RADAR KUDUS - Persijap Jepara meninggalkan Stadion Kanjuruhan, Malang, tanpa membawa poin.
Namun, cara mereka kalah justru memantik perbincangan. Dalam laga sarat tensi kontra Arema FC, Senin (2/2) sore, Laskar Kalinyamat tak hanya menghadapi tekanan tuan rumah, tetapi juga keputusan-keputusan krusial yang membentuk arah pertandingan.
Skor akhir 0-1 memang tercatat di papan statistik. Akan tetapi, cerita di balik angka itu jauh lebih kompleks: dua gol Persijap dianulir, tekanan tanpa henti sepanjang laga, serta perjuangan kolektif yang membuat Arema tak pernah benar-benar nyaman.
Awal Berani: Persijap Menggebrak Sejak Menit Pertama
Berstatus tim tamu tak membuat Persijap bermain aman. Justru sebaliknya, sejak peluit awal dibunyikan, Borja Herrera dan kolega langsung menggebrak.
Intensitas tinggi, pressing agresif, dan keberanian menekan garis pertahanan Arema menjadi ciri permainan mereka di 10 menit awal.
Hasilnya langsung terasa. Baru lima menit laga berjalan, Borja Herrera sukses menjebol gawang Arema. Stadion sempat terdiam sebelum akhirnya wasit mengangkat bendera—offside. Gol itu dianulir, tetapi pesan Persijap sudah tersampaikan: mereka datang bukan untuk bertahan.
Setelah momen tersebut, ritme permainan tetap dikendalikan oleh Persijap. Bola lebih sering mengalir di kaki para gelandangnya, dengan Aly Ndom beberapa kali mencoba mengirim umpan vertikal untuk memecah blok pertahanan Singo Edan.
Dominasi Tanpa Gol
Persijap terus membangun tekanan melalui bola mati. Sepak pojok demi sepak pojok dilancarkan, memaksa lini belakang Arema bekerja ekstra.
Charlos Franca tak hanya fokus menjaga area pertahanan, tetapi juga aktif naik membantu transisi di lini tengah.
Peluang kembali hadir pada menit ke-24. Borja Herrera melepas tembakan jarak jauh yang mengarah ke sudut gawang. Sayang, bola hanya melenceng tipis. Arema selamat, tetapi tekanan belum berhenti.
Di sisi lain, Arema mengandalkan serangan balik cepat. Beberapa kali tusukan sayap mereka membahayakan, namun kiper Persijap, Sendri Johansyah, tampil solid. Refleks cepat dan pengambilan posisi yang tepat membuat sejumlah peluang Arema mentah sebelum berkembang.
Gol Tak Terduga Arema
Ketika Persijap terlihat lebih dominan, justru Arema yang mencetak gol. Menit ke-36 menjadi titik balik. Rio Fahmi melepaskan tembakan dari luar kotak penalti. Bola mengenai tubuh Hansamu Yama Pranata, berubah arah, dan mengecoh Sendri Johansyah.
Gol defleksi itu membuat Arema unggul 1-0—sebuah keunggulan yang terasa kontras dengan jalannya pertandingan. Hingga turun minum, skor tak berubah, meski Persijap tetap mencoba mencari celah.
Babak Kedua: Intensitas Naik, Emosi Memuncak
Memasuki paruh kedua, Persijap menaikkan tempo. Kombinasi cepat antarlini kembali diperagakan. Iker Guarrotxena dan Borja Herrera menjadi poros serangan, saling bertukar posisi untuk menarik bek Arema keluar dari area ideal.
Usaha keras itu kembali membuahkan gol—atau setidaknya hampir. Pada menit ke-59, Charlos Franca sukses mengoyak jala Arema setelah menerima aliran bola dari Borja dan Guarrotxena. Namun sekali lagi, gol dianulir karena offside.
Keputusan itu memicu reaksi keras. Pemain Persijap melayangkan protes, bangku cadangan ikut memanas, dan atmosfer stadion berubah tegang. Wasit tetap pada keputusannya. Pertandingan pun berubah menjadi duel fisik dan mental.
Tekanan Tanpa Henti, Hasil Tak Berpihak
Di sisa waktu, Persijap seperti menolak menyerah. Serangan demi serangan dilancarkan, baik melalui umpan pendek maupun crossing dari sisi sayap. Masuknya Sudi di 10 menit terakhir memberi tambahan energi dan variasi serangan.
Arema memilih bertahan lebih dalam, menjaga keunggulan tipis mereka. Delapan menit tambahan waktu seolah menjadi kesempatan terakhir bagi Persijap. Bola lebih sering berada di area pertahanan tuan rumah, tetapi penyelesaian akhir tetap menjadi masalah.
Peluit panjang akhirnya berbunyi. Skor 1-0 bertahan. Arema meraih kemenangan, sementara Persijap harus menerima kekalahan yang terasa pahit—bukan karena minim peluang, melainkan karena peluang yang tak diakui.
Kalah dengan Kepala Tegak
Meski pulang tanpa poin, penampilan Persijap memberi pesan penting. Mereka mampu tampil agresif di kandang lawan, mendominasi fase-fase permainan, dan menunjukkan karakter sebagai tim yang tak mudah ditekan.
Dua gol yang dianulir akan menjadi bahan evaluasi sekaligus refleksi. Namun, performa kolektif, disiplin bertahan, dan keberanian bermain terbuka menjadi modal berharga untuk laga-laga berikutnya.
Di papan klasemen, Persijap memang masih tertahan di peringkat ke-16 BRI Super League. Namun jika konsistensi permainan seperti ini bisa dijaga, posisi tersebut bukan cerminan kualitas sebenarnya.
Editor : Mahendra Aditya