RADAR KUDUS - Lionel Messi tak hanya bersiap menghadapi laga penting saat Inter Miami berjumpa Paris Saint-Germain (PSG) di babak 16 besar Piala Dunia Antarklub FIFA 2025 akhir pekan ini.
Lebih dari sekadar pertandingan, ini adalah bentrokan batin antara masa lalu yang penuh luka dan masa kini yang sedang ia nikmati.
Bagi Messi, laga kontra PSG bukan cuma tentang menang, tapi tentang harga diri.
Pertemuan Penuh Emosi: Messi vs Klub yang Pernah Ia Tinggalkan Tanpa Salam
Ini akan menjadi kali pertama Messi menghadapi mantan klubnya sejak meninggalkan PSG secara diam-diam dan penuh ketegangan pada pertengahan 2023.
Ketika ia hijrah ke Amerika Serikat untuk membela Inter Miami, tidak ada perpisahan emosional, tidak ada upacara perpisahan, bahkan tidak ada tepuk tangan. Messi pergi dalam keheningan — dan banyak yang menilai, juga dalam kekecewaan.
Hubungannya dengan PSG memang tak pernah hangat. Ia sempat dihujat oleh fans, bahkan dicemooh di kandang sendiri.
Klub juga sempat menjatuhkan sanksi setelah Messi absen latihan demi memenuhi kontrak sponsor ke Arab Saudi.
Bahkan ketika Argentina menjuarai Piala Dunia 2022 dengan mengalahkan Prancis, PSG tidak menunjukkan selebrasi apapun untuk menghormatinya.
Kini, Messi kembali — bukan sebagai tamu biasa, tapi sebagai lawan yang punya banyak urusan belum selesai.
Baca Juga: Eks PSG Jerôme Rothen Sebut Lionel Messi Tidak Menghormati Siapapun Saat di PSG
Dari Krisis Jadi Kuda Hitam: Kebangkitan Tak Terduga Inter Miami
Yang membuat kisah ini makin dramatis, Inter Miami sempat nyaris terpuruk.
Hanya sebulan lalu, klub MLS ini tenggelam dalam tujuh laga tanpa kemenangan, kebobolan 20 gol, dan Messi terlihat frustrasi, bahkan mendapatkan kartu kuning berturut-turut karena perdebatan dengan wasit.
Namun dalam sekejap, semuanya berubah. Miami bangkit, mengalahkan FC Porto, dan meraih hasil imbang melawan raksasa Afrika Al Ahly dan klub elit Brasil Palmeiras.
Kini, mereka berada di babak gugur dan telah mengantongi lebih dari $21 juta dari hadiah uang. Jika berhasil menyingkirkan PSG, mereka akan meraup tambahan $13 juta lagi.
PSG: Raksasa Eropa yang Semakin Menakutkan Setelah Era Messi
Namun tantangan mereka tidak main-main. PSG kini menjelma menjadi kekuatan murni Eropa.
Setelah menghancurkan Inter Milan 5-0 di final Liga Champions dan mengalahkan Atletico Madrid serta Seattle Sounders di fase grup Piala Dunia Antarklub, klub asal Prancis ini tampak nyaris tak terbendung.
Dengan skuad bertabur bintang seperti Ousmane Dembele, Achraf Hakimi, Marquinhos, hingga rising star seperti Desire Doue dan Bradley Barcola, PSG bukan hanya favorit—mereka monster.
Menariknya, PSG baru mulai menemukan kestabilan justru setelah kepergian Messi, Neymar, dan Kylian Mbappé. Luis Enrique, pelatih yang pernah membesut Messi, kini dipercaya menjadi arsitek kebangkitan mereka.
Reuni Penuh Intrik: Enrique, Mascherano, dan Para Sahabat Lama
Pertandingan ini juga mempertemukan Enrique dengan para eks pemain Barcelona yang kini berada di Miami: Messi, Busquets, Jordi Alba, dan Luis Suarez.
Bahkan sang pelatih Inter Miami, Javier Mascherano, pernah menjadi anak asuh Enrique di Camp Nou.
“Luis Enrique bukan sekadar pelatih. Ia mentor dan teman,” ujar Mascherano. “Saya bersyukur bisa menghadapi sosok yang pernah sangat berpengaruh dalam karier saya. Tapi di hari pertandingan, semua hubungan itu akan saya simpan dulu.”
Suarez, yang menjadi Man of the Match dalam laga melawan Palmeiras, juga menyebut Enrique sebagai salah satu pelatih terpenting dalam hidupnya, bersama Oscar Tabarez dari Uruguay.
Messi Tak Lagi Diam: Miami Adalah Rumah Sebenarnya
Dalam wawancara beberapa bulan setelah pindah ke Inter Miami, Messi mengungkap betapa bahagianya hidup di Florida.
Ia menyebut adaptasi dengan kehidupan di Miami sangat mudah dan penuh kehangatan, jauh berbeda dengan masa-masa sulitnya di Paris.
“Keputusan ini kami buat sebagai keluarga. Di Paris, segalanya rumit. Tapi di sini, kami disambut dengan tangan terbuka,” ucap Messi.
Pernyataan itu tak hanya memperlihatkan kepuasan pribadi, tapi juga mengisyaratkan betapa tidak nyamannya ia dulu bersama PSG.
Laga Penentu: Dendam atau Damai?
Meski Jordi Alba menepis isu bahwa Messi punya dendam pribadi terhadap PSG, atmosfer pertandingan menunjukkan sebaliknya.
Ini adalah panggung besar yang bisa menjadi penebusan atau penegasan — apakah Messi memang lebih dari sekadar legenda lama, atau hanya bayangan dari masa lalu.
Satu hal pasti: dunia akan menyaksikan duel antara tim terkaya Eropa melawan mimpi liar dari Amerika.
Messi punya kesempatan emas untuk mengukir kisah epik: menjatuhkan mantan klub yang pernah mengabaikannya, dan membuktikan bahwa kebahagiaan bisa ditemukan di tempat yang tak disangka-sangka.
Kick-off: Minggu, 29 Juni 2025 | Lokasi: Mercedes-Benz Stadium, Atlanta | Tonton di: DAZN & TNT
Editor : Mahendra Aditya