RADAR KUDUS - Pergantian pelatih di tengah musim kerap dibaca sebagai sinyal panik. Namun bagi PSMS Medan, keputusan mengakhiri kerja sama dengan Kas Hartadi dan menunjuk Eko Purdjianto justru mencerminkan kalkulasi dingin: klub legendaris Sumatra Utara ini tak ingin terjebak lebih lama di pusaran papan bawah Pegadaian Championship 2025/2026.
Langkah itu diumumkan Rabu (7/1/2026). Kas Hartadi resmi dilepas setelah serangkaian hasil yang dinilai tak mencerminkan potensi tim.
Tak berselang lama, manajemen memperkenalkan Eko Purdjianto sebagai nahkoda baru hingga akhir musim. Pesannya tegas: PSMS ingin bangkit sekarang, bukan nanti.
Baca Juga: Bukan Striker Mahal, Tapi Efektif: Ryo Watanabe Masuk Radar Kabau Sirah
Masalah PSMS musim ini bukan sekadar hasil. Lebih dalam, permainan Ayam Kinantan kehilangan identitas. Transisi lambat, intensitas naik-turun, dan daya gigit di sepertiga akhir tak konsisten.
Dengan 17 poin dari 14 laga, PSMS terdampar di posisi ketujuh Grup 1—jarak dengan zona degradasi hanya tiga poin. Margin kesalahan kian tipis.
Di sinilah pergantian pelatih menjadi relevan. Manajemen menilai Kas Hartadi gagal menaikkan level permainan, bukan sekadar gagal menang.
Dalam kompetisi seketat Championship, performa adalah mata uang utama. Tanpa tanda-tanda peningkatan, risiko terjun bebas selalu mengintai.
Eko Purdjianto datang dengan profil berbeda. Ia bukan pelatih yang gemar sorotan, tetapi kaya pengalaman di ruang taktik dan pembinaan.
Baca Juga: Gegara Insiden Tendangan Kungfu, Liga 4 Butuh Standar Nasional yang Tegas
Jejaknya sebagai asisten pelatih Timnas Indonesia kelompok usia membentuk reputasi: disiplin, detail, dan kuat dalam manajemen pemain muda. PSMS berharap DNA itu menular cepat.
Target Eko jelas dan terukur: mengangkat kualitas permainan agar PSMS kembali bersaing di papan atas Grup 1.
Bukan janji promosi instan, melainkan pemulihan performa yang berkelanjutan. Di Championship, konsistensi sering kali lebih menentukan daripada ledakan sesaat.
Tantangan Eko tidak ringan. Ia mewarisi tim dengan tekanan psikologis tinggi. Setiap laga terasa final. Kesalahan kecil berpotensi mahal.
Di sisi lain, skuad PSMS memiliki materi yang seharusnya lebih kompetitif dari posisi saat ini. Di titik ini, sentuhan pelatih menjadi pembeda.
Pengalaman Eko membawa Persis Solo promosi ke Liga 1 pada 2021 menjadi referensi penting.
Kala itu, ia dikenal mampu merapikan struktur tim dan mengoptimalkan peran pemain.
Baca Juga: PSIS Semarang All-In di Bursa Transfer, 14 Pemain Baru, Tujuannya Bertahan di Liga 2
Bukan kebetulan jika manajemen PSMS menilai rekam jejak itu relevan dengan kondisi Ayam Kinantan sekarang.
Namun angle yang kerap luput dibahas adalah waktu. PSMS bergerak sebelum segalanya terlambat.
Banyak klub menunggu hingga krisis membusuk; PSMS memilih memotong risiko lebih awal. Ini bukan sekadar pergantian figur, melainkan sinyal perubahan cara berpikir manajemen.
Kompetisi Grup 1 Championship musim ini memang ketat. Dua tim teratas, Garudayaksa dan Adhiyaksa, terus saling sikut di puncak.
Artinya, ruang untuk mengejar masih ada, asalkan PSMS segera menemukan ritme. Satu rangkaian kemenangan bisa mengubah peta klasemen secara drastis.
Baca Juga: 14 Pemain Baru, Proyek Ambisius PSIS Semarang Demi Bertahan di Liga 2
Bagi suporter, keputusan ini menghadirkan harapan baru. Namun harapan itu realistis: publik Medan tak menuntut keajaiban instan, melainkan permainan yang lebih terarah dan berani.
PSMS dikenal sebagai klub dengan basis suporter kritis—mereka cepat membaca perubahan di lapangan.
Eko Purdjianto juga membawa keuntungan non-teknis: kredibilitas di mata pemain. Statusnya sebagai mantan langganan Timnas Indonesia saat aktif bermain memberi bobot tersendiri.
Di ruang ganti, otoritas pelatih kerap menentukan seberapa cepat instruksi diterjemahkan menjadi aksi.
Ke depan, indikator keberhasilan Eko tak hanya diukur dari poin, tetapi dari cara PSMS bermain. Apakah intensitas meningkat?
Apakah lini tengah lebih hidup? Apakah pressing kembali menjadi ciri? Jawaban atas pertanyaan itu akan terlihat dalam beberapa pekan.
Jika PSMS mampu merespons pergantian ini dengan cepat, Championship bisa berubah dari ancaman menjadi peluang.
Namun jika tidak, langkah berani ini akan tercatat sebagai perjudian yang gagal. Risiko selalu ada—dan PSMS memilih mengambilnya sekarang.
Editor : Mahendra Aditya