RADAR KUDUS – Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Jombang, Jawa Timur, memasuki fase penting pada Sabtu (29/8/2026) malam.
Setelah rangkaian pembahasan dalam sejumlah komisi, perhatian peserta kini mengarah pada agenda pemilihan Rais Aam dan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
Muktamar yang dipusatkan di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, tersebut berlangsung sejak 27 hingga 31 Agustus 2026.
Sebanyak 2.232 delegasi mengikuti rangkaian permusyawaratan organisasi terbesar di kalangan warga Nahdliyin tersebut.
Sidang pleno yang menjadi forum pemilihan Rais Aam dan Ketua Umum PBNU dijadwalkan berlangsung mulai sekitar pukul 19.30 WIB.
Sebelum memasuki agenda tersebut, peserta terlebih dahulu mengikuti persidangan komisi yang membahas berbagai hal, mulai dari program kerja, rekomendasi hingga persoalan organisasi.
Salah satu nama yang turut menjadi perhatian dalam bursa calon Ketua Umum PBNU adalah KH Muhammad Yusuf Chudlori atau yang akrab disapa Gus Yusuf.
Profil Gus Yusuf
KH Muhammad Yusuf Chudlori lahir di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, pada 9 Juli 1973.
Ia dikenal sebagai ulama, pendakwah, budayawan sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo, Magelang.
Gus Yusuf merupakan putra dari KH Chudlori, pendiri Pondok Pesantren API Tegalrejo yang didirikan pada 1944.
Kiprahnya dalam mengasuh pesantren semakin besar setelah sang kakak, KH Abdurrahman Chudlori atau Mbah Dur, wafat pada 2011.
Setelah itu, Gus Yusuf dipercaya menjalankan sejumlah tugas dalam pengelolaan pesantren, termasuk menangani hubungan antar-lembaga.
Pesantren Tegalrejo sendiri memiliki sejarah panjang dalam pendidikan keislaman dan pernah menjadi tempat menimba ilmu sejumlah tokoh nasional, termasuk Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.
Perjalanan Pendidikan
Gus Yusuf mulai memperdalam pendidikan agama di lingkungan pesantren setelah menyelesaikan pendidikan dasar pada 1985.
Ia kemudian menimba ilmu di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, hingga 1994.
Perjalanan menuntut ilmunya berlanjut ke sejumlah pesantren lainnya, antara lain Pesantren Salafiyah Kedung Banteng, Purwokerto, serta Pesantren Salafiyah Bulus, Kebumen.
Setelah kembali ke Tegalrejo, Gus Yusuf aktif mengajar di pesantrennya.
Ia juga dikenal sebagai pendakwah yang cukup aktif mengisi berbagai kegiatan keagamaan, mulai dari pengajian tingkat lokal hingga forum yang berskala lebih luas.
Perkembangan teknologi turut dimanfaatkannya untuk menyampaikan dakwah.
Selain berdakwah secara langsung, Gus Yusuf juga aktif menyampaikan pesan keagamaan melalui berbagai platform digital dan media sosial.
Kiprah di Nahdlatul Ulama
Selain mengurus pesantren dan berdakwah, Gus Yusuf memiliki perjalanan panjang dalam organisasi NU.
Ia pernah dipercaya menduduki posisi wakil ketua Rabithah Ma'ahid Islamiyah (RMI) PBNU.
Keterlibatannya dalam organisasi keagamaan tersebut menjadi salah satu bagian penting dari perjalanan pengabdiannya.
Gus Yusuf dikenal aktif membawa isu pendidikan pesantren serta penguatan peran lembaga keagamaan dalam kehidupan masyarakat.
Pernah Terjun ke Politik
Nama Gus Yusuf juga tidak asing dalam dunia politik nasional. Kiprahnya dimulai pada era Reformasi 1998 ketika ia ikut terlibat dalam berbagai gerakan masyarakat dan mahasiswa.
Pada periode tersebut, ia kemudian mengikuti langkah Mbah Dur untuk terlibat dalam Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), partai yang didirikan bersama Gus Dur.
Gus Yusuf pernah memimpin DPC PKB Kabupaten Magelang pada 1999 hingga 2007.
Dalam dinamika internal partai, ia juga sempat dipercaya sebagai pejabat sementara Ketua DPW PKB Jawa Tengah.
Pada 2013, ia kembali dipercaya menduduki posisi Ketua DPW PKB Jawa Tengah.
Namun, setelah bertahun-tahun aktif dalam politik praktis, Gus Yusuf memilih meninggalkan jabatan struktural di PKB.
Keputusan tersebut berkaitan dengan keinginannya untuk lebih fokus mengembangkan pesantren, termasuk rencana pembangunan ma'had aly dan SMK di IKN, sekaligus memperkuat pengabdian melalui NU.
Ia kemudian mengundurkan diri dari struktur PKB dan keputusan tersebut diumumkan secara resmi kepada publik pada 2026.
Aktif di Dunia Seni dan Budaya
Tidak hanya dikenal melalui aktivitas keagamaan dan politik, Gus Yusuf juga memiliki perhatian terhadap seni serta kebudayaan.
Ia ikut menggelar kegiatan seni budaya bertajuk Suran Tegalrejo yang diselenggarakan secara rutin. Gus Yusuf juga terlibat dalam aktivitas Komunitas Lima Gunung bersama sejumlah pegiat seni dan budaya.
Festival tersebut menjadi ruang pertemuan berbagai seniman dan budayawan dari dalam maupun luar negeri.
Keterlibatan Gus Yusuf menunjukkan bahwa aktivitasnya tidak hanya berkutat pada dunia pesantren, tetapi juga menyentuh bidang kebudayaan.
Di sisi lain, ia juga mengelola Radio Fast FM yang menyasar pendengar dari kalangan masyarakat, termasuk generasi muda.
Dengan latar belakang sebagai pengasuh pesantren, pendakwah, tokoh NU, budayawan, dan mantan politisi, Gus Yusuf menjadi salah satu nama yang turut diperhitungkan dalam dinamika bursa calon Ketua Umum PBNU pada Muktamar ke-35 NU di Jombang.
Editor : Ali Mustofa