war)
Editor : Ali Mustofa