Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Suram! 14 Pemain Baru, Hasil Tetap Sama, Apa Masalah PSIS Semarang Sebenarnya?

Mahendra Aditya Restiawan • Senin, 19 Januari 2026 | 08:10 WIB

 

Suporter PSIS saat mendukung tim kesayangannya.
Suporter PSIS saat mendukung tim kesayangannya.

RADAR KUDUS - Semarang – Stadion Jatidiri yang biasanya menjadi benteng kebanggaan PSIS Semarang berubah menjadi saksi malam paling mengecewakan musim ini.

Bermain di hadapan pendukung sendiri pada pekan ke-16 Pegadaian Championship 2025/26, Sabtu (17/1/2026), Laskar Mahesa Jenar justru dipermalukan Deltras FC dengan skor telak 0-3.

Alih-alih bangkit dan menegaskan kebangkitan setelah tambahan amunisi baru, PSIS justru tampil tanpa arah.

Baca Juga: Jafri Sastra Blak-Blakan Akar Kekalahan PSIS Semarang dari Deltras FC: Disiplin Permainan dan Strategi Tak Jalan di Lapangan

Kekalahan ini bukan sekadar soal skor, melainkan cerminan rapuhnya disiplin dan fokus tim yang seharusnya tampil lebih matang.

Deltras FC langsung menunjukkan niatnya sejak awal pertandingan. Baru berjalan sepuluh menit, gawang PSIS sudah jebol lewat aksi Neville Mbanwei.

Gol cepat itu membuat ritme permainan PSIS goyah. Upaya merespons memang terlihat, tetapi lebih banyak berhenti di sepertiga akhir lapangan tanpa penyelesaian berarti.

Hingga turun minum, skor 0-1 tetap bertahan. Namun, alih-alih bangkit di babak kedua, PSIS justru semakin kehilangan kendali.

Lini pertahanan yang diharapkan tampil lebih solid malah membuka ruang bagi Deltras untuk terus menekan.

Baca Juga: Rumor Bursa Transfer: Persela Bidik Eks PSIS Luan Sergio Luan Sergio

Neville Mbanwei kembali mencatatkan namanya di papan skor pada menit ke-84, memanfaatkan kelengahan lini belakang PSIS.

Penderitaan tuan rumah ditutup oleh Kaka Reda yang mencetak gol ketiga Deltras di masa injury time, menit ke-90+8. Skor 0-3 pun mengakhiri malam kelam PSIS di Jatidiri.

Hasil ini terasa semakin menyakitkan karena datang di tengah ekspektasi tinggi publik Semarang. Manajemen PSIS sebelumnya aktif di bursa transfer, mendatangkan sejumlah pemain anyar, termasuk pemain asing yang diharapkan menjadi pembeda. Namun, di atas lapangan, perubahan itu tak tampak.

Pelatih PSIS, Jafri Sastra, tampil terbuka dan ksatria usai pertandingan. Ia tak mencari kambing hitam dan memilih mengambil tanggung jawab penuh atas kekalahan telak tersebut.

“Ini hasil yang sangat tidak baik. Kami sudah berusaha, tapi tetap kalah. Sebagai pelatih kepala, ini tanggung jawab saya,” ujar Jafri dalam konferensi pers pascalaga.

Jafri mengungkapkan bahwa dirinya sudah mencoba melakukan penyesuaian di babak kedua. Pergantian pemain dilakukan dengan harapan menghadirkan energi baru.

Baca Juga: FULL TIME! Gagal Kudeta Barito, PSS Sleman Ditahan Imbang Persela 1-1

Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Struktur permainan semakin berantakan, dan disiplin pemain menurun drastis.

“Kami mencoba rotasi agar lebih segar, berharap ada perubahan. Tapi yang terjadi malah terbalik. Disiplin kami hilang. Apa yang kami latih tidak muncul di pertandingan,” kata Jafri dengan nada kecewa.

Menurutnya, masalah utama PSIS bukan terletak pada kualitas individu, melainkan pada aspek fundamental: fokus, disiplin, dan kepatuhan terhadap skema. Tanpa tiga hal tersebut, strategi sebaik apa pun tak akan berjalan.

Kekalahan dari Deltras menjadi alarm keras bagi PSIS. Bukan hanya karena bermain di kandang sendiri, tetapi juga karena lawan yang dihadapi datang dengan status tim tamu dan mampu tampil jauh lebih efektif. Deltras bermain sederhana, disiplin, dan tahu kapan harus menghukum kesalahan lawan.

Pengamat menilai laga ini sebagai potret perbedaan mental bertanding. Deltras tampil dengan kepercayaan diri dan kesabaran, sementara PSIS terlihat terburu-buru dan kehilangan organisasi permainan setelah tertinggal.

“PSIS seperti kehilangan identitas ketika ditekan. Mereka tidak sabar, mudah terpancing, dan akhirnya membuka celah sendiri,” ujar salah satu analis Pegadaian Championship.

Situasi ini membuat posisi PSIS di klasemen sementara Grup 2 semakin terjepit. Hingga pekan ke-16, mereka masih tertahan di peringkat ke-9 dengan koleksi delapan poin—posisi yang belum sepenuhnya aman dari ancaman degradasi.

Baca Juga: Igor Lagi-Lagi Jadi Penyelamat! Gol Sundulan Menit Akhir Antar Persiku Tekuk Persiba 2-1

Tekanan pun dipastikan semakin besar. Jadwal PSIS ke depan tidak ramah. Mereka akan menghadapi Persela Lamongan dan Kendal Tornado FC, dua tim papan atas yang dikenal konsisten dan disiplin.

Jafri menyadari bahwa waktu untuk berbenah sangat terbatas. Evaluasi menyeluruh menjadi keharusan, bukan pilihan.

“Lawan berikutnya tim-tim di atas kami. Mereka pasti lebih siap. Kami harus belajar dari kekalahan ini dan segera berbenah,” tegasnya.

Kekalahan ini juga memunculkan pertanyaan besar: apakah tambahan pemain baru cukup untuk mengangkat performa PSIS jika masalah mental dan disiplin belum teratasi? Tanpa fondasi tersebut, perubahan komposisi pemain hanya akan menjadi tambalan sementara.

Bagi suporter PSIS, malam di Jatidiri menjadi pengingat pahit bahwa kebangkitan tak bisa dibangun instan. Dibutuhkan konsistensi, kerja keras, dan terutama fokus penuh sepanjang pertandingan.

Deltras FC pulang dengan kemenangan meyakinkan dan kepercayaan diri tinggi. Sementara PSIS ditinggalkan dengan pekerjaan rumah besar—bukan hanya soal taktik, tetapi juga soal karakter tim dalam menghadapi tekanan.

Editor : Mahendra Aditya
#klasemen liga 2 #hasil PSIS Semarang #psis #PSIS Semarang #deltras fc sidoarjo #deltras fc #Liga 2 #jafri sastra