Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Jejak Panjang Kerusuhan Persik vs PSIM 2019: Mengapa Persik Terus Terbuang dari Stadion Brawijaya

Mahendra Aditya Restiawan • Kamis, 12 Februari 2026 | 17:30 WIB

 

Stadion Brawijaya
Stadion Brawijaya

RADAR KUDUS - Enam tahun telah berlalu sejak Stadion Brawijaya menjadi saksi salah satu kerusuhan paling kelam di Liga 2 2019.

Namun bagi Persik Kediri, peristiwa itu tak pernah benar-benar usai. Gaungnya masih terasa, bahkan di tengah gemerlap kompetisi BRI Super League 2025/2026.

Ketika Persik kembali dipaksa angkat kaki dari kandang sendiri saat menjamu PSIM Yogyakarta pada pekan ke-21, publik Kediri kembali diingatkan pada satu fakta pahit: sejarah kekerasan suporter bisa menjadi hukuman jangka panjang bagi klub, bahkan ketika generasi pemain dan pengurus sudah berganti.

Baca Juga: Jadwal PSS Sleman vs Deltras FC: Laga Awal yang Bisa Menentukan Nasib Promosi Liga 2


Macan Putih Terusir dari Rumah Sendiri

Penolakan izin laga kandang oleh Polres Kediri Kota bukan kejadian tunggal musim ini. Sebelumnya, Persik juga gagal menggelar pertandingan melawan Madura United dan Persebaya Surabaya di Stadion Brawijaya.

Solusinya selalu sama: mengungsi.

Untuk laga kontra PSIM, panitia pelaksana kembali meminjam Stadion Gelora Joko Samudro, Gresik, sebagai homebase darurat. Secara teknis pertandingan tetap berjalan, namun secara psikologis dan strategis, Persik kehilangan banyak hal.

Bermain jauh dari kandang berarti:


Akar Masalah: Persik vs PSIM, 2 September 2019

Semua berawal dari laga Liga 2 2019 yang seharusnya menjadi ajang silaturahmi. Hubungan Persikmania dan Brajamusti kala itu dikenal cair dan bersahabat. Namun satu malam di Stadion Brawijaya mengubah segalanya.

Kerusuhan pecah usai laga yang dimenangkan Persik 2-0. Lemparan batu, kejar-kejaran, dan bentrokan terbuka terjadi di dalam dan luar stadion. Puluhan orang terluka, kendaraan rusak, dan warga sipil ikut terdampak.

Ironisnya, banyak korban justru bukan bagian dari inti konflik, melainkan pengunjung Taman Wisata Tirtoyoso yang berada tepat di sebelah stadion.


Korban Bukan Sekadar Angka

Sebagian besar korban mengalami luka di bagian kepala akibat lemparan benda keras. Batu seukuran kepalan tangan menjadi “senjata” yang beterbangan di udara.

Sekitar 15 orang mendapat perawatan darurat di lorong pemain Stadion Brawijaya. Korban dengan kondisi lebih berat dilarikan ke RS Bhayangkara Kota Kediri dan RSUD Gambiran II.

Dokter tim Persik saat itu, dr. Iman Taufik, mengungkapkan bahwa sebagian korban mengalami trauma berat, bahkan ada seorang perempuan yang harus diberi oksigen akibat sesak napas karena shock.

Peristiwa ini menegaskan satu hal: kerusuhan sepak bola selalu menelan korban yang lebih luas dari sekadar rivalitas klub.

Baca Juga: PSGC Ciamis Promosi Liga 2, Pelatih: Ini Hasil Kerja Keras, Bukan Keberuntungan


Kesalahan Fatal di Hulu: Manajemen Massa yang Gagal

Investigasi internal panpel mengungkap fakta krusial. Kuota suporter PSIM awalnya hanya 500 tiket untuk dua kelompok, Brajamusti dan Maiden. Angka itu kemudian dinaikkan menjadi 1.000 tiket atas dasar hubungan baik.

Namun realitas di lapangan berkata lain. Lebih dari 2.000 suporter PSIM tiba di Kediri.

Sebelum laga dimulai, gesekan bahkan sudah terjadi antar kelompok suporter PSIM sendiri. Panitia mencoba memisahkan mereka di tribun berbeda, namun ketegangan sudah telanjur membara.

Saat bentrokan terjadi antara Brajamusti dan Curva Nord Persikmania, situasi lepas kendali.

Di titik inilah, satu keputusan longgar berubah menjadi konsekuensi bertahun-tahun.

Baca Juga: RANS Nusantara, Dejan FC, dan PSGC Ciamis Resmi Naik Kasta Liga 2 Championship 2026–2027


Investigasi PT LIB: Kerusakan Fisik dan Psikologis

Dua hari pascakejadian, PT Liga Indonesia Baru (LIB) menurunkan tim investigasi. Mereka menyisir stadion, lokasi pengungsian suporter, mess pemain, hingga Polres Kediri Kota.

Temuannya mencengangkan:

Bagi operator liga, ini bukan sekadar pelanggaran disiplin, melainkan bencana sosial olahraga.

Baca Juga: 57 Pemain Asing di Liga 2 Championship, Didominasi dari Brasil


Dampak Jangka Panjang: Sanksi Tak Tertulis

Meski sanksi formal sudah dijalani kala itu, Persik Kediri seolah menerima hukuman tambahan yang tak tertulis: kehilangan kepercayaan penuh aparat keamanan.

Setiap laga berisiko tinggi langsung masuk kategori rawan. Izin dipersulit. Rekomendasi keamanan diperketat. Dan sedikit saja indikator ancaman muncul, pertandingan dipindahkan.

Dalam konteks BRI Super League musim ini, bayang-bayang 2019 kembali menghantui.


Ironi Hubungan Suporter Hari Ini

Yang menarik, hubungan Persikmania dan Brajamusti saat ini relatif kondusif. Generasi suporter berganti, komunikasi lintas komunitas lebih terbuka, dan kesadaran kolektif meningkat.

Namun sistem keamanan tidak bekerja dengan memori emosional, melainkan rekam jejak.

Satu noda besar di masa lalu cukup untuk membuat aparat memilih pendekatan paling aman: menjauhkan pertandingan dari lokasi sensitif.


Harga Mahal dari Kekerasan Sepak Bola

Kasus Persik vs PSIM menjadi contoh nyata bahwa kerusuhan sepak bola tidak pernah berhenti di satu malam.

Dampaknya menjalar:

Stadion yang seharusnya menjadi ruang publik berubah menjadi zona risiko.

Kerusuhan Persik vs PSIM 2019 bukan sekadar catatan sejarah. Ia adalah luka struktural yang masih memengaruhi kebijakan hari ini.

Selama manajemen keamanan sepak bola Indonesia masih bekerja dengan logika trauma masa lalu, klub seperti Persik akan terus membayar harga dari kesalahan yang mungkin tak lagi mereka lakukan.

Editor : Mahendra Aditya
#psim yogyakarta #psim #Persik vs PSIM #Persik Kediri #stadion brawijaya #Kerusuhan Persik vs PSIM #Persik #stadion brawijaya kediri #stadion brawijaya kota kediri