Langgeng Culture Center Selenggarakan Manaqib Nagari di Lereng Muria dalam Festival Muria Raya 2026

Eko Santoso • Dipublikasikan Kamis, 3 September 2026 | 15:50 WIB
BERBUDAYA: Mawlana Jawi menggaungkan "Sastra Gendhing” yang dipentaskan dalam rangkaian Manaqib Nagari: Persembahan Para Salik untuk Negeri.

 
BERBUDAYA: Mawlana Jawi menggaungkan "Sastra Gendhing” yang dipentaskan dalam rangkaian Manaqib Nagari: Persembahan Para Salik untuk Negeri.  
 

Bersama Mawlana Jawi menggaungkan "Sastra Gendhing”

NASIONAL- Dari khazanah sastra dan spiritualitas Mataram Islam, musik kembali menemukan jalan menuju panggung kontemporer. Hal tersebut dihadirkan melalui “Sastra Gendhing”, karya musik Mawlana Jawi, yang dipentaskan dalam rangkaian Manaqib Nagari: Persembahan Para Salik untuk Negeri

Kegiatan tersebut merupakan program yang digagas oleh Langgeng Culture Center pada pembukaan malam puncak Cakramanggilingan Festival Muria Raya 2026, Sabtu, 29 Agustus 2026, di Desa Jepalo, lereng Gunung Muria, Pati.

“Sastra Gendhing” merupakan bagian dari perjalanan artistik Mawlana Jawi dalam mengembangkan praktik penciptaan musik yang berangkat dari khazanah intelektual Islam dan Nusantara.

Dalam proses kreatifnya, Mawlana Jawi mengeksplorasi hubungan antara musik, sastra Jawa, tasawuf, manuskrip klasik, dan tradisi lisan. Salah satu sumber penting eksplorasinya adalah Serat Sastra Gendhing, karya Sultan Agung Hanyakrakusuma, yang menjadi salah satu titik temu antara pengetahuan, spiritualitas, sastra, dan musik dalam tradisi Mataram.

Sejak 2022, eksplorasi tersebut telah dikembangkan melalui sejumlah karya, antara lain “Gema dan Suara”, “Alif (Sastro Gending)”, dan “La Ta’ayyun Sastro Gending”. 

Pada 2026, perjalanan tersebut berkembang melalui laboratorium Musik Suluk Sultan Agung, sebuah inisiatif artistik dan kebudayaan yang mengembangkan penciptaan, interpretasi, dokumentasi, serta diseminasi pengetahuan Mataram Islam secara interpretatif.

Dalam pertunjukan di Jepalo, “Sastra Gendhing” hadir dalam format musik kontemporer bersama Deny Dumbo pada percussion & synthesizer serta Danar Agung pada bass & gitar, mempertemukan bunyi-bunyian modern dengan gagasan yang berakar pada khazanah Jawa-Islam.

Bagi Langgeng Culture Center, pertemuan tersebut penting karena kebudayaan tidak semestinya hanya menjadi museum bagi masa lalu.

“Yang kami rawat bukan sekadar bentuk tradisinya, tetapi pengetahuan dan kebijaksanaan yang berada di balik tradisi itu. Ketika pengetahuan tersebut diterjemahkan kembali ke dalam musik kontemporer, dapat menemukan cara baru untuk dibaca kembali kepada manusia hari ini,. apa yang masih dapat kita dengarkan dari masa lalu, ketika sebuah negeri sedang mencari kembali arah gagasan kenegaraannya?” ujar W. Sanavero, MA, Direktur Langgeng Culture Center.

Menurutnya Manaqib Nagari: Persembahan Para Salik untuk Negeri merupakan program kebudayaan Langgeng Culture Center yang mempertemukan seni pertunjukan, sastra, musik, spiritualitas, dan pembacaan sejarah sebagai cara untuk merefleksikan perjalanan kehidupan bersama. 

"Program ini dikembangkan sebagai ruang tadabbur tentang manusia, negeri, spiritualitas, ingatan, dan arah kehidupan bersama," jelasnya. 

Dalam kerangka Manaqib Nagari, musik menjadi salah satu cara untuk melakukan tadabbur terhadap perjalanan peradaban. Musik tidak hanya diperlakukan sebagai hiburan, tetapi sebagai medium untuk mendengarkan kembali ingatan yang mungkin mulai jauh dari kesadaran masyarakat.

Di titik ini, “Sastra Gendhing” tidak dimaksudkan sebagai upaya untuk mengagungkan masa lalu Mataram. Namun menjadi usaha untuk mendengar kembali resonansi pengetahuan Mataram dalam kehidupan Indonesia hari ini.

Pertemuan antara manuskrip, suluk, musik, sastra, dan teknologi bunyi tersebut memperlihatkan bahwa warisan intelektual Nusantara masih dapat bergerak dan bertransformasi tanpa harus kehilangan akar sejarahnya.

Pementasan “Sastra Gendhing” di lereng Muria sekaligus mempertemukan dua lanskap kebudayaan. Yakni Muria sebagai ruang spiritual dan kultural masyarakat pesisir Jawa, serta Mataram sebagai salah satu sumber penting tradisi intelektual Jawa-Islam. (tos)

Editor : Eko Santoso
maulana jawi langgeng Culture Center sastra gendhing Jawa-Islam Budaya