RADAR KUDUS - Derby della Madonnina selalu jadi panggung emosi — dan laga dini hari tadi menunjukkan mengapa duel ini disebut salah satu derby paling bergengsi di dunia.
Di hadapan puluhan ribu penonton di Stadion Giuseppe Meazza, AC Milan keluar sebagai pemenang mutlak berkat satu momen krusial dari Christian Pulisic yang mengguncang seluruh stadion.
Inter datang sebagai tuan rumah dengan dominasi penguasaan bola sejak menit pertama. Serangan bertubi-tubi, pressing tinggi, dan ritme agresif membuat Milan seperti terkunci di pertahanan. Namun, pertandingan sepak bola tidak selalu dimenangkan oleh tim yang paling dominan — tetapi oleh tim yang paling memanfaatkan momentum.
Babak Pertama: Dominasi Inter Dibalas Pertahanan Solid Milan
Sejak peluit awal, Inter langsung menguasai permainan. Thuram dan Lautaro terus menggempur, Barella dan Calhanoglu mengirim umpan-umpan tajam, sementara gelombang serangan seakan tidak berhenti.
Milan memilih strategi berbeda: disiplin, rapat, dan menunggu celah. Rossoneri menumpuk pemain di lini belakang dan mengandalkan transisi cepat setiap kali Inter kehilangan bola.
Hasilnya? Inter boleh mendominasi penguasaan bola, tapi tak satu pun peluang berbuah gol hingga turun minum. Babak pertama berakhir 0-0, tapi tensi sudah mendidih.
Babak Kedua: Satu Peluang, Satu Gol, Satu Nama — Christian Pulisic
Ledakan emosi terjadi saat pertandingan memasuki menit ke-54.
Kemelut di depan gawang Inter dimulai dari tembakan Milan yang mampu ditepis Sommer, namun bola muntah jatuh di kaki Christian Pulisic. Dalam sepersekian detik, pemain berpaspor Amerika itu mengambil keputusan:
Tendangan keras ke arah gawang — tepat, cepat, dan tak terbendung.
Gol! Milan unggul 1-0.
Stadion pecah — sebagian dalam sorak kemenangan, sebagian lagi tenggelam dalam keheningan yang frustratif.
Drama Penalti: Momen Penyelamatan Mike Maignan yang Menentukan
Tak rela kalah di kandang sendiri, Inter meningkatkan intensitas permainan. Puncak tekanan terjadi di menit ke-69 ketika VAR menangkap pelanggaran Strahinja Pavlovic terhadap Marcus Thuram di kotak terlarang.
Wasit menunjuk titik putih. Pendukung Inter bersorak. Inilah momen untuk menyamakan kedudukan.
Hakan Calhanoglu maju sebagai algojo. Ia sudah berulang kali mengeksekusi penalti tanpa kesalahan musim ini.
Tapi malam tadi berbeda.
Tendangan keras ke sisi kanan dibaca sempurna oleh Mike Maignan. Penyelamatan itu menjadi titik balik emosional — bukan hanya mencegah Inter menyamakan skor, tetapi menghancurkan momentum tuan rumah.
Seusai kegagalan penalti itu, Inter terus menyerang, namun pertahanan Milan terlalu disiplin untuk ditembus. Peluit panjang berbunyi: skor bertahan 1-0.
Efek Klasemen: Milan Naik, Inter Tertekan
Dengan tambahan tiga poin dramatis ini:
• AC Milan kini naik ke posisi kedua klasemen Serie A dengan 27 poin — hanya beda dua angka dari Napoli di puncak.
• Inter harus rela tertahan di posisi keempat dengan 24 poin.
Kemenangan ini bukan hanya soal gengsi derby — tetapi bisa menjadi titik balik perebutan gelar musim 2025/26.
Susunan Pemain
Inter Milan: Sommer; Akanji, Acerbi, Bastoni; Carlos Augusto, Barella, Calhanoglu (Zieliski 78'), Sucic, Dimarco; Thuram, Lautaro Martinez (Bonny 66')
AC Milan: Maignan; Tomori, Gabbia, Pavlovic; Saelemaekers, Fofana (Ricci 78'), Modric, Rabiot, Bartesaghi; Pulisic (Nkunku 78'), Leao
Analisis Singkat Mengapa Pulisic Layak Disebut “Pembeda”
Bukan hanya karena ia mencetak gol. Tetapi karena kejelian membaca momen dan mentalitas besar dalam laga besar. Saat pertandingan terjebak kebuntuan, Pulisic mengeksekusi peluang kecil menjadi hasil besar — sesuatu yang menghantarkan pemain ke status big match player.
Editor : Mahendra Aditya