Terpampang tulisan Gapura Majapahit di papan sebelah Selatan Pintu. Sisi luar sebelah selatan tertera Gapura Majapahit dilindungi UU RI No.11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya.
Gerbang Majapahit itu berada di tengah permukiman warga. Pintu menghadap selatan. Gerbang itu berada di dalam ruangan kaca. Pagar hijau mengelilinginya.
Raden Bambang Kebo Nyabrang itu anak Sunan Muria. Waktu itu pada abad ke 16-an, Sunan Muria dari Padepokan Ngerang Juwana hendak menuju padepokannya di Muria.
Setelah sampai desa itu (waktu itu masih rawa, Red) dia berhenti karena terhalang sungai.
Juru Pemelihara Cagar Budaya Jateng di Gerbang Majapahit Zaki Artoni melanjutkan Sunan Muria membuat sayembara. Siapa yang bisa membantu dia menyeberang, jika perempuan akan dijadikan istrinya. Jika laki-laki akan dijadikan saudara.
"Singkat cerita Dewi Sapsari membantu menyebrangkan Sunan Muria dengan kerbaunya. Kemudian mereka menikah. Dan mempunyai anak bernama Raden Bambang Kebo Nyabrang " lanjutnya.
Setelah itu, Sunan Muria izin kepada Dewi Sapsari untuk kembali ke padepokannya. Dia kembali ke Gunung Muria. Setelah melahirkan, Dewi Sapsari meninggal.
Singkat cerita, ketika Raden Bambang Kebo Nyabrang meninggal, dia mencari siapa ayahnya. Akhirnya kakeknya memberitahunya bahwa ayahnya Sunan Muria.
"Setelah bertemu ayahnya, Sunan Muria tak percaya begitu saja kalau Raden Bambang ini anaknya. Kemudian diberikan sayembara untuk membuktikannya. Raden Bambang diminta membawa Gerbang Majapahit yang berada di Trowulan, Mojokerto ke Sunan Muria," terangnya.
Sesepuh Desa Muktiharjo Budi Santosa menambahkan, Raden Bambang akhirnya membawa gerbang itu. Gerbang itu dipikul menuju Sunan Muria.
"Karena Raden Bambang punya ilmu kanuragan, dia bisa memikul sendiri gerbang itu. Dia dibantu dengan jin," paparnya.
Di sisi lain, Raden Ronggo yang merupakan murid Sunan Ngerang ingin mempersunting putri Sunan Ngerang, Roro Pujiwat. Dia juga diminta membawa gerbang tersebut sebagai syarat perkawinannya.
"Raden Ronggo setelah sampai Mojokerto baru mengetahui gerbang Majapahit sudah dibawa Raden Bambang. Kemudian dia mengejarnya," terangnya.
Pengejarannya berhasil di desa cikal bakal Dukuh Rendole Desa Muktiharjo itu. Akhirnya terjadi peperangan merebutkan gerbang itu.
"Mereka perang dengan ilmu kanuragannya. Tak ada yang menang dan kalah selama 35 hari," imbuhnya.
Kemudian Sunan Muria turun gunung karena melihat peperangan itu. Dia berusaha menghentikannya.
"Sunan Muria menghentikan peperangan itu. Akhirnya Raden Bambang diakui sebagai anak Sunan Muria. Dan disabda menjadi penjaga gerbang. Sedangkan Raden Ronggo diberikan catek gerbang sebagai bukti telah mendapat gerbang," jelasnya.
Menurutnya, Raden Bambang Kebo Nyabrang ini muksa. Karena tak ada makamnya. Sehingga dipercaya Raden Bambang masih menjaga gerbang itu.
"Masyarakat setempat mengkramatkan tempat itu. Dijadikan punden dengan danyangnya Raden Bambang," terangnya.
Saat ada kegiatan bersih desa, masyarakat mengadakan kegiatan di gerbang itu. Beberapa warga juga menaruh dupa di sana. "Masih ada sampai sekarang masyarakat yang memasang dupa. Aura nemang sedikit terasa di dekat pintu itu," sambung singkat Juru Penjaga Gerbang Zaki.
"Kalau ada orang, istilahnya kejawen kental bisa bertemu Raden Bambang. Dengan semedi atau ritual lainnya. Tapi dipercaya ada sosoknya. Makanya dipundenkan," tutup sesepuh desa Budi Santosa. (adr/war) Editor : Ali Mustofa