RADAR KUDUS - Siapa sangka, di balik megahnya sejarah klub raksasa Liga Italia, AC Milan, berdiri sosok asing yang justru berasal dari luar negeri.
Dialah Herbert Kilpin, pria kelahiran Nottingham, Inggris, yang menjadi tokoh sentral di balik pendirian Associazione Calcio Milan pada 13 Desember 1899.
Dilansir dari Bleacher Report, Kilpin bukan hanya sekadar pendiri. Ia adalah arsitek awal yang meletakkan dasar filosofi permainan, manajemen klub, hingga identitas warna yang kini melekat erat dalam tubuh Rossoneri: merah dan hitam.
Baca Juga: Kisah Serie A: Asal-Usul Nama Derby della Madonnina dalam Laga Ac Milan vs Inter Milan
Awal Perjalanan Kilpin: Dari Industri Renda ke Dunia Sepak Bola
Kilpin mulai mengenal sepak bola sejak usia 13 tahun saat tinggal di Nottingham. Ia tercatat pernah bermain untuk klub lokal seperti Notts Olympic dan St. Andrews sembari bekerja di industri renda.
Takdir kemudian mempertemukannya dengan Edoardo Bosio, pengusaha asal Turin yang kala itu bekerja di perusahaan tekstil Thomas Adams di Inggris.
Persahabatan keduanya berkembang, dan pada tahun 1887, Bosio mengajak Kilpin untuk bergabung dengannya di Italia.
Tawaran itu membuka jalan bagi Kilpin untuk menjadi salah satu pemain Inggris pertama yang tampil di luar negeri.
Bosio mendirikan klub Internazionale Torino dan menjadikan Kilpin sebagai salah satu pilar. Namun seiring berjalannya waktu, Kilpin menyadari perlunya sebuah klub yang lebih profesional. Pandangan itu mendorongnya untuk mendirikan klub baru berbasis di Milan.
Misi Besar: Membangun Sepak Bola Modern di Italia
Setibanya di Milan, Kilpin membawa semangat pembaruan. Ia tak hanya ingin membentuk klub, tetapi juga mentransformasi wajah sepak bola Italia yang kala itu masih bersifat amatir dan berorientasi pada gaya permainan gimnasium.
Baca Juga: Kisah Serie A: Asal-Usul Nama Derby della Madonnina dalam Laga Ac Milan vs Inter Milan
Dalam buku The Lord of Milan karya Robert Nieri, disebutkan bahwa Kilpin mulai memperkenalkan sistem taktik, pembentukan formasi, program diet, dan latihan kebugaran – sesuatu yang belum pernah dilakukan klub Italia saat itu.
Bersama rekannya sesama Inggris, seperti Samuel Richard Davies dan David Allison, Kilpin meletakkan fondasi profesionalisme dalam klub barunya.
Kilpin tak hanya menjadi pelatih dan pemain, tetapi juga pencipta identitas visual AC Milan. Warna merah dan hitam yang kini menjadi ciri khas Rossoneri adalah hasil visinya.
“Kami akan menjadi tim iblis. Warna kami merah seperti api, dan hitam untuk menakut-nakuti lawan,” ucap Kilpin, sebagaimana dikutip dari laman resmi klub.
Kilpin dan Awal Dominasi Rossoneri
Hanya dalam waktu satu setengah tahun sejak didirikan, AC Milan langsung menunjukkan tajinya.
Pada 5 Mei 1901, klub tersebut menjuarai liga Italia untuk pertama kalinya usai mengalahkan Genoa dengan skor telak 3-0 di Ponte Carrega.
Selebrasi kemenangan pertama itu diadakan di markas awal AC Milan, Fiaschetteria Toscana di Via Berchet, Milan.
Kilpin sendiri mencatatkan tujuh gol dari 23 pertandingan selama sembilan tahun berseragam Rossoneri.
Namun warisannya jauh lebih besar dari sekadar angka. Ia telah menciptakan DNA klub yang terus dijaga hingga kini.
Tongkat Estafet Sejarah: Dari Inggris ke Italia, dari Kilpin ke Berlusconi
Kiprah AC Milan tak terhenti pada era Kilpin. Klub ini terus berkembang menjadi salah satu kekuatan paling berpengaruh di Eropa.
Nama-nama besar seperti Alfred Edwards, presiden Inggris pertama AC Milan, hingga Andrea Rizzoli, yang membawa klub menjuarai European Cup pada 1963, menjadi bagian dari perjalanan agung Rossoneri.
Era keemasan datang bersama Silvio Berlusconi, presiden tersukses dalam sejarah klub.
Di bawah kepemimpinannya, lahir generasi emas yang dilatih oleh tokoh-tokoh visioner seperti Arrigo Sacchi, Fabio Capello, hingga Carlo Ancelotti.
Gaya main yang atraktif dan inovatif membawa Milan ke puncak kejayaan, termasuk tiga final Liga Champions berturut-turut antara 1993–1995 dan kemenangan spektakuler atas Barcelona pada 1994.
Sacchi bahkan membawa tiga pemain AC Milan — Van Basten, Gullit, dan Rijkaard — mendominasi Ballon d'Or tahun 1988, disusul dominasi Van Basten, Baresi, dan Rijkaard pada 1989.
Baca Juga: Kisah Seria A: Legenda AC Milan yang Dianggap Gila karena Tolak Pindah ke Real Madrid
Era Modern: Kembali ke Jalur Juara
Pasca era Capello dan Ancelotti, Milan sempat tenggelam dalam ketidakstabilan. Namun titik balik terjadi saat Stefano Pioli dipercaya menangani tim pada 2019.
Pioli membangun kembali identitas permainan Milan usai masa transisi pasca kepergian Marco Giampaolo.
Di bawah arahannya, AC Milan tampil konsisten dan akhirnya menjuarai Serie A musim 2021/22, mengakhiri penantian panjang selama lebih dari satu dekade.
Prestasi AC Milan Sepanjang Masa
Sebagai salah satu klub tersukses di dunia, AC Milan telah mengoleksi:
Liga Champions: 7 kali
Serie A: 19 kali
Piala Dunia Antarklub: 1 kali
UEFA Super Cup: 5 kali
Winners Cup: 2 kali
Coppa Italia: 5 kali
Piala Super Italia: 7 kali
Sejarah Rossoneri terus berlanjut, dengan semangat dan visi yang tak pernah padam.
Namun di balik seluruh trofi dan kejayaan tersebut, nama Herbert Kilpin akan selalu berdiri tegak sebagai pendiri dan bapak spiritual AC Milan – seorang pria Inggris yang membangun mimpi Italia.
Editor : Ali Mustofa