RADAR KUDUS - Manchester United kembali menegaskan reputasinya sebagai klub yang tak pernah sepi gejolak. Ruben Amorim resmi dipecat dari kursi pelatih kepala, mengakhiri masa jabatan 14 bulan yang sarat tarik-menarik kepentingan di balik layar.
Keputusan itu bukan semata soal hasil di lapangan, melainkan perang otoritas internal yang berujung pada hilangnya kepercayaan manajemen.
Pelatih asal Portugal itu angkat kaki setelah konflik terbuka dengan hierarki klub terkait kebijakan transfer, yang memuncak usai laga imbang melawan Leeds.
Dalam momen emosional tersebut, Amorim melontarkan kritik tajam terhadap departemen rekrutmen, menuntut agar mereka “menjalankan tugasnya” dengan lebih serius.
Bagi manajemen Manchester United, pernyataan itu bukan sekadar luapan frustrasi, melainkan garis merah yang tak bisa ditoleransi.
Baca Juga: Fabrizio Romano: Valid! Ruben Amorim di Pecat Manchester United
Janji Transfer yang Tak Pernah Datang
Salah satu sumber utama keretakan hubungan Amorim dengan petinggi klub adalah perbedaan tafsir soal dukungan transfer. Amorim meyakini United siap bergerak agresif di bursa Januari jika ada pemain kunci tersedia. Namun realitas berkata lain.
“Hampir tidak ada pembicaraan soal perubahan skuad,” ujar Amorim pada Jumat lalu—pernyataan yang menjadi sinyal publik bahwa ia kehilangan kendali atas arah pembangunan tim.
Relasinya dengan direktur sepak bola Jason Wilcox disebut memburuk. Wilcox, yang bertanggung jawab langsung kepada CEO Omar Berrada, diyakini memegang kendali penuh atas kebijakan transfer.
Dalam struktur ini, Amorim merasa posisinya direduksi: bertanggung jawab atas hasil, tetapi minim suara dalam pembentukan skuad.
Baca Juga: Ruben Amorim Dikabarkan Dipecat Manchester United, Keputusan Disebut Dibuat Hari Ini
Head Coach atau Manajer? Identitas yang Dipersoalkan
Di Manchester United, Amorim memegang titel “head coach”, bukan “manager” seperti tradisi klub sebelumnya. Perbedaan istilah itu ternyata berdampak besar.
“Saya datang ke sini untuk menjadi manajer Manchester United, bukan sekadar pelatih,” ujar Amorim dalam satu pernyataan paling kontroversialnya. Ia bahkan menegaskan tidak akan mundur, kecuali klub memutuskan menggantinya.
Ironisnya, pernyataan itulah yang justru mempercepat kepergiannya.
Bagi manajemen, sikap tersebut menunjukkan ketidaksinkronan visi. United menilai Amorim terlalu kaku dalam menuntut otoritas penuh, sementara klub ingin fleksibilitas demi keberlanjutan jangka panjang.
Taktik Kaku, Hasil Tak Meyakinkan
Di atas lapangan, rapor Amorim juga jauh dari meyakinkan. Musim lalu, ia mencatatkan finis terburuk Manchester United di era Premier League: peringkat ke-15 dengan 42 poin. United juga gagal di final Liga Europa, memperpanjang puasa prestasi Eropa.
Padahal, klub telah menggelontorkan belanja bersih sekitar £165 juta untuk mendukung proyek Amorim, termasuk mendatangkan Benjamin Šeško, Bryan Mbeumo, dan Matheus Cunha. Investasi besar itu tak berbanding lurus dengan performa tim.
Amorim tetap bersikeras pada skema favoritnya, 3-4-3 dengan tiga bek, formasi yang dulu membawanya sukses di Sporting.
Namun di Inggris, pendekatan itu kerap dipertanyakan. Ia bahkan sempat berseloroh bahwa “bahkan Paus pun tak bisa membuatnya berubah”.
Ketika hasil tak kunjung stabil, keyakinan berubah menjadi keras kepala di mata petinggi klub.
Kritik Publik dan Hilangnya Kepercayaan
Retakan makin melebar ketika Amorim menyentil pengaruh pundit eksternal terhadap kebijakan klub. Ia menyindir bahwa opini pengamat seperti Gary Neville seolah lebih didengar dibanding suara pelatih sendiri.
Pernyataan tersebut dianggap sebagai serangan tidak langsung terhadap struktur pengambilan keputusan klub, sekaligus menyingkap ketegangan internal yang selama ini tersimpan.
Di titik itu, hierarki United diyakini kehilangan keyakinan bahwa Amorim adalah solusi jangka panjang—terlebih karena pemain-pemain incarannya dinilai tidak cocok jika klub berganti pelatih dalam waktu dekat.
Dukungan yang Menguap
Menariknya, pada Oktober lalu, salah satu pemilik klub, Sir Jim Ratcliffe, sempat menyatakan Amorim layak dinilai setelah tiga tahun.
Namun realitas sepak bola modern bergerak cepat. Ketika stabilitas internal terancam, waktu menjadi kemewahan yang tak dimiliki pelatih.
Meski performa tim sempat membaik dan naik ke peringkat enam, jarak poin yang tipis—hanya empat angka dari posisi ke-14—menunjukkan rapuhnya fondasi.
Amorim hanya memenangkan 15 dari 46 laga liga, statistik yang sulit dipertahankan sebagai pembenaran.
Babak Baru, Masalah Lama
Dengan kepergian Amorim, Manchester United kini berburu pelatih tetap ketujuh sejak era Sir Alex Ferguson berakhir pada 2013. Sebuah angka yang mencerminkan krisis identitas berkepanjangan.
Untuk sementara, Darren Fletcher akan memimpin tim saat menghadapi Burnley. Namun pertanyaan besarnya tetap sama: apakah masalah United benar-benar soal pelatih, atau soal struktur kekuasaan yang terus berbenturan dengan figur di pinggir lapangan?
Editor : Mahendra Aditya