RADAR KUDUS - Tabir gelap di balik pemecatan mendadak Ruben Amorim dari kursi manajer Manchester United mulai terkuak. Laporan terbaru mengungkapkan bahwa friksi hebat antara Amorim dan manajemen INEOS bukan sekadar soal hasil di lapangan, melainkan konflik fundamental terkait kebijakan rekrutmen pemain.
Amorim, yang hanya bertahan singkat di Old Trafford, dikabarkan murka setelah tujuh target transfer utamanya diblokir oleh jajaran direksi.
Ketegangan ini mencapai puncaknya setelah hasil imbang 1-1 melawan Leeds United, di mana Amorim secara terbuka menuntut otoritas penuh sebagai "manajer" ketimbang sekadar "pelatih kepala."
Baca Juga: Mimpi Jadi Manajer MU Terwujud, Darren Fletcher Naik Jabatan
Visi yang Bertabrakan: Data vs Insting Pemenang
Akar permasalahan bermula dari perbedaan filosofi. Amorim mendesak klub untuk mendatangkan pemain matang bermental juara guna menstabilkan tim.
Sebaliknya, Direktur Olahraga Jason Wilcox dan Kepala Rekrutmen Christopher Vivell tetap teguh pada strategi berbasis data yang memprioritaskan pemain muda dengan nilai investasi jangka panjang.
Berikut adalah tujuh pemain kunci yang menjadi pemicu keretakan hubungan kedua belah pihak:
1. Krisis Penjaga Gawang: Emiliano Martinez
Amorim mengidentifikasi posisi kiper sebagai titik lemah utama di tengah performa buruk Andre Onana. Ia meminta klub menebus Emiliano Martinez dari Aston Villa seharga £40 juta.
Meski kiper juara dunia itu siap pindah, manajemen INEOS menolak karena faktor usia Martinez yang sudah 33 tahun. Sebagai gantinya, MU mendatangkan kiper muda Senne Lammens (£18 juta), sebuah keputusan yang dipandang Amorim sebagai pengabaian terhadap kebutuhan mendesak tim.
2. Perjudian Lini Depan: Ollie Watkins vs Benjamin Sesko
Untuk posisi ujung tombak, Amorim menginginkan Ollie Watkins yang dinilai sudah teruji di Liga Inggris. Namun, manajemen lebih memilih berinvestasi pada Benjamin Sesko senilai £74 juta.
Taruhan ini terbukti belum membuahkan hasil; Sesko baru membukukan empat gol dari 18 laga, sementara Watkins terus bersinar di klubnya.
Baca Juga: Alejandro Garnacho Like Unggahan Fabrizio Romano Tentang Ruben Amorim Dipecat Manchester United
3. Blokade Empat Pemain Sporting CP (Trauma Ten Hag)
Dampak psikologis dari kegagalan era Erik ten Hag sangat terasa dalam bursa transfer kali ini. Manajemen MU dilaporkan menolak semua rekomendasi pemain yang berasal dari mantan klub Amorim, Sporting CP, karena trauma akan "koneksi Ajax" yang gagal di masa lalu. Empat pemain tersebut adalah:
-
Geovany Quenda: Wonderkid 18 tahun ini ditolak karena dianggap memiliki profil serupa Amad Diallo. Akibat keraguan MU, Quenda akhirnya diamankan Chelsea senilai £42 juta.
-
Morten Hjulmand: Dipandang Amorim sebagai jangkar lini tengah ideal, namun ditolak petinggi klub yang lebih memilih menunggu hingga musim panas 2026.
-
Ousmane Diomande & Salvador Blopa: Keduanya dianggap vital untuk skema tiga bek Amorim, namun dicoret dari daftar karena latar belakang klub mereka.
4. Ambisi di Posisi Wing-back: Nuno Mendes
Nama terakhir adalah bintang PSG, Nuno Mendes. Amorim yakin kualitas teknis Mendes akan menyempurnakan sisi kiri pertahanannya.
Namun, manajemen menilai biaya transfer terlalu tinggi dan memilih alternatif yang lebih murah, Patrick Dorgu dari Lecce.
Dampak Pasca-Pemecatan
Kepergian Amorim meninggalkan "warisan" skuad yang dianggap tidak padu oleh banyak pengamat. Saat ini, Manchester United tertahan di peringkat tujuh klasemen, berjarak tipis dengan papan tengah.
Kegagalan menyelaraskan keinginan manajer dengan visi rekrutmen direksi kini menjadi sorotan tajam bagi para suporter. Publik Old Trafford kini bertanya-tanya: apakah nasib Setan Merah akan berbeda jika tujuh pemain incaran Amorim tersebut benar-benar mendarat di Carrington? (*)
Editor : Ali Mustofa