JEPARA – Persijap Jepara telah memastikan diri promosi ke Liga 1 musim depan setelah mengakhiri kompetisi Liga 2 musim 2024/2025 sebagai juara ketiga.
Hanya saja, lolosnya Persijap dalam meraih tiket promosi itu juga harus dibayar mahal.
Lantaran, Komisi Disiplin PSSI menjatuhi denda kepada Persijap atas penyalaan flare dengan jumlah banyak di stadion usai pertandingan melawan PSPS Pekanbaru 25 Februari lalu di Stadion Gelora Bumi Kartini (GBK) Jepara.
Persijap disanksi atas tiga pelanggaran. Dengan nominal denda Rp 135 juta.
Diketahui, laga tersebut memang jadi penentuan bagi Laskar Kalinyamat, julukan Persijap untuk memastikan diri bertahan di Liga 2 musim depan, atau promosi ke Liga 1.
Hasilnya, Persijap mampu meraih kemenangan 1-0 atas tamunya PSPS Pekanbaru.
Kemenangan itu pula yang mengantarkan Persijap meraih tiket promosi ke Liga 1 musim depan.
Usai pertandingan rampung, suporter yang hadir di Stadion GBK Jepara langsung menyalakan flare serentak.
Itu sebagai wujud suka cita kembalinya Persijap ke kasta teratas Liga Indonesia setelah 11 tahun menanti.
Sayangnya, suka cita itu berujung denda dari Komdis PSSI.
Tercatat, ada tiga pelanggaran Persijap di laga melawan PSPS Pekanbaru 25 Februari lalu.
Antaranya, tidak menyediakan pengawalan kepulangan bagi perangkat pertandingan di stadion.
Keamanan pertandingan merupakan tanggung jawab panpel, sehingga kelalaian ini dianggap sebagai pelanggaran.
Atas pelanggaran itu, panpel Persijap didenda Rp 10 juta.
Pelanggaran selanjutnya adalah aksi penyalaan flare dalam jumlah besar oleh pendukung Persijap di stadion.
Penggunaan flare dilarang karena dapat mengganggu jalannya pertandingan serta membahayakan pemain dan penonton lainnya. Atas pelanggaran itu, Persijap didenda Rp 100 juta.
Tak hanya pelanggaran penyalaan flare, Persijap juga dikenai denda sebesar Rp 25 juta lantaran terdapat suporter yang masuk ke area lapangan setelah pertandingan dengan membawa bendera kelompok pendukung.
Tindakan ini dinilai mengancam keamanan dan ketertiban selama pertandingan.
Dengan begitu, Persijap harus rela mengeluarkan Rp 135 juta untuk membayar denda tersebut.
Manajer Persijap Jepara Egatsaca Wijaya mengakui, usai pertandingan atas PSPS Pekanbaru rampung, semua publik di Jepara memang mengalami euphoria berlebih.
Namun, dengan adanya denda itu, menurutnya bisa jadi pelajaran ke depannya agar tak terulang.
”Di balik kesenangan kami semua, sangat disayangkan juga. Karena sanksi yang masuk ke kami cukup besar dendanya. Jadi itu sangat disayangkan. Karena seharusnya kami bisa memberikan contoh yang baik untuk sepak bola Indonesia,” ujar Egat kemarin. (rom)
Editor : Ali Mustofa