Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Dihajar Arsenal 3-0, Real Madrid Masih Percaya Remontada di Bernabeu — Tapi Kali Ini Terasa Berbeda

Mahendra Aditya Restiawan • Kamis, 17 April 2025 | 05:20 WIB

 

Declan Rice - Arsenal
Declan Rice - Arsenal

RADAR KUDUS - Real Madrid baru saja mengalami salah satu kekalahan paling memalukan mereka di Liga Champions dalam beberapa tahun terakhir.

Bertandang ke Emirates Stadium dalam laga leg pertama perempat final, mereka dipermalukan Arsenal dengan skor telak 3-0.

Dua gol dari Declan Rice dan satu gol Mikel Merino menjadi bukti keunggulan mutlak tim asuhan Mikel Arteta.

Namun, seperti yang sudah menjadi tradisi di klub raksasa Spanyol itu, tak butuh waktu lama bagi mereka untuk kembali berbicara soal “comeback”.

Usai peluit panjang dibunyikan, Lucas Vazquez langsung menghampiri suporter Madrid yang memenuhi tribun tamu dan memberi isyarat optimistis: mereka akan membalikkan keadaan di leg kedua di Santiago Bernabeu.

Pesan serupa juga disampaikan oleh Kylian Mbappe, Jude Bellingham, bahkan pelatih Carlo Ancelotti.

“Kami bisa bangkit. Tapi kami harus lebih rendah hati dan melakukan sesuatu yang luar biasa. Dan jika ada tempat untuk melakukannya, ya di rumah kami sendiri,” ujar Bellingham dengan nada yakin.

Baca Juga: Arsenal Bantai Real Madrid 3-0! Tapi Sejarah Buktikan Comeback di Bernabéu Bukan Omong Kosong


Sejarah yang Membebani

Real Madrid memang punya rekam jejak luar biasa dalam membalikkan keadaan di Liga Champions.

Dari membungkam PSG dalam waktu 15 menit pada musim 2021-22, hingga dua gol Joselu di masa injury time saat lawan Bayern Munich musim lalu, cerita comeback adalah bagian dari DNA klub ini.

Namun, kali ini berbeda. Kekalahan telak 0-3 tanpa gol tandang menjadi beban besar. Terakhir kali Madrid mencoba membalikkan defisit tiga gol adalah melawan Borussia Dortmund di musim 2012-13 — dan gagal.

Satu-satunya comeback dari ketertinggalan tiga gol yang benar-benar sukses terjadi hampir 40 tahun lalu, saat Emilio Butragueño membawa Madrid membalikkan skor 0-3 menjadi kemenangan 6-1 atas Anderlecht di Piala UEFA 1984-85.


Masalah Struktural: Dari Fisik Hingga Strategi

Apa yang membuat kekalahan dari Arsenal terasa lebih mengkhawatirkan adalah kenyataan bahwa banyak masalah lama kembali muncul — bahkan memburuk.

Real Madrid kebobolan tiga gol, dua di antaranya dari skema bola mati. Arsenal mencatatkan 11 tembakan tepat sasaran dari total 12 — tingkat efektivitas tertinggi dalam sejarah pertandingan Eropa mereka.

Dan bila bukan karena penyelamatan luar biasa Thibaut Courtois, skor bisa jauh lebih memalukan.

Jude Bellingham dan David Alaba bahkan harus melakukan penyelamatan di garis gawang. “Kami beruntung hanya kebobolan tiga gol,” aku Bellingham.

Secara total, Madrid sudah kebobolan 11 gol dalam empat laga terakhir mereka. Opta mencatat, Madrid kini menjadi tim dengan jumlah kebobolan tertinggi kedua di La Liga musim ini di semua kompetisi — 61 gol dalam 52 laga — hanya kalah dari Real Valladolid.


Cedera dan Kedalaman Skuad yang Menipis

Lini pertahanan Madrid benar-benar pincang. Lima pemain absen: Dani Carvajal, Eder Militao, Ferland Mendy, Dani Ceballos (cedera) dan Aurelien Tchouameni (suspensi).

Ancelotti terpaksa menurunkan David Alaba di posisi bek kiri meski sang pemain baru pulih dari cedera lutut parah dan tak bermain di posisi itu selama dua musim.

Kondisi fisik juga jadi masalah lain. Alaba dan Federico Valverde disebut mengalami ketidaknyamanan selama pertandingan. Sementara itu, lini depan Madrid tampil tanpa gairah dan nyaris tanpa ide.

Hanya Mbappe yang punya dua tembakan ke arah gawang. Vinicius Junior dan Rodrygo bahkan tak sekalipun melepaskan tembakan tepat sasaran.

“Di babak kedua kami seperti lupa cara bermain bola,” kata Courtois frustrasi.


Mentalitas yang Dipertanyakan

Bukan hanya kesalahan teknis atau taktik yang jadi sorotan. Carlo Ancelotti bahkan secara terbuka mengkritik mental anak asuhnya.

“Kenapa saya merasa kesulitan menanamkan ambisi di tim ini?” katanya pasca-laga.

Ancelotti juga menyinggung soal masalah utama musim ini: kurangnya kerja kolektif, terutama saat tanpa bola.

Para pemain bintang di lini depan dinilai kurang kontribusi saat bertahan. Dan melawan Arsenal, kelemahan itu terekspos habis-habisan.

Tak heran, Madrid kini sudah menelan 11 kekalahan di semua kompetisi — sembilan kali lebih banyak dari musim lalu. Jumlah yang menggambarkan krisis konsistensi dan karakter.


Masih Percaya Keajaiban, Tapi Realistis

Optimisme masih ada. Di balik segala kekacauan, Bernabeu tetap menjadi tempat magis bagi Real Madrid. Kisah-kisah epik masa lalu akan kembali diceritakan, harapan akan kembali dinyalakan.

Namun, bahkan bagi klub sekelas Madrid, membalikkan defisit 3-0 dengan performa seperti ini bukan hal yang mudah.

Bahkan bisa dikatakan mustahil — jika tak ada perubahan besar.

Jika mereka ingin bangkit dan menyalakan kembali semangat “Spirit of Juanito”, maka leg kedua nanti bukan hanya soal taktik, tapi juga soal keberanian, tekad, dan rasa malu untuk menyerah begitu saja.

Madrid boleh punya sejarah penuh keajaiban. Tapi kali ini, mereka harus menciptakan sesuatu yang lebih dari sekadar comeback — mereka harus membuktikan bahwa mereka masih layak disebut Raja Eropa.

Editor : Mahendra Aditya
#Comeback Real Madrid #prediksi real madrid arsenal #real madrid #Ancelotti Real Madrid #Preview Real Madrid vs Arsenal #Cedera pemain Real Madrid #Prediksi Real Madrid vs Arsenal #Statistik pertahanan Arsenal #arsenal #Arsenal semifinal Liga Champions #Remontada Real Madrid #real madrid vs arsenal